Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

HAJI & UMROH

Pesan Kedamaian di Arafah Jalan Keluar Jemaah Haji Menjadi Haji Mabrur

AsSAJIDIN.COM — SINAR matahari dari barat Kota Mekkah perlahan meredup. Mobil yang saya tumpangi melaju kencang menuju padang Arafah, tempat dilaksanakannya puncak pelaksanaan ibadah haji oleh seluruh jamaah dari penjuru dunia. Sore itu, kondisi jalan masih ramai, tetapi nyaris tanpa hambatan.
Selain ruas jalan yang sangat luas, kepadatan pun berangsur turun karena hampir semua jamaah telah berada di padang Arafah yang sudah bergerak sejak subuh kemarin. Selain itu, jumlah kendaraan memang dibatasi sehingga tidak terjadi kemacetan yang luar biasa. Pemeriksaan stiker masuk Arafah pun tidak tersendat lama dengan banyaknya personel kepolisian setempat yang melakukan pemeriksaan secara berlapis. Setiap mobil minimal harus mempunyai dua buah stiker yang ditempel di kaca depan sehingga cukup jelas bagi para petugas.
Bus angkutan jamaah ditempeli poster besar, sehingga setiap kali melewati pemeriksaan, kendaraan tidak perlu berhenti. Inilah kerja profesional aparat kepolisian Mekkah untuk melayani tamu-tamu Allah sehingga tidak terjadi penumpukan di area pemeriksaan.
Namun, jangan dikira kendaraan akan lolos jika ada mobil tak berstiker. Perjalanan ke Arafah hanya ditempuh 45 menit saja meskipun kondisi jalan masih ramai. Di setiap detak jantung, irama gema talbiyah menyertai yang terus berkumandang. Tidak ada gangguan selama perjalanan yang mengalihkan perhatian dari kekhusyuan menuju padang Arafah. Hati hanya tertuju kehadirat Allah SWT dengan niat suci memenuhi panggilan-Nya. Sang supir pun mengikuti setiap talbiyah yang lafazkan.
“Labbaikallahumma labbaik.” Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Perjalanan spiritual haji penuh khidmat. Suasana damai di Padang Arafah sudah terasa begitu kaki menapak turun dari kendaraan menuju tenda perkemahan. Bahagia dan kerinduan kepada keluarga dan Tanah Air bercampur dalam haru begitu suara azan magrib memanggil jutaan jamaah untuk mendirikan salat.
Apakah ini pertanda pesan kedamaian Arafah yang ditinggalkan dari pertemuan Nabi Adam dan Hawa di tempat ini ratusan tahun lalu? Hati kecil kami berbisik, wahai kedamaian Arafah, curahkanlah kasih dan damaimu kepada kami dan ribuan jamaah haji Indonesia untuk kami bawa pulang bagi bangsa dan negara kami. Mata kasat memandang malam pertama perjalanan haji di padang Arafah, semua merasakan kedamaian. Jamaah haji Indonesia tidak lagi mengeluh masalah makanan katering.
Transportasi dari pemondokan menuju Arafah berjalan lancar. Tikar-tikar digelar di luar perkemahan, sebagian jamaah bercengkerama, sebagian lagi mendirikan salat malam, dan yang lain terlelap tidur dari kepenatan. Semuanya dalam suasana damai di malam pertama padang Arafah. Tubuh sekitar 5 juta manusia yang memadati Arafah hanya berbungkus dua helai kain ihram.
Disinilah pemberhentian semua jamaah haji dari segala aktivitas selama meninggalkan negara nun jauh di seberang. Berhenti dari kegiatan duniawi. Berhenti dari tindakan yang dilarang, amarah, rasa dengki, membicarakan aib orang lain, dan semua jenis penyakit hati.
Dalam bahasa Arab, pemberhentian ini disebut wukuf, dimana doa dan pengharapan dipanjatkan. Disini pula jalan keluar para jamaah haji menjadi haji mabrur sebagaimana disebutkan bahwa Alhajju Arafah. Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah.(*/sumber: kemenag.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button