Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

NASIONAL

Refleksi Hari Santri Nasional: Aku Titipkan Anakku di Pesantren

AsSAJIDIN.COM — Tanggal 22 Agustus 2022 lalu menjadi hari yang paling menyedihkan sekaligus tak dapat dilupakan bagi keluarga besar Rusdi dan Siti Soimah, warga Jalan Mayor Zen Kota Palembang.  Di hari itu, kabar duka datang dari Pondok Pesantren Gontor Pusat Ponorogo Jawatimur, tempat anak sulung mereka Albar Mahdi (17) menimba ilmu selama tiga tahun terakhir.

Hati mereka teriris, begitu juga sanak saudara dan teman sejawat.  Tak ada angin tak ada hujan, keluarga diberitahu anak yang sedang mondok dinyatakan meninggal dunia. Air mata semakin tak terbendung saat jenazah datang dalam kondisi tidak wajar ada tanda-tanda kekerasan dialaminya.

Belakangan diketahui, almarhum Albar meninggal setelah dianiaya dua seniornya, dilatarbelakangi masalah sepele pertanggungjawaban peralatan pasca kegiatan Perkajum (Perkemahan Kamis Jumat). Ada dua korban lagi selain almarhum, tetapi dua korban ini alhamdulillah hanya mengalami luka ringan. Saat ini, kasus penganiayaan ini terus diselidiki dan segera disidangkan.

Kasus penganiayaan di lingkungan pesantren bukan yang pertama kali ini saja. Mengutip dari CNN Indonesia, dalam dua bulan terakhir sedikitnya ada tiga kasus penganiayaan mengakibatkan meninggal dunia  yakni di Ponpes Gontor Ponorogo, Ponpes Daar El Qolam Tangerang (santri meninggal usai berkelahi dengan sesama santri) dan Ponpes Darul Quran Lantaburo Tangerang (santri meninggal diduga dikeroyok).  Sebegitu seramkah kondisi pondok pesantren saat ini? Apa yang salah dalam pengelolaan ponpes?

Lihat Juga :  Upacara Peringati Hari Santri, Warga MAN Insan Cendikia OKI Sumsel Kenakan Sarung

 

Masih Percaya Ponpes

Tepat pada 22 Oktober ini, diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Walau bagaimanapun pondok pesantren masih menjadi lembaga pendidikan para orangtua untuk membekali anak-anak sebagai generasi bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak baik dan menguasai ilmu dan teknologi sesuai perkembangan zaman.

“Aku titipkan anakku di Pesantren”. Menyekolahkan anak di pesantren jadi alasan banyak orangtua agar buah hatinya mendapat ilmu agama yang mumpuni dari para ulama. Bersekolah di pesantren, berarti orangtua harus berpisah jarak dengan anak.

 

Tak bisa bertemu kapan pun dan hanya di waktu-waktu tertentu saja. Hal ini bagi beberapa orangtua terasa berat, begitu juga bagi anak.  “Kasus seperti yang dialami bu Soimah, saya sebagai ortu yang juga punya anak di pondok pesantren sempat khawatir. Tapi kita kan punya Allah, kita pasrahkan, tawakkal kepada Allah, biar Allah menjaga anak kita,” kata salah satu orang tua  dari santri yang kini juga tengah mondok di Pesantren Gontor.

Ibu anak semata wayang ini mengaku masih percaya menitipkan anaknya di Ponpes untuk bekalnya kelak. Demi cita-cita ini, dirinya menguatkan diri melawan rasa kangen terhadap anak. “Kalau jauh begini, hanya doa sebagai obat,’ katanya.

Sukardi, mantan anak Pon-Pes Raudhatul Ulum Sakatiga Sakatiga Ogan Komering Ilir  Sumsel, tahu betul bagaimana kehidupan di ponpes. “Mungkin sekarang sudah banyak perubahan. Kita harapkan perubahan yang lebih baik ya,” katanya.

Lihat Juga :  Peringatan Hari Santri Harus Sesuai Protokol Kesehatan Tangkal Covid-19

Zaman dirinya di Ponpes pada era 80-an hingga 90-an, hidup di ponpes harus siap prihatin. Dari mulai makan dan minum, keterbatasan sarana dan prasarana dan aktivitas lainnya. Ini tentu seharusnya tidak lagi di zaman sekarang.

 

Diakui aktivis Kerja Nyata Sosial (KNS) dan Paham Qurani ini, interaksi santri di ponpes lebih banyak dengan sesama santri termasuk senior dibanding dengan ustad/ustadzahnya. “Jadi wajar bila ada benturan-benturan sedikit. Seharusnya pengawasan tetap harus melekat dari para ustad/ustadzahnya, jangan dilepas betul,” kata Sukardi.

 

Walau bagaimana pun, Pondok pesantren yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dengan kekhasannya telah terbukti berkontribusi melahirkan insan beriman yang berkarakter, cinta tanah air dan berkemajuan.

 

Kaum sarungan itu juga terbukti memiliki kontribusi nyata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, pergerakan kebangsaan, maupun pembangunan nasional.

“Pesantren secara nyata telah berperan penting dalam membentuk, mendirikan, membangun, dan menjaga negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, baik melalui aktivitas pendidikan, dakwah, maupun pemberdayaan masyarakat.

Pertimbangan ini yang kemudian menjadi landasan filosofis mengapa negara perlu hadir untuk menjaga kekhasan dan menjamin penyelenggaraan pesantren yang aman.  (novi amanah/berbagai sumber)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button