Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

DUNIA ISLAM

Al Battani, Astronom Terbesar Islam di Abad Pertengahan

ASSAJIDIN.COMAl Battani adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab. Al Battani, lahir di Harran dekat Urfa. 

Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. 

Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri.

AL-BATTANI adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan Muslim yang berpengaruh pada abad pertengahan.

Salah satu karya paling penting dari Al Battani adalah “Zij Al-Sabi,” sebuah kumpulan tabel astronomi yang mencakup perhitungan tentang gerak Bulan dan planet-planet.

Karyanya ini berdasarkan pada pengamatan astronomi yang akurat dan telah menjadi dasar bagi perhitungan astronomi selama berabad-abad setelahnya.

Dalam “Zij Al-Sabi,” Al Battani memberikan tabel koordinat astronomi untuk berbagai benda langit.

Hal ini memungkinkan para ahli astronomi pada masanya dan masa mendatang untuk menentukan posisi benda langit di langit dengan presisi yang lebih tinggi.

Karyanya juga mencakup perhitungan tentang gerhana matahari dan gerhana bulan, serta memberikan penjelasan tentang berbagai fenomena langit seperti fajar dan senja.

Diakui Ilmuwan Eropa

Al-Battani juga memiliki penemuan terbesar yang diakui oleh kalangan ilmuwan Eropa dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, yaitu menemukan bahwa dalam setahun ada 365,24 hari.

Lihat Juga :  Mencari Akhirat Teguhkan, Tapi Jangan Lupa Menggapai Dunia

Atas pencapaiannya itu, ia bahkan disebut-sebut sebagai astronom terbesar Islam pada abad pertengahan.

Saat mempelajari ilmu astronomi, ia menemukan suatu penemuan besar, yaitu aphelium. Aphelium adalah titik terjauh bumi saat mengelilingi matahari tiap tahunnya.

Al-Battani menemukan bahwa posisi diameter matahari berbeda dengan yang dijelaskan oleh Ptolomeus dalam karyanya.

Temuannya itu juga berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh ahli Yunani kuno sebelumnya.

Al-Battani semakin leluasa mempelajari naskah kuno Ptolomeus pada era kejayaan Dinasti Abbasiyah di bawah pimpinan Harun al Rasyid.

Setelah Romawi runtuh di Eropa Barat, Dinasti Abbasiyah memerintahkan membeli buku sebanyak-banyaknya untuk kemudian diterjemahkan.

Dampak besar

Karya-karya Al Battani memiliki dampak yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, dan pengetahuan tersebut kemudian diwarisi oleh dunia Barat melalui hubungan perdagangan dan perang.

Ketika Arab menguasai Spanyol pada abad ke-8, pengetahuan Al Battani dan ilmuwan Muslim lainnya diserap oleh masyarakat Eropa.

Karya-karya Al Battani diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan oleh ilmuwan Barat untuk meningkatkan pemahaman tentang astronomi.

Salah satu contoh pengaruh Al Battani adalah dalam karya ilmiah tokoh terkenal di dunia Barat, Nicolaus Copernicus.

Lihat Juga :  Sosok Shella Saukia, Pengusaha dan Selebram Asal Aceh yang Menyumbangkan Rp 1 Miliar untuk Palestina

Copernicus, yang hidup pada abad ke-15, mengembangkan model heliosentris (matahari berada di pusat tata surya) berdasarkan pengetahuan yang didapatkan dari karya-karya astronom Muslim, termasuk karya Al Battani.

Kontribusi Al Battani ini membantu membuka jalan bagi pemikiran revolusioner Copernicus tentang tata surya.

Biografi

Abdallah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan al-Battani al-Harrani lahir sekitar tahun 858 M di Harran. Battani pertama kali dididik oleh ayahnya Jabir Ibn San’an al-Battani, yang juga seorang ilmuwan terkenal.

Dia kemudian pindah ke Raqqa, terletak di tepi sungai Efrat, di mana dia menerima pendidikan lanjutan dan kemudian berkembang sebagai sarjana. Pada awal abad ke-9, dia bermigrasi ke Samarra, tempat dia bekerja hingga akhir hayatnya.

Semua sejarawan sepakat bahwa Al-Battani wafat pada tahun 317 H/929 M, di dekat kota Mosul di Irak, dalam usia 71 tahun.

Dia dianggap sebagai salah satu astronom Arab paling terkenal. Dia mendedikasikan seluruh hidupnya sampai kematiannya untuk mengamati planet dan bintang.

Warisannya terus hidup, dan dia dikenang sebagai salah satu astronom dan matematikawan terbesar di Zaman Keemasan Islam. (Dari berbagai sumber)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button