Niat dan Syarat Sahnya Mandi Wajib

ASSAJIDIN.COM — Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari āUmar bin Al Khattab, Nabi shallallahu āalaihi wa sallam bersabda,
Ų„ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ Ų§ŁŲ£ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ§ŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ŲŖŁ
āSesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.ā (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Rukun Mandi
Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.
Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu āalaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits āAisyah radhiyallahu āanha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu āalaihi wa sallam,
Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ų¬ŁŲ³ŁŲÆŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ
āKemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.ā (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, āPenguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.ā[1]
Dari Jubair bin Muthāim berkata, āKami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu āalaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,
Ų£ŁŁ ŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¢Ų®ŁŲ°Ł Ł ŁŁŁŲ”Ł ŁŁŁŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«Ų§Ł ŁŁŲ£ŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁ Ų«ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŁŁŁŲ¶ŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų³ŁŲ§Ų¦ŁŲ±Ł Ų¬ŁŲ³ŁŲÆŁŁ
āSaya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.ā (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syuāaib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)
Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,
ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁ Ų§Ł ŁŲ±ŁŲ£ŁŲ©Ł Ų£ŁŲ“ŁŲÆŁŁ Ų¶ŁŁŁŲ±Ł Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŲ¶ŁŁŁ ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŁŁ Ā« ŁŲ§Ł Ų„ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲŁŲ«ŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«Ł ŲŁŲ«ŁŁŁŲ§ŲŖŁ Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŁŁŁŲ¶ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲŖŁŲ·ŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ā».
āSaya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?ā Beliau bersabda, āJangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.ā (HR. Muslim no. 330)
Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.
Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.[2]
Tata Cara Mandi yang Sempurna
Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari āAisyah dan hadits dari Maimunah.
Hadits pertama:
Ų¹ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŲ©Ł Ų²ŁŁŁŲ¬Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ā ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ā Ų£ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ā ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ā ŁŁŲ§ŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§ŲŗŁŲŖŁŲ³ŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©Ł ŲØŁŲÆŁŲ£Ł ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁŲ£Ł ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁŲ£Ł ŁŁŁŲµŁŁŁŲ§ŁŲ©Ł Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲÆŁŲ®ŁŁŁ Ų£ŁŲµŁŲ§ŲØŁŲ¹ŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł Ų ŁŁŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲµŁŁŁŁ Ų“ŁŲ¹ŁŲ±ŁŁŁ Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«Ł ŲŗŁŲ±ŁŁŁ ŲØŁŁŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ų¬ŁŁŁŲÆŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ
Dari āAisyah, isteri Nabi shallallahu āalaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu āalaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kem
udian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.ā (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)
Hadits kedua:
Ų¹ŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³Ł ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ł ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ¶ŁŲ¹ŁŲŖŁ ŁŁŲ±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ā ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ā Ł ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲŗŁŲŖŁŲ³ŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų ŁŁŲ£ŁŁŁŲ±ŁŲŗŁ Ų¹ŁŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§ Ł ŁŲ±ŁŁŲŖŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ±ŁŁŲŖŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«ŁŲ§ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŁŁŲ±ŁŲŗŁ ŲØŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų“ŁŁ ŁŲ§ŁŁŁŁ Ų ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁ Ł ŁŲ°ŁŲ§ŁŁŁŲ±ŁŁŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŲÆŁŁŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŲ£ŁŲ±ŁŲ¶Ł Ų Ų«ŁŁ ŁŁ Ł ŁŲ¶ŁŁ ŁŲ¶Ł ŁŁŲ§Ų³ŁŲŖŁŁŁŲ“ŁŁŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŗŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŗŁŲ³ŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«ŁŲ§ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŁŁŲ±ŁŲŗŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų¬ŁŲ³ŁŲÆŁŁŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŁŁŲŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ł ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŁ ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁ ŁŁŁŁŁ
Dari Ibnu āAbbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, āAku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu āalaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).ā (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)
Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.
Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, āBoleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran ⦠Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.ā[3]
Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.
An Nawawi rahimahullah mengatakan, āDisunnahkan bagi orang yang beristinjaā (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.ā[4]
Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, āAdapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).ā[5]
Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?
Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu āalaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits āAisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu āalaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.
Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits āAisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat āAisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.
Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, āTata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits āAisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.ā[6]
Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
Keenam: Memulai mencuci kepala bagia
n kanan, lalu kepala bagian kiri.
Ketujuh: Menyela-nyela rambut.
Dalam hadits āAisyah radhiyallahu āanha disebutkan,
ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ā ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ā Ų„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§ŲŗŁŲŖŁŲ³ŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©Ł ŲŗŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁŲ£Ł ŁŁŲ¶ŁŁŲ”ŁŁŁ ŁŁŁŲµŁŁŁŲ§ŁŲ©Ł Ų«ŁŁ ŁŁ Ų§ŲŗŁŲŖŁŲ³ŁŁŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲÆŁŁŁ Ų“ŁŲ¹ŁŲ±ŁŁŁ Ų ŲŁŲŖŁŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŲøŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲÆŁ Ų£ŁŲ±ŁŁŁŁ ŲØŁŲ“ŁŲ±ŁŲŖŁŁŁ Ų Ų£ŁŁŁŲ§Ų¶Ł Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«Ł Ł ŁŲ±ŁŁŲ§ŲŖŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŗŁŲ³ŁŁŁ Ų³ŁŲ§Ų¦ŁŲ±Ł Ų¬ŁŲ³ŁŲÆŁŁŁ
āJika Rasulullah shallallahu āalaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.ā (HR. Bukhari no. 272)
Juga āAisyah radhiyallahu āanha mengatakan,
ŁŁŁŁŁŲ§ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ Ų£ŁŲµŁŲ§ŲØŁŲŖŁ Ų„ŁŲŁŲÆŁŲ§ŁŁŲ§ Ų¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©Ł Ų Ų£ŁŲ®ŁŲ°ŁŲŖŁ ŲØŁŁŁŲÆŁŁŁŁŁŲ§ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°Ł ŲØŁŁŁŲÆŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ£ŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų ŁŁŲØŁŁŁŲÆŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ£ŁŲ®ŁŲ±ŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ£ŁŁŁŲ³ŁŲ±Ł
āJika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.ā (HR. Bukhari no. 277)
Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.
Dalilnya adalah hadits āAisyah radhiyallahu āanha, ia berkata,
ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ā ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ā ŁŁŲ¹ŁŲ¬ŁŲØŁŁŁ Ų§ŁŲŖŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŁ ŲŖŁŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ±ŁŲ¬ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ·ŁŁŁŁŲ±ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŲ£ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ
āNabi shallallahu āalaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).ā (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[7]
Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?
Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, āSaya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?ā Beliau bersabda, āJangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.ā (HR. Muslim no. 330)
Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:
Pertama: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.
Hal ini berdasarkan hadits āAisyah radhiyallahu āanha,
Ų£ŁŁŁŁ Ų£ŁŲ³ŁŁ ŁŲ§Ų”Ł Ų³ŁŲ£ŁŁŁŲŖŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ -ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ - Ų¹ŁŁŁ ŲŗŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲŁŁŲ¶Ł ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ā« ŲŖŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°Ł Ų„ŁŲŁŲÆŁŲ§ŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ§Ų”ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲÆŁŲ±ŁŲŖŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲ·ŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲŖŁŲŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŲ·ŁŁŁŁŁŲ±Ł Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁ ŲÆŁŁŁŁŁŲ§ Ų“ŁŲÆŁŁŲÆŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŁŁŲŗŁ Ų“ŁŲ¦ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł. Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°Ł ŁŁŲ±ŁŲµŁŲ©Ł Ł ŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲŖŁŲ·ŁŁŁŁŲ±Ł ŲØŁŁŁŲ§ Ā». ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų£ŁŲ³ŁŁ ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŲŖŁŲ·ŁŁŁŁŲ±Ł ŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ā« Ų³ŁŲØŁŲŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲŖŁŲ·ŁŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ Ā». ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŲ©Ł ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲ®ŁŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁŁ ŲŖŁŲŖŁŲØŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŲ«ŁŲ±Ł Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ł. ŁŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁŲŖŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŲŗŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŲ§ŲØŁŲ©Ł ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ā« ŲŖŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°Ł Ł ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲŖŁŲ·ŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲŖŁŲŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŲ·ŁŁŁŁŁŲ±Ł ā Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŁŁŲŗŁ Ų§ŁŲ·ŁŁŁŁŁŲ±Ł ā Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŁŁŲŗŁ Ų“ŁŲ¦ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŁŁŁŲ¶Ł Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł Ā»
āAsmaā bertanya kepada Nabi shallallahu āalaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, āSalah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersu
ci dengannya. Lalu Asmaā berkata, āBagaimana dia dikatakan suci dengannya?ā Beliau bersabda, āSubhanallah, bersucilah kamu dengannya.ā Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, āKamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)ā. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, āHendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanyaā.ā (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)
Kedua: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.
Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,
Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁ ŲÆŁŁŁŁŁŲ§ Ų“ŁŲÆŁŁŲÆŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŁŁŲŗŁ Ų“ŁŲ¦ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§
āKemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.ā Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,
Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲµŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŁŁŲŗŁ Ų“ŁŲ¦ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ£ŁŲ³ŁŁŁŲ§ Ų«ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŁŁŁŲ¶Ł Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł
āKemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.ā
Dalam mandi junub tidak disebutkan āmenggosok-gosok dengan kerasā. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.
Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.
Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?
Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,
Ų¹ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŲ©Ł Ų£ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ -ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ - ŁŁŲ§ŁŁ ŁŲ§Ł ŁŁŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁŲ£Ł ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁ
Dari āAisyah, ia berkata, āNabi shallallahu āalaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.ā (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sebuah riwayat dari Ibnu āUmar,
Ų³ŁŲ¦ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¶ŁŁŲ”Ł ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ:ŁŁŲ£ŁŁŁŁ ŁŁŲ¶ŁŁŲ”Ł Ų£ŁŲ¹ŁŁ ŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲŗŁŲ³ŁŁŁŲ
Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, āLantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?ā (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfuā dan mauquf[8])
Abu Bakr Ibnul āArobi berkata, āPara ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.ā Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijmaā (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.[9]
Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.
Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi?
Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,
ŁŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŲŖŁŁŁ Ų«ŁŁŁŲØŁŲ§ ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°ŁŁŁ Ų ŁŁŲ§ŁŁŲ·ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲ¶Ł ŁŁŲÆŁŁŁŁŁ
āLalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannyaā (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut bukanlah pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:
Perbuatan Nabi shallallahu āalaihi wa sallam ketika itu masih mengandung beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk) tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.
Hadits ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi shallallahu āalaihi wa sallam adalah mengeringkan badan sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau tidak d
ibawakan handuk ketika itu.
Mengeringkan air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.
Kesimpulannya, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.[10]
Demikian pembahasan kami seputar mandi wajib (al ghuslu). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah yang akan kami jelaskan pada tulisan selanjutnya (serial ketiga atau terakhir).
Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi niāmatihi tatimmush sholihaat.
Selesai susun di wisma MTI, 7 Jumadits Tsani 1431 H (20/05/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Maārifah, 1379.
[2] Penjelasannya silakan lihat di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.
[3] Fathul Bari, 1/360.
[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihyaā At Turots Al āArobi, 1392.
[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, Muhammad bin āAli Asy Syaukani, hal. 61, Darul āAqidah, terbitan tahun 1425 H.
[6] Shahih Fiqh Sunnah, 1/175-176.
[7] Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, āAlauddin Abul Hasan āAli bin Muhammad Al Baāli Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqiā Misykatul Islamiyah.
[8] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61
[9] Idem.
[10] Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.(*/sumber:muslim.or.id/3313-tata-cara-mandi-wajib.html)
