Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

INTERNASIONAL

Israel Musuh Kami (4) : Dalang di Balik Pembunuhan Tokoh-tokoh Perjuangan Palestina 

ASSAJIDIN.COM — Selain licik dan kotor Badan Intelijen Mossad juga sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan dalam menjalankan aksinya.

Di antaranya dengan melakukan sejumlah operasi terhadap pembunuhan tokoh-tokoh perjuangan Palestina.

Israel untuk pertama kalinya mengakui pembunuhan Khalil al-Wazir, wakil pemimpin Palestina Yaser Arafat pada 1988 di Tunisia.

    Foto : CNBC Indonesia

 

Pembunuhan direncanakan agen intelijen Israel, Mossad. Sementara, pasukan khusus Sayeret Matkal mengeksekusi operasi pembunuhan itu.

Laporan tersebut dikeluarkan surat kabar Yediot Aharonot, pada Kamis 1 November 2012 lalu, setelah 25 tahun menjadi misteri.

Israel sebetulnya telah lama diduga terlibat pembunuhan al-Wazir atau yang juga dikenal dengan Abu Jihad.

Informasi itu bahkan telah diketahui hampir dua dekade ini. Namun, baru saat ini, keterangan tersebut dipublikasikan setelah militer memberikan lampu hijau. Termasuk, di antaranya wawancara dengan pelaku pembunuh.

Operasi itu dikomandoi Nahum Lev. Sebelum Lev meninggal akibat kecelakaan motor, Yediot sempat mewancarainya pada tahun 2000 tentang perannya dalam operasi tersebut.

“Abu Jihad terlibat dalam berbagai tindakan kejahatan sipil. Saya menembaknya tanpa ragu,” ujarnya.

Namun, ia mengaku berhati-hati saat itu supaya tidak sampai melukai istri Abu Jihad yang muncul pada waktu penembakan.

Abu Jihad merupakan pendiri Fatah, faksi dominan dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) bersama Arafat. Dia dituding terlibat dalam berbagai serangan mematikan di Israel.

Abu Jihad memiliki peran penting dalam perjuangan intifada pada 1987 sampai 1993 melawan pendudukan Israel.

Dia juga dituduh terlibat dalam serangan bus pada 1978 yang menewaskan 38 warga Israel.

Dua di antara mereka yang terlibat operasi pembunuhan Abu Jihad pernah menjabat petinggi politik di Israel.

Mereka adalah Ehud Barak dan Moshe Yaalon. Ketika itu, Barak merupakan wakil kepala militer dan Yaalon merupakan kepala unit pasukan khusus Sayeret Matkal.

Peran mereka dalam operasi itu tidak diungkapkan, namun keduanya enggan berkomentar.

 

Abu Jihad. (Foto : Fateh News)

 

Perahu Karet

Saat pembunuhan terjadi, PLO bermarkas di Tunisia. Laporan menyebutkan, 26 anggota pasukan khusus Israel tiba di pesisir Tunisia dengan menggunakan perahu karet.

Lev bersama anggota lainnya menuju rumah Abu Jihad di Ibu Kota Tunis. Tim dibagi secara terpisah.

Lev datang dengan prajurit yang menyamar sebagai wanita. Lev membawa kotak cokelat besar dan di dalamnya terdapat senjata api berperedam.

Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Israel, para anggota unit khusus yang menyamar sebagai wanita bertugas mengalihkan penjaga.

Mereka membawa peta layaknya seorang pengunjung dan menanyakan alamat kepada penjaga. Dengan begitu Lev memiliki kesempatan untuk masuk dan membunuh Abu Jihad.

Tim lainnya secara terpisah menewaskan penjaga dan tukang kebun sebelum memasuki vila.

Rekan Lev merupakan yang pertama kali menembak Abu Jihad. Namun, ketika Lev melihat Abu Jihad meraih senapannya, ia langsung menembak dan membunuhnya.

Beberapa anggota lain memastikan kematian Abu Jihad dengan menembaknya kembali sebelum balik lagi ke pantai dan pulang ke Israel.

Mahmud al-Alul, mantan asisten wakil PLO, mengatakan kepada AFP, telah jelas bahwa Israel bertanggung jawab atas pembunuhan Abu Jihad.

“Abu Jihad tidak dibunuh tentara, melainkan atas perintah atau keputusan otoritas Israel dan pemimpin militer,” ujarnya.

“Semua orang tahu siapa perdana menteri ketika itu dan menteri pertahanan serta kepala pasukan keamanan. .Bagi kami mereka bertanggung jawab atas pembunuhan itu,” tegas Alul.

Saat peristiwa pembunuhan terjadi, Yitzak Shamir menjabat sebagai perdana menteri. Sementara, menteri pertahanan dipegang Yitzhak Rabin yang kemudian tewas dibunuh sayap kanan pada November 1995.

Foto : Viva

Yasser Arafat   

Mossad Israel juga disebut dalang di balik pembunuhan pemimpin Palestina, Yasser Arafat.

Hasil investigasi pada 11 November 2015 menyebutkan Arafat dibunuh di rumah sakit militer di Paris, Prancis.

Pengumuman itu dibuat pada Rabu, 11 November 2015, sehari sebelum peringatan kematian kesebelas Arafat, yang juga pemenang hadiah Nobel Perdamaian.

Pada awalnya penyebab kematian Arafat dikabarkan karena kanker. Ada yang bilang juga karena penyakit hati sampai infeksi HIV.

Namun, sebuah investigasi yang dilakukan Al-Jazirah mengungkapkan tak satu pun rumor tersebut yang benar.

Arafat dalam kondisi kesehatan yang baik hingga tiba-tiba jatuh sakit pada 12 Oktober 2004. Desakan pemeriksaan kembali kematian Arafat datang setelah laboratorium Swiss menemukan bekas radioaktif mematikan, polonium-210, di pakaian Arafat yang digunakan saat dia meninggal November 2004 lalu.

Penemuan tersebut memunculkan dugaan kematian Arafat karena diracun. Radioaktif tersebut merupakan jenis sama yang telah menewaskan mata-mata Rusia Alexander Litvinenko di London pada 2006. Arafat meninggal di rumah sakit di Prancis.

Dugaan mantan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat meninggal karena diracun makin menguat lewat serangkaian investigasi yang dilakukan stasiun televisi Al-Jazirah.

Tim dokter dari Institut de Radiophysique di Lau sanne, Swiss, menemukan kandungan zat radioaktif bernama Polonium-210 dalam level yang sangat tinggi di pakaian milik Arafat yang dia kenakan selama dirawat di Prancis.

Janda Arafat, Suha Arafat, mendesak Pemerintah Palestina melakukan investigasi, dimulai dengan menggali makam Arafat di Ramallah dan mengautopsi tengkoraknya.

Foto : Tabloid Sergap

 

Sangat Misterius

Meninggalnya Arafat pada 11 November 2004 pukul 03.30 waktu Prancis memang sangat misterius. Tidak ada yang tahu apa penyebab Arafat wafat.

Sebanyak 50 dokter di RS Militer Percy di Clamart, Prancis, yang merawat Arafat tak pernah tahu apa penyebab kesehatan pejuang Palestina ini terus memburuk.

Dalam diagnosis terakhirnya di dokumen kematian Arafat hanya disebutkan dia meninggal karena salah satu nya pendarahan otak.

Dalam tayangan dokumenter Al-Jazirah diperlihatkan Arafat secara mendadak jatuh sakit. Gejala sakit bermula pada 12 Oktober 2004.

Di markas PLO di Ramallah, hanya empat jam setelah makan malam, tiba-tiba Arafat mengeluh sakit perut, mual, pusing, diare, dan demam.

Dokter pertama yang merawatnya, Omar Dakka, mengira Arafat terserang flu dan memberinya obat flu biasa.

Tapi, kondisinya tidak membaik. Empat hari setelah itu kesehatan Arafat makin parah. Berat badannya mulai menyusut.

Petinggi PLO panik dan memanggil tim dokter dari Mesir untuk memeriksa Arafat. Tak ada hasil yang jelas dari pemeriksaan dokter Mesir.

PLO lantas meminta bantuan tim dokter Tunisia untuk memeriksanya. Hasilnya sama, tidak ditemukan penyebab pria kelahiran Kairo, Mesir, ini sakit parah. Obat utamanya saat itu hanyalah antibiotik.

Delapan hari setelah sakit perut itu, Arafat menelepon istrinya, Suha. Dalam wawancara dengan Al-Jazirah, Suha mengungkapkan, di telepon Arafat bersikap sangat romantis.

“Ini aneh karena biasanya dia akan sangat formal karena pembicaraan kami didengar banyak orang,” kata Suha.

Dia mengingat, Arafat mengucapkan, “ I love you“. Perkataan yang tak pernah Arafat katakan di depan umum.

Sepekan setelah telepon mesra itu, kesehatan pria kelahiran 24 Agustus 1929 tersebut kian kritis. PLO langsung mengontak sejumlah negara, termasuk Israel untuk meminta agar Arafat bisa dirawat di luar Palestina.

Lihat Juga :  KBRI Tokyo Terima Kunjungan Siswa Siswi SD Unggulan Al-Ya'lu Kota Malang 

Israel memberi lampu hijau dan Prancis menyediakan rumah sakitnya. Arafat dijemput dua helikopter warna hijau. Wajahnya sangat pucat, dia terlihat lemah.

Dibopong pengikutnya ke atas helikopter, Arafat melambaikan tangan ke warga Ramallah yang mendoakannya kembali sehat.

Tapi, di Prancis pun para dokter masih bingung menentukan apa sebenarnya penyakit Arafat. Dokter-dokter top didatangkan ke RS Militer Percy.

Arafat diperiksa dengan berbagai metode modern. Hingga kemungkinan dia mengidap HIV pun sempat mengemuka, tapi hasil tesnya negatif. Tetap tak ada tanda-tanda apa penyebab sakit Arafat.

Empat hari setelah dirawat di RS Militer Percy, barulah tim dokter Arafat mengajukan kemungkinan Arafat keracunan.

Masalahnya, hasil tes racun di RS tersebut juga negatif. Tak ada racun di darah Arafat. Investigasi Al-Jazirah menemukan, tim dokter saat itu tidak melakukan tes radiasi nuklir terhadap darah Arafat. Tes yang seharusnya menjadi opsi.

Delapan tahun setelah Arafat wafat, Suha akhirnya setuju memberikan berkas medis pemimpin Fatah tersebut ke Al-Jazirah.

Termasuk satu tas penuh berisi pakaian dan barang-barang Arafat saat dirawat di RS Militer Percy.

Al-Jazirah membawa berkas itu ke penyelidik dan dokter independen, sementara barang-barang Arafat diteliti Institut de Radiophysique.

Juru bicara Institut de Radiophysique, Darcy Christen, ketika itu mengatakan pihaknya menemukan level tinggi zat beracun Polonium- 210 pada barang-barang Arafat.

Namun, Christen juga menekankan, gejala klinis yang dijelaskan dalam laporan medis Arafat tidak sesuai dengan Polonium-210 sehingga tidak dapat disimpulkan dia meninggal akibat diracun atau tidak.

Polonium adalah elemen langka yang memiliki tingkat radiasi radioaktif sangat tinggi. Penemu zat ini adalah ilmuwan Prancis Marie Curie pada abad ke-19.

Karena tingkat radioaktifnya sangat tinggi, Polonium kerap digunakan untuk senjata nuklir, bahan bakar satelit, dan pesawat luar angkasa.

Uni Soviet sering menggunakan bahan Polonium dalam proyek luar angkasanya pada dekade 1970-an.

Pertanyaannya kemudian, apakah Polonium pernah digunakan sebagai racun untuk membunuh? Pernah!

Mata-mata Rusia yang membelot ke Inggris, Alexander Litvinenko, tewas karena keracunan Polonium. Gejalanya mirip Arafat.

Sebelum 1 November 2006, Lit vinenko dalam kondisi bugar, tapi tiba-tiba menjadi sakit parah karena diare dan muntah-muntah.

Dokter di London mendiagnosis ada infeksi perut, tapi kulit Litvinenko mulai menguning dan rambutnya rontok.

Dokter akhirnya melakukan tes radiasi pada darah Litvinenko dan menemukan kandungan Polonium tingkat tinggi.

Apa yang ditemukan dalam darah Yasser Arafat kalau begitu?

Dokter di Lausane mengatakan, kadar Polonium di tubuh Arafat 10 kali melebihi batas normal manusia maupun makhluk hidup yang terkena radiasi ini.

Sikat giginya, misalnya, memiliki kadar Polonium 54 mBq, urine Arafat lebih tinggi lagi, yaitu 180 mBq.

 

Racun yang digunakan untuk membunuh Yasser Arafat. (Foto : YouTube)

Diracun

Dugaan Arafat diracun sudah muncul saat dia dirawat di Prancis. Tudingan mengarah ke Israel karena di markas PLO Maqata, Ramallah, ketika Arafat masih hidup, segala makanan Arafat harus berasal dari daerah Israel dan diperiksa tentara Israel.

Semasa Arafat sakit, Pemerintah Israel juga selalu mengatakan kalaupun sembuh, Arafat tidak akan bisa lagi memimpin Palestina.

Selain pembunuhan Abu Jihad dan Yasser Arafat, seperti dikutip AP, Israel diduga terlibat dalam penembakan pendiri kelompok Jihad Islam, Fathi Shikaki, di Malta, pada 1995 silam. Saat itu, Shikaki ditembak seorang pria pengendara motor.

Pada 22 Maret 2004, sebuah operasi udara Israel menewaskan tokoh penting Hamas, Syekh Ahmad Yassin. Rudal Israel menghujam kendaraannya seusai menunaikan sholat.

Pada 2008, Komandan Hizbullah Lebanon, Imad Mughniye, juga tewas akibat bom yang dipasang di mobilnya, di Damaskus, Suriah. Hizbullah dan Iran menyalahkan Israel atas insiden tersebut.

Pada 2010, petinggi Hamas, Mahmoud al-Mabhouh, juga tewas di sebuah kamar hotel di Dubai dalam operasi yang dikaitkan dengan agen intelijen Israel, Mossad.

Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri pada 2005 juga dibunuh agen badan intelijen Israel, Mossad.

Ilmuwan asal Palestina yang tinggal dan bekerja di Malaysia, Fadi Al Batsh. (Foto : Merdeka.com)

 

Aksi Kejam Mossad

Kejamnya Mossad sulit terbantahkan. Ini terbukti ketika seorang ilmuwan asal Palestina yang tinggal dan bekerja di Malaysia, Fadi Al Batsh (35), tewas setelah ditembak dua orang tidak dikenal di Kuala Lumpur, saat hendak menunaikan shalat Subuh, Sabtu (21/4/2018).

Kedekatan Fadi dengan Hamas –faksi perlawanan Palestina, memunculkan dugaan pembunuhan didalangi Mossad, dinas intelijen Israel.

Dugaan ini mengemuka setelah Mossad beberapa kali tercatat pernah membunuh tokoh Palestina di luar negeri.

Berikut beberapa aksi Mossad yang menghabisi musuh-musuh Israel di luar negeri.

1. Operasi Mivtza Za’am Ha’el (Murka Tuhan)

Pada Olimpiade 1972 di Muenchen, Jerman, beberapa orang menyerang wisma atlet Israel. Peristiwa yang dikenal sebagai Black September itu menewaskan 11 atlet Israel.

Pemerintah Israel naik pitam dengan kejadian itu. Mereka berjanji untuk membalas aksi yang dilancarkan kelompok teroris asal Palestina. Ancaman Israel terbukti bukan isapan jempol. Operasi intelijen Mossad dirancang.

Dikutip dari BBC, dalam rentang tujuh tahun, ada belasan orang yang dianggap bertanggung jawab atas terjadinya Black September.

Operasi itu berlangsung di beberapa negara Eropa dan Arab. Pembunuhan orang yang diduga sebagai perancang Black September berlangsung dengan cara ditembak atau dibom.

Namun, operasi Mossad untuk menghabisi tokoh-tokoh Black September tidak berjalan mulus.

Saat hendak membunuh Ali Hassan Salameh, salah satu perencana Black September, di Lilllehammer, Norwegia, pada 1979 Mossad salah sasaran. Bukannya membunuh Ali, Mossad malah membunuh seorang pramusaji keturunan Arab.

2. Pembunuhan Zuheir Mohsen

Seorang tokoh organisasi pembebasan Palestina (PLO) bernama Zuheir Mohsen dibunuh Mossad saat berada dalam sebuah kasino di Cannes, Prancis.

Pembunuhan yang berlangsung pada 1992 itu dilakukan dengan menembak mati Zuheir.

Sejarahwan militer Nigel West dalam bukunya Encyclopedia of Political Assassinations menyebutkan, pembunuh yang diduga membuntuti Zuheir dari apartemennya tidak dapat diidentifikasi.

3. Pembunuhan Atef Bseiso

Atef Bseiso yang merupakan seorang pemimpin Palestine Liberation Organization (PLO) tewas di Paris, Prancis pada 1992.

Pembunuhnya menembak mati Atef di jalan dan kemudian melarikan diri dan tidak pernah terungkap identitasnya. PLO kala itu menuding Mossad menjadi dalang.

4. Pembunuhan Fathi Shaqiqi

Fathi Shaqiqi adalah pendiri kelompok jihad yang menyarankan untuk melakukan aksi bom bunuh diri sebagai aksi perlawan atas penjajahan Israel.

Pembunuhan Fathi berlangsung pada 1995 di Malta. Jurnalis investigasi Gordon Thomas dalam bukunya Gideon’s Spies: The Secret History of the Mossad menuturkan, ajaran jihad dengan bom bunuh diri dari Fathi dianggap mengancam Israel.

Perintah untuk membunuh Fathi, kata Gordon, dikeluarkan langsung oleh Perdana Menteri Israel kala itu, Yitzhak Rabin.

5. Percobaan Pembunuhan Khaled Mashal

Pada 1997, Mossad coba membunuh Kepala Biro Politik Hamas, Khaled Mashal, di Amman, Jordania. Agen Mossad meracun kopi yang diminum Mashal.

Lihat Juga :  Israel Musuh Kami (6) : Mendustakan dan Menghabisi Nyawa Para Nabi

Namun, upaya menghabisi Mashal gagal. Agen yang meracunnya tertangkap polisi Jordan. Raja Jordan, Husein, kemudian meminta Israel memberikan obat penawar racun itu kepada mereka.

Diberitakan Aljazeera, Direktur Mossad Danny Yatom terbang langsung ke Jordan untuk menyerahkan penawar racun Mashal.

6. Pembunuhan Izz El Deen Sheikh Khalil

Salah seorang Pemimpin Hamas Izz El Deen Sheikh Khalil tewas dalam bom mobil di Damaskus, Suriah, pada 2004. Meski tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab dalam ledakan itu, tapi tudingan mengarah ke Israel.

Juru bicara Hamas, Mushir al-Masri, dalam wawancaranya dengan BBC menuding Mossad sebagai peledak mobil Khalil. Dugaan itu diperkuat dengan pernyataan Menteri Keamanan Israel kala itu, Gideon Ezra.

“Saya tidak bisa mengkonfirmasi atau menyangkal (tuduhan) itu, (tapi) saya tidak menyesali terjadinya peristiwa itu,” kata Gideon dalam wawancara dengan televisi Israel.

7. Pembunuhan Mahmoud Al Mabhouh

Pimpinan Hamas, Mahmoud Al Mabhouh, ditemukan sudah tidak bernafas di hotel kawasan Dubai, Uni Emirat Arab, pada Januari 2010. Awalnya, Mahmoud diduga tewas akibat sebab normal.

Namun, polisi UEA mengautopsi tubuh Mahmoud. Hasilnya ditemukan racun yang menjadi sebab kematian tesebut.

Kepala Polisi UEA, Dhahi Khalfan Tamim, menyebut Israel sebagai pihak yang meracun Mahmoud.

“Hasil investigasi kami menunjukkan, Mossad terlibat dalam pembunuhan Al Mabhouh,” kata Dhahi seperti dikutip Los Angeles Times.

Menteri Luar Negeri Israel saat itu, Avigdor Lieberman membantah tudingan itu.

Menurutnya tidak ada bukti yang menunjukan Mossad telah membunuh Mahmoud.

Namun, dia menegaskan Israel punya kebijakan untuk membuat musuh-musuhnya tetap jauh.

8. Pembunuhan Mohamed Zouari

Ahli drone asal Palestina, Mohamed Zouari, tewas pada Desember 2016 di Tunis, Tunisia.

Dua pengendara motor menghampirinya yang sedang mengemudi mobil dan menembak Zouari. Ilmuwan itu tewas dengan tiga luka tembak di dada.

Hamas kemudian menuding Mossad sebagai pembunuh Zouari. Sedangkan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman saat ditanya soal kematian Zouari mengatakan, akan mempertahankan keamanan negaranya.

Dia juga menyebut, Zouari bukan kandidat penerima Nobel Perdamaian.

Selain diduga terlibat membunuh tokoh-tokoh Palestina, Israel juga melancarkan operasi intelijen di luar negeri untuk kepentingan lain negaranya.

Pada 1960 misalnya, Mossad menculik mantan jenderal Nazi, Otto Adolf Eichmann yang lari dari pengadilan kejahatan perang di Buenos Aires, Argentina.

Mossad juga pernah mencuri pesawat tempur Mig-21 dalam Operasi Berlian pada 1963. Pesawat tempur paling canggih di zamannya itu diambil dari Iraq untuk didaratkan di Israel.

Ali Hasan Salameh. (Foto : Grid.hot)

Paling Dicari 

Empat puluh dua tahun lalu, Wadie Haddad adalah salah satu orang paling dicari di dunia.

Ia merupakan sosok yang berani, bertekad, kejam, Haddad adalah pendiri Front Populer Kiri-jauh untuk Pembebasan Palestina .

Dia diduga melatih Carlos The Jackal dan mendalangi pembajakan sebuah pesawat Air France yang diterbangkan ke Entebbe di Uganda dan kemudian diselamatkan oleh pasukan komando Israel.

Tidak mengherankan jika dinas rahasia Israel, Mossad, menginginkan dia mati. Tapi enam tahun setelah mereka pertama kali mengeluarkan ‘perintah pembunuhan’, Haddad masih sangat hidup dan hidup dengan nyaman di Baghdad.

Bagaimana akhirnya Haddad dieksekusi?

Pada 10 Januari 1978, seorang agen Mossad di lingkaran dalam Haddad yang hanya dikenal sebagai Sadness, mengganti pasta giginya dengan tabung identik yang dicampur dengan racun mematikan.

Racun ini dikembangkan di laboratorium rahasia dekat Tel Aviv. Setiap kali Haddad menggosok giginya, sejumlah kecil racun bekerja melalui gusi ke aliran darahnya.

Sedikit demi sedikit, Haddad mulai mati rasa. Teman-temannya di Palestina menghubungi polisi rahasia Jerman Timur yang menerbangkannya ke rumah sakit di Berlin Timur.

Sepuluh hari kemudian, darah keluar dari setiap lubang, sehingga Haddad meninggal dalam kesakitan.

Para dokter bingung. Namun di Israel, Mossad memberi selamat kepada dirinya sendiri atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik.

– Mahmoud al-Mabhouh, Kepala Petugas Logistik Hamas

Pada Januari 2010, tim yang terdiri dari beberapa lusin agen Mossad terbang ke emirat dengan paspor palsu, mengenakan wig, dan kumis palsu.

Menyamar sebagai turis dan pemain tenis, beberapa dari mereka bahkan membawa raket, agen Mossad ini masuk ke sebuah kamar di Hotel Al-Bustan yang mewah.

Di sana mereka menunggu buruan mereka, Mahmoud al-Mabhouh. Segera setelah al-Mabhouh masuk ke kamarnya, mereka menangkapnya dan menggunakan alat ultrasonik berteknologi tinggi untuk menyuntikkan racun ke lehernya bahkan tanpa merusak kulitnya.

Petinggi Hamas ini meninggal dalam tempo beberapa saat. Empat jam kemudian, sebagian besar agen Mossad, sudah terbang dari Dubai.

– Ali Hassan Salameh

Ali Hassan Salameh, juga salah satu pria paling dicari di dunia. Salameh adalah Kepala Operasi Black September, kelompok warga Palestina yang membunuh 11 atlet Israel di Olimpiade Munich, Jerman tahun 1972.

Mossad ingin dia mati, tapi jejaknya menjadi dingin. Lalu datanglah keajaiban.

Di Lillehammer, Norwegia, seorang agen rahasia Israel melihat Salameh di sebuah kafe. Kemudian kabar sampai ke Tel Aviv dan regu pembunuh dikumpulkan.

Pada 21 Juli, ketika Salameh dan pacarnya turun dari bus dalam perjalanan pulang dari bioskop, para pembunuh menunggu di sebuah Volvo sewaan.

Mereka melompat keluar dari mobil, melepaskan delapan tembakan, melompat kembali ke mobil mereka dan memekik, meninggalkan target mereka dalam genangan darah.

Namun, ternyata mereka telah membunuh orang yang salah. Bukan Salameh, tapi Ahmed Bouchikhi, seorang pelayan Maroko dengan istri yang sedang hamil tua.

Buntutnya, polisi Norwegia menangkap enam agen Israel. Lima menjalani hukuman di Norwegia, meskipun semuanya dibebaskan dengan cepat di bawah kesepakatan rahasia.

Tapi akhirnya Mossad dapat membuktikan diri. Mereka kemudian bisa mendapatkan Salameh.

Pada 22 Januari 1979, Salameh baru saja meninggalkan apartemennya di Beirut ketika seorang agen wanita Israel, mengawasi dari balkonnya, menekan tombol dan sebuah bom mobil raksasa merobek jalan.

Foto : Tribun Manado

Operasi pertama Mossad

Mossad banyak membunuh tokoh Palestina, seperti beberapa orang di atas. Namun ternyata, orang pertama yang meninggal dalam catatan Mossad bukanlah pejuang Palestina atau ekstremis sayap kiri.

Itu adalah seorang polisi Inggris, yakni Detektif Inspektur Tom Wilkin dari Aldeburgh di pantai Suffolk.

Musim gugur 1944, Wilkin berada di Yerusalem, di mana dia bertugas untuk menindak gerilyawan zionis.

Pada bulan September 1944, ketika dia sedang berjalan-jalan, seorang anak laki-laki yang duduk di luar toko kelontong melemparkan topinya–pertanda bahwa target berada dalam jangkauan.

Beberapa saat kemudian, dua pemuda Yahudi melepaskan tembakan dengan revolver.

Wilkin ‘berhasil berbalik dan menarik pistolnya,’ seorang penyerang, David Shomron, bisa ditembak.

Namun, kemudian Walkin jatuh. ‘Semburan darah keluar dari dahinya, seperti air mancur.’ (Dari berbagai sumber)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button