Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

INTERNASIONAL

Israel Musuh Kami (5) : Kerja Sama Apik Mossad dengan Lembaga Intelijen dari Negara Lain 

 

ASSAJIDIN.COM — Ternyata Mossad tidak selalu sendirian dalam melakukan aksinya menghabisi target atau sasaran.

Sebuah Surat Kabar terkemuka di Amerika Serikat (AS) Washington Post melaporkan Badan Intelijen AS, CIA, dan Badan intelijen Israel, Mossad, telah berkolaborasi membunuh Komandan Hizbullah Imad Mughniyeh lewat serangan bom mobil pada Februari 2008 di Damaskus, Suriah.

 

Komandan Hizbullah Imad Mughniyeh. (Foto : Antara News)

 

Namun AS tidak pernah mengakui perannya dalam pembunuhan itu. Padahal mantan pejabat AS yang berbicara kepada Washington Post dengan identitas yang disembunyikan telah mengkonfirmasi keterlibatan CIA.

Mengutip mantan pejabat intelijen, Washington Post melaporkan bahwa CIA dan Mossad bekerjasama untuk membunuh Imad Mughniyeh, kepala operasi internasional Hizbullah pada 12 Februari 2008 sesaat ia meninggalkan sebuah restoran di Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Dalam laporannya tersebut, Mughniyeh tewas seketika menyusul ledakan bom saat ia mendekati mobilnya.

Laporan itu mengatakan bom itu dipasang pada ban serep di bagian belakang mobil yang diparkir.

Bom tersebut dibuat dan telah diuji AS di negara bagian North Carolina, dan dipicu dari jarak jauh oleh agen Mossad di Tel Aviv yang bekerjasama dengan CIA.

“Bom tersebut dibuat AS, AS bisa saja menolak dan membatalkannya, tapi tidak bisa melaksanakannya,” ujar mantan pejabat intelijen AS.

Mantan pejabat AS menambahkan bahwa CIA dan Mossad telah melacak keberadaan Mughniyeh di Damaskus selama berbulan-bulan sebelum pembunuhan itu dan bekerja sama untuk menentukan dimana bom itu harus ditempatkan, sebagaimana diberitakan Hareetz.

Ia juga menyatakan Mossad menjadi yang pertama kali mendekati CIA untuk melakukan operasi bersama membunuh Mughniyeh.

 

Foto : Infografis — SINDONews.com

 

Jaringan Hantu

Setelah melalui pengawasan selama berbulan-bulan, Organisasi Intelijen Nasional (MIT) Turki akhirnya berhasil mengungkap sel “hantu” dari 56 agen badan intelijen Israel, Mossad, yang memata-matai warga negara non-Turki di negara tersebut.

Dalam operasi kolaboratif dengan Cabang Anti-Terorisme dari Departemen Kepolisian Istanbul, unit kontra intelijen MIT menangkap tujuh orang.

Dalam kesaksian tersangka, semuanya mengaku bekerja untuk Mossad.

“Menurut MIT, tujuh tersangka termasuk di antara 56 operator yang terkait dengan total sembilan jaringan, yang masing-masing diawasi oleh sembilan agen Mossad yang berbasis di Tel Aviv dan memiliki kemampuan untuk beroperasi dalam skala internasional,” tulis laporan surat kabar Daily Sabah, dikutip Selasa (4/7/2023).

Dokumen dari MIT juga mengungkapkan bahwa mata-mata itu mengumpulkan intelijen biografi warga negara asing melalui metode perutean online, melacak pergerakan kendaraan melalui GPS, meretas ke jaringan yang dilindungi kata sandi berdasarkan perangkat Wi-Fi dan menemukan lokasi pribadi.

Para operator juga secara fisik mengikuti target tertentu yang ditentukan oleh Mossad untuk mengawasi dan memotret pertemuan satu lawan satu, sebuah operasi yang diawasi oleh seorang Israel asal Arab, Soliman Agbaria.

Menurut temuan MIT, sel tersebut, yang terdiri dari warga dari berbagai negara Timur Tengah, menggunakan beberapa situs web palsu dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Arab, untuk mendapatkan lokasi teknis dan alamat IP asli.

Semua komunikasi antara agen Mossad di Turki dan luar negeri dilakukan melalui saluran telepon seluler sekali pakai yang dimiliki oleh orang-orang palsu di Spanyol, Inggris, Jerman, Swedia, Malaysia, Indonesia, dan Belgia.

Salah satu pemimpin kelompok itu, seorang mata-mata Mossad dengan kode nama “Shirin Alayan” yang identitas aslinya tidak dapat ditentukan oleh MIT, menggunakan saluran telepon Jerman untuk menginstruksikan seorang Palestina bernama “Khaled Nijim” untuk mendirikan platform berita palsu seperti najarland.com, almeshar.com, nasrin-news.com, dan hresource.co.uk.

Situs web ini menampilkan artikel khusus untuk menarik target yang kemudian akan mengklik tautan virus, memungkinkan jaringan untuk menyusup ke ponsel mereka.

MIT juga mengungkapkan unit jaringan Istanbul diberikan pelatihan dunia maya dan dukungan teknis dari jarak jauh oleh Priyanshi Patel Kulhari, pemilik berusia 24 tahun dari perusahaan perangkat lunak mata-mata Cyberintelligence International Private Ltd yang berbasis di Tel Aviv.

Kulhari, yang selalu berhubungan dengan mata-mata Mossad, menentukan cara menyusup ke ponsel target dan artikel berita mana yang akan didorong untuk diklik oleh target.

MIT lebih lanjut menemukan bahwa Mossad mengirim banyak mata-matanya ke berbagai belahan dunia lain. Misalnya ke Lebanon dan Suriah untuk mengumpulkan intelijen dan menandai lokasi yang akan diserang oleh drone bersenjata.

Beberapa agen Suriah dan Lebanon yang bekerja di kota itu juga dikerahkan ke Beirut untuk menjelajahi kotamadya Haret Hreik dan mengumpulkan informasi.

Para agen menemukan koordinat yang tepat untuk sebuah bangunan yang ditempati oleh Hizbullah Lebanon, serta identitas tokoh militer dan politik tingkat tinggi kelompok tersebut yang berada di lantai tiga gedung tersebut.

Selain itu, Mossad mengirim lusinan mata-mata, termasuk warga negara Turki, dalam perjalanan wisata tiga perhentian rahasia ke Serbia, kemudian Dubai, dan terakhir, ibu kota Thailand, Bangkok, tiga tempat yang tidak memerlukan visa bagi warga negara Turki.

Di Bangkok, para agen akan dibawa ke pusat Mossad untuk mempelajari spionase.

MIT juga mengetahui bahwa Mossad mengembangkan metode yang terlalu rumit dan melakukan berbagai operasi di Istanbul untuk menghindari intelijen Turki.

Mossad juga disebut mengadakan biro di berbagai bidang bisnis di Malaysia, Indonesia, dan Swedia, semua operasi dikelola dari ibu kota Israel.

Abu Muhammad al-Masri. (Foto : Long War Journal)

Ditembak Mati

Agustus silam seorang pria ditembak mati di tengah jalan di ibu kota Iran, Teheran, saat bersama puterinya.

Awalnya media-media melaporkan bahwa korban merupakan seorang akademisi asal Lebanon.

Belakangan ketahuan, dia adalah Abu Muhammad al-Masri, orang nomor dua di jaringan teror, al-Qaeda.

Lihat Juga :  Kolaborasi KBRI Tokyo di Enoshima Bali Sunset di Pulau Enoshima, Fujisawa

Kabar kematian al-Masri akhirnya terendam oleh derasnya pemberitaan ledakan di pelabuhan Lebanon yang terjadi tiga hari sebelumnya.

Walau begitu beragam teori seputar pembunuhannya dengan cepat menjadi bahan gunjingan politik di Timur Tengah.

Al-Masri dibunuh pada tanggal 7 Agustus, bertepatan dengan peringatan serangan bom terhadap kedutaan besar AS di Nairobi, Kenya, dan Dar es Salaam, Tanzania.

Dan al-Masri sejak awal dicurigai turut merencanakan aksi teror yang menewaskan hingga 200 orang tersebut.

Kantor berita Associated Press melaporkan, dua bekas pejabat tinggi AS mengakui al-Masri dibunuh dalam kolaborasi intelijen antara dinas rahasia AS dan Israel.

Menurut pengakuan keduanya, CIA menyediakan informasi, sementara Mossad mengeksekusi rencana pembunuhan.

Salah seorang sumber AP pernah bekerja di lingkaran dalam komunitas intelijen AS dan memiliki pengetahuan langsung terhadap jalannya operasi.

Sementara yang lain adalah bekas perwira CIA yang mendapat laporan tentang operasi tersebut.

Hilangnya dua figur kunci al-Qaeda menurut klaimnya, al-Masri dibunuh oleh Kidon, sebuah unit di tubuh Mossad yang khusus ditugaskan mengeliminasi target bernilai tinggi. Dalam bahasa Ibrani, Kidon berarti “ujung tombak.”

Para pejabat itu membenarkan puteri al-Masri, Maryam, juga merupakan target pembunuhan.

AS mencurigai dia sedang disiapkan untuk mengemban fungsi penting di jaringan al-Qaeda, dan telah terlibat dalam perencanaan operasi.

Abu Muhammad al-Masri alias Ahmed Abdullah, orang nomor dua di al-Qaeda yang tewas terbunuh dalam sebuah asasinasi di Teheran, Iran, 7 Agustus 2020.

Abu Muhammad al-Masri alias Ahmed Abdullah, orang nomor dua di al-Qaeda yang tewas terbunuh dalam sebuah asasinasi di Teheran, Iran, 7 Agustus 2020.

Maryam adalah janda Hamzah bin Laden, putera bekas gembong teroris, Osama bin Laden.

Dia tewas dalam sebuah operasi antiteror AS di kawasan perbatasan Afghanistan-Pakistan pada tahun lalu.

Kematian al-Masri sendiri diyakini menjadi pukulan telak bagi jaringan teror tersebut menyusul rumor tentang kematian pemimpin al-Qaeda Ayman al-Zawahiri.

Namun kebenaran kabar tersebut sejauh ini belum bisa dipastikan oleh CIA, kata sumber AP.

Iran menepis tuduhan pihaknya melindungi pemimpin al-Qaeda.

Pemerintah di Teheran merawat sikap permusuhan terhadap kelompok teror tersebut dan mencurigai kampanye hitam AS dan Israel di balik operasi intelijen terakhir.

CIA sebenarnya sudah sejak lama mencurigai pemimpin al-Qaeda hidup dalam persembunyian di Iran selama bertahun-tahun.

Hal ini pun diketahui komunitas intelijen Israel. Al-Masri resminya mendekam “di tahanan” Iran sejak 2003, namun hidup di distrik Pasdaran di tepi Teheran setidaknya sejak 2015.

 

Pendiri Islamic Jihad in Palestine, Fathi Shaqaqi. (Foto : Liputan Islam)

 

Kampanye intelijen anti-Iran 

Pola pembunuhan terhadap al-Masri serupa dengan metode yang digunakan Mossad di masa lalu.

Pada 1995, pendiri Islamic Jihad in Palestine, Fathi Shaqaqi, ditembak mati oleh pengendara sepeda motor di Malta.

Mossad juga dilaporkan menggunakan cara serupa dalam asasinasi terhadap ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran awal dekade lalu.

Yoel Guzansky, peneliti senior di Institute for National Security Studies dan bekas penasehat urusan Iran untuk kantor perdana menteri Israel, mengatakan pihaknya sudah tahu tentang keberadaan tokoh al-Qaeda di Iran sejak lama.

Israel mengkhawatirkan pemerintahan baru AS di bawah Joe Biden akan kembali berkomitmen pada perjanjian nuklir.

Pemerintah di Yerusalem Barat mendesak agar Washington mendesakkan perubahan pada butir perjanjian nuklir untuk melucuti program peluru kendali antarbenua milik Iran.

Asumsi bahwa Iran terbukti menyembunyikan pemimpin al-Qaeda di wilayahnya dinilai bakal menguntungkan lobi Israel.

 

Foto : YouTube

 

Habisi Pemimpin Hamas

Bagaimana Mossad Melakukan Pembunuhan terhadap Pemimpin Hamas?

1. Identifikasi Sasaran

Melansir Al Jazeera, mengidentifikasi target pembunuhan oleh intelijen Israel biasanya dilakukan melalui beberapa langkah institusional dan organisasi di dalam Mossad, komunitas intelijen Israel yang lebih luas, dan kepemimpinan politik.

Terkadang targetnya diidentifikasi oleh dinas domestik dan militer Israel lainnya.

Sumber Al Jazeera mengatakan kepada Al Jazeera bahwa komunikasi Hamas antara Gaza, Istanbul (Turki) dan Beirut (Lebanon) diawasi secara ketat oleh jaringan intelijen Israel.

Dengan demikian, seleksi awal al-Batsh bisa saja dilakukan melalui jalur-jalur ini.

2. Eksekusi Pembunuhan

Setelah unit khusus Mossad menyelesaikan berkasnya mengenai target tersebut, mereka akan membawa temuannya ke kepala Komite Badan Intelijen, yang terdiri dari para pemimpin organisasi intelijen Israel dan dikenal dengan akronim Ibrani, VARASH, atau Vaadan Rashei Ha-sherutim.

VARASH hanya akan membahas jalannya operasi dan memberikan masukan serta saran.

Namun, pihaknya tidak memiliki kewenangan hukum untuk menyetujui suatu operasi.

Hanya perdana menteri Israel yang mempunyai wewenang untuk menyetujui operasi semacam itu.

Bergman mengatakan bahwa perdana menteri Israel biasanya memilih untuk tidak mengambil keputusan sendiri karena alasan politik.

“Sering kali perdana menteri melibatkan satu atau dua menteri lain dalam pengambilan keputusan, yang seringkali juga mencakup menteri pertahanan,” kata Bergman.

Setelah persetujuan diperoleh, operasi kemudian dipindahkan kembali ke Mossad untuk perencanaan dan pelaksanaan, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, tergantung targetnya.

3. Kerjasama Arab-Mossad

Mossad memelihara hubungan organisasi formal dan sejarah dengan sejumlah badan intelijen Arab, terutama badan mata-mata Yordania dan Maroko.

Baru-baru ini, mengingat pergeseran aliansi di kawasan dan meningkatnya ancaman dari aktor-aktor bersenjata non-negara, Mossad telah memperluas hubungannya dengan badan-badan intelijen Arab hingga mencakup sejumlah negara Teluk Arab dan Mesir.

Mossad memiliki pusat regional untuk operasinya di Timur Tengah yang lebih luas di ibu kota Yordania, Amman.

Lihat Juga :  Nasihat Buat Hati

Ketika Mossad berusaha membunuh pemimpin Hamas Khaled Meshaalin Amman pada tahun 1997 dengan menyemprotkan dosis racun yang mematikan ke telinganya, mendiang Raja Hussein mendapat ancaman untuk mencabut perjanjian damai dengan Israel dan menutup stasiun agen mata-mata Amman dan memutuskan hubungan Yordania.

Dalam bukunya, Bergman mengutip sumber-sumber Mossad yang mengklaim bahwa Jenderal Samih Batikhi, kepala mata-mata Yordania pada saat itu, marah kepada Mossad karena tidak memberi tahu dia tentang rencana pembunuhan tersebut karena dia ingin merencanakan operasi bersama.

Maroko

Negara Arab lain yang memelihara hubungan kuat dengan Mossad sejak tahun 1960an adalah Maroko, menurut penelitian Bergman.

“Maroko telah menerima bantuan intelijen dan teknis yang berharga dari Israel, dan, sebagai imbalannya, [mendiang Raja] Hassan mengizinkan orang-orang Yahudi Maroko untuk beremigrasi ke Israel, dan Mossad menerima hak untuk mendirikan stasiun permanen di ibu kota Rabat, tempat mereka dapat memata-matai di negara-negara Arab,” tulis Bergman.

Kerja sama ini mencapai puncaknya ketika Maroko mengizinkan Mossad menyadap ruang pertemuan dan kamar pribadi para kepala negara Arab dan komandan militer mereka selama KTT Liga Arab di Rabat pada tahun 1965.

KTT tersebut diadakan untuk membentuk komando militer gabungan Arab.

4. Metode Pembunuhan CIA dan Mossad

Tidak seperti Mossad dan organisasi intelijen Israel lainnya yang mempunyai kelonggaran besar dalam memutuskan siapa yang akan dibunuh, CIA Amerika menggunakan proses hukum multi-tingkat yang berat yang melibatkan Kantor Penasihat Umum CIA, Departemen Kehakiman AS, dan Kantor Penasihat Hukum Gedung Putih. .

Eksekusi operasi pembunuhan yang ditargetkan oleh CIA pada akhirnya bergantung pada Presidential Finding Authorization, yang merupakan dokumen hukum yang sering dirancang oleh Kantor Penasihat Umum CIA dan Departemen Kehakiman.

Presidential Finding Authorization memberikan wewenang hukum kepada CIA untuk melaksanakan misi pembunuhan yang ditargetkan.

Proses peninjauan multi-lembaga, yang sebagian besar dilakukan oleh pengacara di departemen kehakiman, Gedung Putih, dan CIA, harus dilakukan sebelum presiden membubuhkan tanda tangannya pada Presidential Finding Authorization.

Diperkirakan Barack Obama, sebagai presiden AS, mengizinkan sekitar 353 operasi pembunuhan yang ditargetkan, terutama dalam bentuk serangan pesawat tak berawak.

Pendahulunya, George W Bush, mengizinkan sekitar 48 operasi pembunuhan yang ditargetkan.

5. Proses Hukum

Seorang mantan pejabat senior CIA mengatakan kepada Al Jazeera dengan syarat anonimitas bahwa “CIA melakukannya tidak memutuskan siapa yang akan dibunuh”.

“Proses hukum membuat sangat sulit bagi CIA untuk membunuh seseorang hanya karena CIA menganggapnya orang jahat,” ujarnya, dilansir Al Jazeera.

Sebagian besar operasi pembunuhan yang ditargetkan CIA melibatkan serangan pesawat tak berawak dan didasarkan pada izin presiden.

Berbicara kepada Al Jazeera, Robert Baer, mantan perwira operasi CIA, mengatakan: “Gedung Putih harus menandatangani setiap operasi pembunuhan yang ditargetkan, terutama jika itu adalah target yang bernilai tinggi.

“Akan tetapi, kasusnya berbeda jika operasi dilakukan di medan perang atau selama perang seperti di Afghanistan atau Irak, yang mana petugas lapangan memiliki lebih banyak ruang hukum untuk melakukan pembunuhan yang ditargetkan.”

Di Mossad, legalitas pembunuhan terhadap target apa pun jauh lebih liberal dan tidak melibatkan batasan hukum serupa dengan yang diterapkan oleh CIA, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut.

“Ini adalah bagian dari kebijakan nasional mereka,” kata Baer, mengacu pada kebijakan pembunuhan yang ditargetkan oleh Israel.

 

Jenderal Soemitro. (Foto : SINDONews)

 

Militer Orde Baru

Tak cuma CIA, tapi dinas rahasia Israel turut bekerja sama dengan militer Orde Baru untuk menghabisi kekuatan merah.

Pemerintah Orde Baru menghancurkan gerakan komunis hingga ke akar-akarnya usai peristiwa G30 September 1965.

Ada peran Mossad, dinas rahasia Israel di balik penumpasan PKI Indonesia.

Hal itu diakui mantan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkokamtib), Jenderal TNI Soemitro.

Di awal berdirinya Orde Baru, Kopkamtib sangat powerful. Tak cuma dengan Mossad, Jenderal Soemitro mengakui bekerja sama dengan MI-6, dinas rahasia Inggris. Tujuannya sama, memerangi komunisme di Indonesia.

“Kami mengadakan hubungan intelijen dengan Mossad (Israel) dan dengan MI-6 (Inggris). Kedua-duanya sangat peka mengenai masalah komunis,” kata Jenderal Soemitro

Hal ini dikisahkan dalam biografinya ‘Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib.’

Menurut Soemitro, di tahun 1970an, CIA justru melemah. Intelijen CIA kalah dari Israel dan Inggris dalam hal menghadapi komunisme. Apalagi setelah terjadinya skandal Watergate di AS tahun 1972-1974.

Soemitro membenarkan pernah menemui perwakilan mata rantai Israel di Jalan Tosari, Jakarta Pusat.

Dia juga mengizinkan tiga orang jenderal, anak buahnya mengadakan hubungan dengan Israel dalam rangka menumpas PKI.

Kerja sama yang dilakukan adalah Operasi Intelijen. Namun Mitro tidak menjelaskan detilnya.

Menurutnya, kerja sama intelijen antara Kopkamtib, Mossad dan MI-6 berjalan dengan baik. Kekuatan komunis di Indonesia bisa dihancurkan.

Kerja sama itu juga membuat tokoh-tokoh yang dianggap tersangkut PKI ditangkapi dan dijadikan tahanan politik.

CIA justru berperan di awal penumpasan PKI. Mereka memberikan bantuan alat komunikasi dan memonitor pemberantasan kekuatan merah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Lewat Dubes AS di Jakarta, Marshal Green, CIA juga memberikan bantuan dana untuk militer Indonesia.

Tapi apakah CIA ada di belakang semua peristiwa itu?

“Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu. Kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai,” ungkap Green.

CIA mengaku tidak menciptakan kondisi tersebut, hanya memanfaatkan kondisi yang muncul setelah G30S. (Dari berbagai sumber)

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button