INTERNASIONAL
Teladan Nabi Muhammad Menahan Amarah

AsSAJIDIN.COM — BULAN suci Ramadhan, merupakan bulan di mana umat muslim menunaikan ibadah puasa. Dalam berpuasa umat muslim diwajibkan untuk menahan lapar, amarah dan perbuatan tidak baik lainnya.
Pada tausiah kisah inspiratif kali ini melalui sebuah kisah pada zaman Nabi Muhammad SAW, Ustadz Madi Apriadi menceritakan bagaimana teladan untuk menahan amarah.
“Dikisahkan saat Nabi Muhammad ingin menyampaikan dakwah di sebuah daerah bernama Thaif ia ditolak keras oleh masyarakat Thaif bahkan Nabi Muhammad dilempari batu hingga berdarah-darah di sekujur kakinya.
“Karena hal tersebut Nabi Muhammad akhirnya lari dari Thaif, di mana masyarakat tetap memukuli dirinya dengan batu. Bahkan malaikat Jibril ikut turun menemui Nabi Muhammad,” lanjut Ustadz Madi.
Kata Jibril “Apakah ingin Bukit Tursina itu aku timpakan kepada orang-orang Thaif? Tanya Jibril.
Namun Nabi Muhammad SAW mengatakan “Jangan! Karena sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui,” kata nabi.
“Dari kisah inilah Nabi Muhammad SAW mengajarkan, bahwa beliau sangat sabar, bagaimana beliau mengajarkan bagaimana menahan amarah kepada kita. Namun hal ini bertolak belakang dengan zaman saat ini, dimana seseorang dengan mudahnya merenggut nyawa orang lain hanya karena ucapan saja misalnya, karena perbuatan sepele,” papar Ustadz Madi.
Dalam Alquran, Quran Surat Al-Imron Ayat 133 sampai 135, ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah yang segera memohon ampun, sedekah dalam sempat maupun sempit, mampu memaafkan kesalahan orang lain. Ia mampu menahan amarahnya, ia mampu bersabar.
“Mudah-mudahan Ramadhan kali ini, puasa kita kali ini menjadikan kita orang-orang yang mampu menahan amarah kita dan mampu mengamalkan ajaran ke kehidupan sehari-hari ini selama-lamanya, sehingga kita menjadi manusia yang mulia di sisi Allah SWT,” ajak Ustad Madi.
(*/sumber: tribunsumsel)
