SYARIAH

Niat dan Syarat Sahnya Mandi Wajib

ASSAJIDIN.COM — Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari ā€˜Umar bin Al Khattab, Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam bersabda,

Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŲ§Ł„Ł ŲØŁŲ§Ł„Ł†ŁŁ‘ŁŠŁŽŁ‘Ų§ŲŖŁ

ā€œSesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.ā€ (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Rukun Mandi

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits ā€˜Aisyah radhiyallahu ā€˜anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam,

Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁŠŁŁŁŁŠŲ¶Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų¬ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŁ‡Ł ŁƒŁŁ„ŁŁ‘Ł‡Ł

ā€œKemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.ā€ (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ā€œPenguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.ā€[1]

Dari Jubair bin Muth’im berkata, ā€œKami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

Ų£ŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų§ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ¢Ų®ŁŲ°Ł Ł…ŁŁ„Ł’Ų”ŁŽ ŁƒŁŽŁŁŁ‘Ł‰ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«Ų§Ł‹ ŁŁŽŲ£ŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‰ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų£ŁŁŁŁŠŲ¶ŁŁ‡Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų³ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ±Ł Ų¬ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŁ‰

ā€œSaya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.ā€ (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

Ł‚ŁŁ„Ł’ŲŖŁ ŁŠŁŽŲ§ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ؄ِنِّى Ų§Ł…Ł’Ų±ŁŽŲ£ŁŽŲ©ŁŒ Ų£ŁŽŲ“ŁŲÆŁŁ‘ Ų¶ŁŽŁŁ’Ų±ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‰ ŁŁŽŲ£ŁŽŁ†Ł’Ł‚ŁŲ¶ŁŁ‡Ł Ł„ŁŲŗŁŲ³Ł’Ł„Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ā« Ł„Ų§ŁŽ Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁƒŁ’ŁŁŁŠŁƒŁ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲ­Ł’Ų«ŁŁ‰ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁƒŁ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«ŁŽ Ų­ŁŽŲ«ŁŽŁŠŁŽŲ§ŲŖŁ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŁŁŁŠŲ¶ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’ŁƒŁ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁŁŽŲŖŁŽŲ·Ł’Ł‡ŁŲ±ŁŁŠŁ†ŁŽ Ā».

ā€œSaya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?ā€ Beliau bersabda, ā€œJangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.ā€ (HR. Muslim no. 330)

Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.[2]

Tata Cara Mandi yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ā€˜Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Hadits pertama:

Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų¹ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŽŲ©ŁŽ Ų²ŁŽŁˆŁ’Ų¬Ł Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁ‰ŁŁ‘ – صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… – Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁ‰ŁŽŁ‘ – صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… – ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų§ŲŗŁ’ŲŖŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©Ł ŲØŁŽŲÆŁŽŲ£ŁŽ ŁŁŽŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ ŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŁ‘Ų£Ł ŁƒŁŽŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŁ‘Ų£Ł Ł„ŁŁ„ŲµŁŽŁ‘Ł„Ų§ŁŽŲ©Ł ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁŠŁŲÆŁ’Ų®ŁŁ„Ł Ų£ŁŽŲµŁŽŲ§ŲØŁŲ¹ŁŽŁ‡Ł فِى Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł ، ŁŁŽŁŠŁŲ®ŁŽŁ„ŁŁ‘Ł„Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų£ŁŲµŁŁˆŁ„ŁŽ Ų“ŁŽŲ¹ŁŽŲ±ŁŁ‡Ł Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁŠŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡Ł Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«ŁŽ ŲŗŁŲ±ŁŽŁŁ ŲØŁŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁŠŁŁŁŁŠŲ¶Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ جِلْدِهِ ŁƒŁŁ„ŁŁ‘Ł‡Ł

Dari ā€˜Aisyah, isteri Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kem

udian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.ā€ (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadits kedua:

Ų¹ŁŽŁ†Ł ابْنِ Ų¹ŁŽŲØŁŽŁ‘Ų§Ų³Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ Ł…ŁŽŁŠŁ’Ł…ŁŁˆŁ†ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŲ¶ŁŽŲ¹Ł’ŲŖŁ Ł„ŁŲ±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł – صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… – Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł‹ ŁŠŁŽŲŗŁ’ŲŖŁŽŲ³ŁŁ„Ł بِهِ ، ŁŁŽŲ£ŁŽŁŁ’Ų±ŁŽŲŗŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ ŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ، ŁŁŽŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ł…ŁŽŲ±ŁŽŁ‘ŲŖŁŽŁŠŁ’Ł†Ł Ł…ŁŽŲ±ŁŽŁ‘ŲŖŁŽŁŠŁ’Ł†Ł Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«Ł‹Ų§ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŁŁ’Ų±ŁŽŲŗŁŽ ŲØŁŁŠŁŽŁ…ŁŁŠŁ†ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų“ŁŁ…ŁŽŲ§Ł„ŁŁ‡Ł ، ŁŁŽŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ Ł…ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŁƒŁŁŠŲ±ŁŽŁ‡Ł ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲÆŁŽŁ„ŁŽŁƒŁŽ ŁŠŁŽŲÆŁŽŁ‡Ł ŲØŁŲ§Ł„Ų£ŁŽŲ±Ł’Ų¶Ł ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ł…ŁŽŲ¶Ł’Ł…ŁŽŲ¶ŁŽ ŁˆŁŽŲ§Ų³Ł’ŲŖŁŽŁ†Ł’Ų“ŁŽŁ‚ŁŽ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ ŁˆŁŽŲ¬Ł’Ł‡ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŽŁ‡Ł Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«Ł‹Ų§ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŁŁ’Ų±ŁŽŲŗŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų¬ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŁ‡Ł ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŁ†ŁŽŲ­ŁŽŁ‘Ł‰ مِنْ Ł…ŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł…ŁŁ‡Ł ŁŁŽŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ Ł‚ŁŽŲÆŁŽŁ…ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł

Dari Ibnu ā€˜Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, ā€œAku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ā€˜alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).ā€ (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, ā€œBoleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.ā€[3]

Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

Lihat Juga :  Dzikir Pembuka Rezeki, Hidup Semakin Berkah dan Diridhai

Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ā€œDisunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.ā€[4]

Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, ā€œAdapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).ā€[5]

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ā€˜Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ā€˜Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ā€˜Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, ā€œTata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ā€˜Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.ā€[6]

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

Keenam: Memulai mencuci kepala bagia

n kanan, lalu kepala bagian kiri.

Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ā€˜Aisyah radhiyallahu ā€˜anha disebutkan,

ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł – صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… – Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų§ŲŗŁ’ŲŖŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©Ł ŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ ŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ، ŁˆŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŁ‘Ų£ŁŽ ŁˆŁŲ¶ŁŁˆŲ”ŁŽŁ‡Ł Ł„ŁŁ„ŲµŁŽŁ‘Ł„Ų§ŁŽŲ©Ł Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų§ŲŗŁ’ŲŖŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁŠŁŲ®ŁŽŁ„ŁŁ‘Ł„Ł ŲØŁŁŠŁŽŲÆŁŁ‡Ł Ų“ŁŽŲ¹ŁŽŲ±ŁŽŁ‡Ł ، Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ ŲøŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŁ†Ł’ Ł‚ŁŽŲÆŁ’ Ų£ŁŽŲ±Ł’ŁˆŁŽŁ‰ ŲØŁŽŲ“ŁŽŲ±ŁŽŲŖŁŽŁ‡Ł ، Ų£ŁŽŁŁŽŲ§Ų¶ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«ŁŽ Ł…ŁŽŲ±ŁŽŁ‘Ų§ŲŖŁ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŗŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽ Ų³ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ±ŁŽ Ų¬ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŁ‡Ł

ā€œJika Rasulullah shallallahu ā€˜alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.ā€ (HR. Bukhari no. 272)

Juga ā€˜Aisyah radhiyallahu ā€˜anha mengatakan,

ŁƒŁŁ†ŁŽŁ‘Ų§ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲµŁŽŲ§ŲØŁŽŲŖŁ’ Ų„ŁŲ­Ł’ŲÆŁŽŲ§Ł†ŁŽŲ§ Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©ŁŒ ، Ų£ŁŽŲ®ŁŽŲ°ŁŽŲŖŁ’ ŲØŁŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŽŲ§ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«Ł‹Ų§ ŁŁŽŁˆŁ’Ł‚ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲ£Ł’Ų®ŁŲ°Ł ŲØŁŁŠŁŽŲÆŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų“ŁŁ‚ŁŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ų£ŁŽŁŠŁ’Ł…ŁŽŁ†Ł ، ŁˆŁŽŲØŁŁŠŁŽŲÆŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ų£ŁŲ®Ł’Ų±ŁŽŁ‰ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų“ŁŁ‚ŁŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ų£ŁŽŁŠŁ’Ų³ŁŽŲ±Ł

ā€œJika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.ā€ (HR. Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah hadits ā€˜Aisyah radhiyallahu ā€˜anha, ia berkata,

ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁ‰ŁŁ‘ – صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… – ŁŠŁŲ¹Ł’Ų¬ŁŲØŁŁ‡Ł Ų§Ł„ŲŖŁŽŁ‘ŁŠŁŽŁ…ŁŁ‘Ł†Ł فِى ŲŖŁŽŁ†ŁŽŲ¹ŁŁ‘Ł„ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŁ‘Ł„ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ·ŁŁ‡ŁŁˆŲ±ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŁŁŁ‰ Ų“ŁŽŲ£Ł’Ł†ŁŁ‡Ł ŁƒŁŁ„ŁŁ‘Ł‡Ł

ā€œNabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).ā€ (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[7]

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, ā€œSaya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?ā€ Beliau bersabda, ā€œJangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.ā€ (HR. Muslim no. 330)

Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.

Hal ini berdasarkan hadits ā€˜Aisyah radhiyallahu ā€˜anha,

Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŲ³Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų³ŁŽŲ£ŁŽŁ„ŁŽŲŖŁ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁ‰ŁŽŁ‘ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- Ų¹ŁŽŁ†Ł’ ŲŗŁŲ³Ł’Ł„Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ­ŁŁŠŲ¶Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ā« ŲŖŁŽŲ£Ł’Ų®ŁŲ°Ł Ų„ŁŲ­Ł’ŲÆŁŽŲ§ŁƒŁŁ†ŁŽŁ‘ Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ³ŁŲÆŁ’Ų±ŁŽŲŖŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲŖŁŽŲ·ŁŽŁ‡ŁŽŁ‘Ų±Ł ŁŁŽŲŖŁŲ­Ł’Ų³ŁŁ†Ł Ų§Ł„Ų·ŁŁ‘Ł‡ŁŁˆŲ±ŁŽ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲŖŁŽŲÆŁ’Ł„ŁŁƒŁŁ‡Ł ŲÆŁŽŁ„Ł’ŁƒŁ‹Ų§ Ų“ŁŽŲÆŁŁŠŲÆŁ‹Ų§ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲØŁ’Ł„ŁŲŗŁŽ Ų“ŁŲ¦ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ. Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲ£Ł’Ų®ŁŲ°Ł ŁŁŲ±Ł’ŲµŁŽŲ©Ł‹ Ł…ŁŁ…ŁŽŲ³ŁŽŁ‘ŁƒŁŽŲ©Ł‹ ŁŁŽŲŖŁŽŲ·ŁŽŁ‡ŁŽŁ‘Ų±Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ā». ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ Ų£ŁŽŲ³Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŁƒŁŽŁŠŁ’ŁŁŽ ŲŖŁŽŲ·ŁŽŁ‡ŁŽŁ‘Ų±Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ā« Ų³ŁŲØŁ’Ų­ŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŲŖŁŽŲ·ŁŽŁ‡ŁŽŁ‘Ų±ŁŁŠŁ†ŁŽ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ā». ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ Ų¹ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŽŲ©Ł ŁƒŁŽŲ£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ ŲŖŁŲ®Ł’ŁŁŁ‰ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ ŲŖŁŽŲŖŁŽŲØŁŽŁ‘Ų¹ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų£ŁŽŲ«ŁŽŲ±ŁŽ Ų§Ł„ŲÆŁŽŁ‘Ł…Ł. ŁˆŁŽŲ³ŁŽŲ£ŁŽŁ„ŁŽŲŖŁ’Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’ ŲŗŁŲ³Ł’Ł„Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ©Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ā« ŲŖŁŽŲ£Ł’Ų®ŁŲ°Ł Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł‹ ŁŁŽŲŖŁŽŲ·ŁŽŁ‡ŁŽŁ‘Ų±Ł ŁŁŽŲŖŁŲ­Ł’Ų³ŁŁ†Ł Ų§Ł„Ų·ŁŁ‘Ł‡ŁŁˆŲ±ŁŽ – Ų£ŁŽŁˆŁ’ ŲŖŁŲØŁ’Ł„ŁŲŗŁ Ų§Ł„Ų·ŁŁ‘Ł‡ŁŁˆŲ±ŁŽ – Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲŖŁŽŲÆŁ’Ł„ŁŁƒŁŁ‡Ł Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲØŁ’Ł„ŁŲŗŁŽ Ų“ŁŲ¦ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŁŁŁŠŲ¶Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ā»

ā€œAsma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, ā€œSalah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersu

Lihat Juga :  Doa Setelah Mandi Wajib

ci dengannya. Lalu Asma’ berkata, ā€œBagaimana dia dikatakan suci dengannya?ā€ Beliau bersabda, ā€œSubhanallah, bersucilah kamu dengannya.ā€ Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, ā€œKamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)ā€. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ā€˜Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.ā€ (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Kedua: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.

Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,

Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲŖŁŽŲÆŁ’Ł„ŁŁƒŁŁ‡Ł ŲÆŁŽŁ„Ł’ŁƒŁ‹Ų§ Ų“ŁŽŲÆŁŁŠŲÆŁ‹Ų§ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲØŁ’Ł„ŁŲŗŁŽ Ų“ŁŲ¦ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§

ā€œKemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.ā€ Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,

Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŽŲµŁŲØŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲŖŁŽŲÆŁ’Ł„ŁŁƒŁŁ‡Ł Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŽŲØŁ’Ł„ŁŲŗŁŽ Ų“ŁŲ¦ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų±ŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲŖŁŁŁŁŠŲ¶Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”ŁŽ

ā€œKemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.ā€

Dalam mandi junub tidak disebutkan ā€œmenggosok-gosok dengan kerasā€. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų¹ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŽŲ©ŁŽ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁ‰ŁŽŁ‘ -صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł„Ų§ŁŽ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŁ‘Ų£Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŲ³Ł’Ł„Ł

Dari ā€˜Aisyah, ia berkata, ā€œNabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.ā€ (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ā€˜Umar,

Ų³ŁŲ¦ŁŁ„ŁŽ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’ŁˆŁŲ¶ŁŁˆŲ”Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŲ³Ł’Ł„ŁŲŸ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ:ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁŠŁŁ‘ ŁˆŁŲ¶ŁŁˆŲ”Ł Ų£ŁŽŲ¹ŁŽŁ…ŁŁ‘ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŲ³Ł’Ł„ŁŲŸ

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, ā€œLantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?ā€ (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf[8])

Abu Bakr Ibnul ā€˜Arobi berkata, ā€œPara ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.ā€ Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.[9]

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi?

Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,

ŁŁŽŁ†ŁŽŲ§ŁˆŁŽŁ„Ł’ŲŖŁŁ‡Ł Ų«ŁŽŁˆŁ’ŲØŁ‹Ų§ ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲ£Ł’Ų®ŁŲ°Ł’Ł‡Ł ، ŁŁŽŲ§Ł†Ł’Ų·ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽ ŁˆŁŽŁ‡Ł’ŁˆŁŽ ŁŠŁŽŁ†Ł’ŁŁŲ¶Ł ŁŠŁŽŲÆŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł

ā€œLalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannyaā€ (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut bukanlah pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:

Perbuatan Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam ketika itu masih mengandung beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk) tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.
Hadits ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi shallallahu ā€˜alaihi wa sallam adalah mengeringkan badan sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau tidak d

ibawakan handuk ketika itu.
Mengeringkan air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.
Kesimpulannya, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.[10]

Demikian pembahasan kami seputar mandi wajib (al ghuslu). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah yang akan kami jelaskan pada tulisan selanjutnya (serial ketiga atau terakhir).

Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Selesai susun di wisma MTI, 7 Jumadits Tsani 1431 H (20/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Ma’rifah, 1379.

[2] Penjelasannya silakan lihat di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[3] Fathul Bari, 1/360.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ā€˜Arobi, 1392.

[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, Muhammad bin ā€˜Ali Asy Syaukani, hal. 61, Darul ā€˜Aqidah, terbitan tahun 1425 H.

[6] Shahih Fiqh Sunnah, 1/175-176.

[7] Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, ā€˜Alauddin Abul Hasan ā€˜Ali bin Muhammad Al Ba’li Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqi’ Misykatul Islamiyah.

[8] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61

[9] Idem.

[10] Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.(*/sumber:muslim.or.id/3313-tata-cara-mandi-wajib.html)

Back to top button