Tradisi Bulan Suci di Turki (5) : Pertunjukan Karagöz-Hacivat, Wayang Kulit Asal Turki
ASSAJIDIN.COM — Ternyata Wayang Kulit bukan cuma dikenal di kalangan orang Jawa saja, di Turkipun ada Wayang Kulit.

Menariknya, Wayang Kulit yang sudah ada sejak zaman Sultan Selim I itu menurut sejarah Turki terinspirasi dari wayang Jawa.
Wayang Kulit turki yang dimaksud adalah pertunjukan wayang kulit yang dinamai Karagöz-Hacivat.
Di Turki, pertunjukan wayang ini masih ada hingga sekarang, bahkan wayang Turki menyebar ke daerah-daerah yang dahulu manjadi bekas wilayah Kekhalifan Turki seperti Yunani, Bosnia Heregovia dan Georgia.
Menurut beberapa sejarawan Turki, wayang Karagöz-Hacivat diciptakan oleh orang-orang Turki yang pernah tinggal di Jawa. Mereka terinspirasi ketika menyaksikan pertunjukan Wayang Kulit di Jawa.
Oleh karena itu, ketika mereka pulang ke kampung halamannya mereka membuat pertunjukan wayang. Meskipun tokoh-tokoh pewayangan yang diciptakan oleh orang Turki berbeda dengan wayang Jawa.

Abad 14
Dilansir dari berbagai sumber, Hacivat dan Karagöz adalah sebuah pertunjukan wayang kulit yang pertama kali dimainkan pada masa Kerajaan Ottoman sekitar akhir abad 14.
Pertunjukan ini baru tampil ke khalayak antara abad 17 dan 19, khususnya selama Ramadhan.
Hacivat dan Karagöz biasa diadakan di jalan raya atau masjid. Setelah selesai buka puasa, pertunjukkan akan pindah ke dalam kedai kopi.
Tokoh Hacivat dan Karagöz diperkenalkan pertama kali oleh Sheikh Küşterı.
Hacivat dan Karagöz menjadi kisah folklor ikonik budaya Turki yang menggabungkan humor, narasi dan kritik sosial.
Sesuai dengan kepercayaan di Turki, Hacivat dan Karagöz terinspirasi dari kehidupan dua orang yang berteman, mereka pekerja konstruksi di masjid Bursa. Keduanya membuat kesalahan sehingga Sultan Orhan melakukan eksekusi.
Hacivat memiliki karakter yang elegan dan tata krama yang baik. Ia merupakan representasi masyarakat Ottoman yang berpendidikan tinggi. Ia juga identik dengan orang yang bijak, memiliki pengetahuan, sering berbicara puitis, dan teratur.
Karakter ini berbanding terbalik dengan Karagöz yang terkenal gampang kikuk dan lucu. Ia menggunakan bahasa sehari-hari, ini yang membuatnya dapat diterima pada semua kalangan.
Perbedaan dua karakter Hacivat dan Karagöz yang membuat daya tarik pertunjukan.
Pembuatan wayang Hacivat dan Karagöz biasanya mengunakan kulit unta atau sapi dengan ukuran 14-16 inci. Kulitnya dibuat semi transparan, dilukis dengan tinta India, serta disulam. Bambu kemudian dicat dan potongannya diikat dengan tali.

Populer
Wayang Karagöz-Hacivat populer di zaman Sultan Selim I yang memerintah pada tahun 1512-1520
Pada zaman ini pertunjukan Wayang Karagöz-Hacivat dipentaskan di Istana untuk hiburannya keluarga kerajaan.
Selain dipentaskan di Istana, wayang Karagöz-Hacivat juga rupanya banyak diminati oleh rakyat Turki kala itu, sehingga wayang Karagöz-Hacivat digemari juga di beberapa wilayah kekuasaan Turki Usmani seperti Yunani, Bosnia Heregovia dan Georgia.

Hubungan Turki dan Jawa
Hubungan Jawa dan Turki sebetulnya disinggung dalam beberapa cerita dan legenda asal Jawa yang dituliskan dalam beberapa Naskah Babad.
Sebagai contoh, dalam beberapa Babad disebutkan orang yang mula-mula membabad tanah Jawa dan berusaha mengislamkan penduduknya adalah orang yang disebut “Syekh Subakir”. Tokoh tersebut dikisahkan sebagai wali yang berasal dari Negeri Ngarum (Romawi).
Turki Ustmani dalam catatan beberapa Naskah Jawa memang disebut sebagai orang Romawi, karena memang Istanbul, Ibu Kota Turki Ustmani dulunya juga merupakan Ibukota Kekaisaran Romawi Timur, sehingga karena Turki Ustmani dianggap sebagai penerus Romawi Timur, maka orang Turki juga disebut orang Ngarum atau Romawi oleh orang Jawa.
Tidak ada catatan pasti mengenai hubungan Kesultanan Demak dan Turki, akan tetapi kuat dugaan Demak dan Turki menjalin hubungan yang sangat baik, terbukti dari peninggalan Kesultanan Demak terutama meriam buatan Demak yang masih ada hingga kini desainnya mirip sekali dengan desain meriam Turki.
Selepas runtuhnya Demak, catatan mengenai hubungan Turki dan Jawa kembali tercatat, ketika Kesultanan Mataram diperintah oleh Sultan Agung, utusan dari Kekhalifahan Turki Usmani menganugerahi gelar kepada Sultan Agung sebagai Khalifah Jawa. (Dari berbagai sumber)
