Orang Beriman itu Harus Beramal Shalih

Oleh: H. Bangun Lubis
Beramal shalih sesuai dengan perintah Allah dan petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Jika tidak, maka batal pula amalannya. Karena Rasulullah telah membentangkan semua perkaran amal dan tatacara serta waktu dan kondisi bagaimana kita menjalankannya.
Sesungguhnya orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ( Al-Hujurat : 15 ).
Dalam Satu Diskusi yang dilakukan oleh Majelis Generasi Pengalam Al Quran belum lama ini di Masdjid Al Furqon, Haji Djuliar Rasyid, mengupas betapa Al Quran dan Hadis teleh membentangkan semua dalil dan pedoman bagaimana seorang muslim yang beriman menjalankan kehidupannya.
Setiap orang Islam harus melaksanakan semua perintah Allah dan Rasulnya dalam kehidupannya sehari-hari terkait dengan amal-amal yang telah digariskan. Tanpa amal maka seseorang yang beriman tidak lengkap. Ketika tidak lengkap, maka belumlah seseorang itu dikatakan beriman. Sebab orang beriman harus beramal shalih.
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaula h tempat kembali”.(QS. Al Baqarah : 285).
Dalam majelis yang sama dan pada hari yang lain //Ustads Rediansyah// juga menyinggung soal keberimanan dan amal shalih. Surah Al-Baqarah dimulai dengan menerangkan bahwa Alquran tidak ada keraguan padanya dan juga menerangkan sikap manusia terhadapnya, yaitu ada yang beriman, ada yang kafir dan ada yang munafik. Selanjutnya disebutkan hukum-hukum salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, jihad, riba, hukum perjanjian dan sebagainya, sebagai gambaran yang harus dilakukan oleh orang yang beriman..
Ayat – ayat itu, ujarnya, adalah sebagai ayat penutup surah Al-Baqarah yang menegaskan sifat Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya terhadap Alquran. Mereka mempercayainya, menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan ayat ini juga menegaskan akan kebesaran dan kebenaran Nabi
Ustadz Haji Reza Esfan, dalam kesempatan lain pada sebuah kajian Islam di Mesjid Al Furqon belum lama ini, menjelaskan pada bagian materinya, bahwa Iman sangat terkait erat dengan amal shalih, bersinggungan satu sama lain dan seakan-akan nyaris tanpa beda atau secara substansial sama.
Suatu contoh bukti adalah bahwa kedua-duanya dalam al-Qur’an sama-sama secara eksplisit dicirikan dengan “shalat” dan “zakat”. Orang yang berima hendaklah berzakat, salat, berinfak dan amal-amal shalih lainnya yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Kaidah ini menunjukan bahwa bukti baiknya keadaan seseorang adalah keistiqamahannya dalam iman dan amal shaleh serta semangatnya untuk selalu bergegas melakukan kebaikan, bukan harta melimpah, bukan pula pengakuan-pengakuan hampa. Orang yang senantiasa melakukan perbuatan taat dan konsisten menjalankan al-Qur’an dan sunnah, dialah orang baik, sebaliknya yang tidak seperti itu berarti dia buruk, bagaimanapun pengakuan dan perkataannya.
Kaidah dijelaskan dalam banyak ayat, diantaranya firman Allâh. “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Saba’/34:37).
Lalu, pada ayat lain disebutkan,’ “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih, (QS.As-Syu’ara/26:88-89) . (Tidak demikian) bahkan barangsiapa menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [Al-Baqarah/2:112]
Lebih dari itu, seseorang bisa disebut mukmin dalam arti sebenarnya (al-mu’min al-shadiq) jika ia juga mengaktualisasikan keimanannya itu dengan disusul dengan follow up-nya, yang dalam ayat di atas dicontohkan dengan salat, infak, zakat, puasa, bersedkekah, berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah SWT.
Maka tidak benar jika iman itu hanya sebatas keyakinan belaka, namun ia merupakan keyakinan yang teguh dan kokoh tanpa ada keraguan sedikitpun. Lebih dari itu, sebagai tindak lanjut dari keyakinan yang dianutnya, seorang mukmin sejati akan benar-benar mengaktualisasikan keimanannya dengan perkara amal salehnya..(*)
