Jangan Hanya Jadi Romadhaniyyan (Hamba Ramadhan)

AsSAJIDIN.COM — Ulama salaf sering berpesan, kun Rabbaniyyan, wala takun sya’baniyyan wala Ramadhaniyyan (jadilah kalian hamba-hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi hamba-hamba bulan Syaban atau Ramadhan). Maksudnya, jika ingin taat menghamba kepada Allah SWT, jangan hanya di bulan Ramadhan, tetapi terus istiqamah menjaga ketaatan tersebut di sepanjang bulan yang lain.
Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Prof KH Ahmad Satori Ismail mengatakan, memang berat untuk menjadi orang yang istiqamah. Banyak orang yang sedemikian semangatnya beribadah di bulan Ramadhan, namun semuanya luntur bahkan hilang seiring hilangnya bulan Ramadhan. “Orang yang seperti itu kita istilahkan bukanlah hamba Allah, melainkan menjadi hamba Ramadhan. Karena Ramadhan selesai, semangat ibadahnya juga selesai,” jelasnya.
Padahal, tujuan dari bulan Ramadhan sebagai bulan training amal saleh supaya terbiasa beramal saleh di luar Ramadhan. Selama Ramadhan ia mampu bangun malam dan melaksanakan qiyamul lail, berpuasa di siang hari, hingga melaksanakan shalat Tarawih di masjid. Harusnya setelah Ramadhan ia sudah terlatih untuk qiyamul lail, berpuasa sunah, dan mendirikan shalat fardhu berjamaah di masjid. Bagaimana supaya keistiqamahan Ramadhan bisa terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya? Simak wawancara wartawan Republika, Hannan Putra, selengkapnya.
Apakah benar bulan Syawal bermakna bulan peningkatan?
Syawal sendiri dalam bahasa Arab diambil dari kata syalat yang bermakna naik. Ini bisa diartikan dengan meningkat atau naik. Para ulama membawakannya pada amal saleh. Hendaknya, di bulan Syawal ini amal ibadah seseorang yang sudah dilatih sebulan lamanya di bulan Ramadhan bisa naik dan meningkat.
Di bulan Ramadhan amal ibadah kita dilipatgandakan. Ibadah seperti shalat sunah dinilai sama dengan shalat wajib. Sedangkan, yang wajib dilipatgandakan 70 kali lipat. Pada bulan Syawal itu semua kembali seperti biasa. Di luar bulan Ramadhan amal kita tidak dilipatgandakan. Maka, perlu kita tingkatkan agar amal ibadah kita menjadi stabil. Jadi, di bulan Syawal ini kita perlu meningkatkan amal saleh kita agar terus seimbang dan tidak terlalu rugi.
Ramadhan itu kita ibaratkan sebagai bulan latihan bagi kita untuk beramal saleh. Sebagaimana orang latihan menembak sasaran, ia dilatih bagaimana caranya menembak seahli mungkin. Sedangkan di luar latihan, ia berhadapan dengan musuh sesungguhnya. Harusnya ia lebih siap dan sungguh-sungguh. Begitu pula kita di luar Ramadhan. Kalau kita sudah terlatih, harusnya amal kita lebih meningkat dan sungguh-sungguh.
Apa kaitan Syawal dengan Ramadhan?
Di bulan Syawal ini kita disunahkan berpuasa enam hari, menyambung puasa Ramadhan. Pahalanya kalau kita lakukan sama dengan berpuasa satu tahun penuh. Ini ganjaran yang diberikan Allah SWT. Intinya, bagaimana kita membawakan kebiasaan-kebiasaan baik di bulan Ramadhan untuk terus berlanjut di bulan Syawal.
Misalkan, di bulan Ramadhan kita terbiasa setiap hari berpuasa. Jadi, mari di luar Ramadhan kita juga berpuasa sunah. Selama Ramadhan kita qiyamul lail dengan shalat Tahajud dan Tarawih. Di luar Ramadhan kita tetap merutinkan qiyamul lail dengan shalat Tahajud tersebut.
Kalau kaitkan bulan Syawal dan Ramadhan secara syariatnya tak ada. Tetapi, kita yang harus mengaitkan bulan Ramadhan dengan bulan Syawal serta bulan-bulan lainnya dengan terus membawakan semangat beribadah di bulan Ramadhan. Jangan sampai semangat itu habis. Orang yang habis amal ibadahnya seiring habisnya bulan Ramadhan berarti menjadi orang yang rugi.
Apa yang menjadikan orang bersemangat untuk ibadah hanya di bulan Ramadhan?
Orang yang seperti itu kita istilahkan bukanlah hamba Allah, melainkan menjadi hamba Ramadhan. Karena setelah Ramadhan selesai, semangat ibadahnya juga selesai. Memang pada dasarnya manusia tidak bisa terlepas dari motivasi-motivasi. Di bulan Ramadhan banyak sekali ceramah agama dan wirid pengajian setiap malam. Ini yang memompa semangat orang untuk rajin beribadah.
Selepas Ramadhan, motivasi-motivasi ini hilang. Itu juga menjadikan orang kembali malas beribadah. Harusnya kita tetap mencari motivasi-motivasi tersebut dengan banyak mengikuti wirid pengajian. Tujuannya agar semangat kita beribadah tetap terjaga.
Pola hidup di bulan Ramadhan memaksa kita untuk taat. Kita harus bangun sahur, otomatis kita punya kesempatan untuk shalat Tahajud. Kita harus berpuasa, otomatis kondisi biologis dan metabolisme tubuh kita sehat dan stabil. Lingkungan juga ikut menuntun kita untuk taat. Malamnya pergi shalat Tarawih bersama-sama, ikut wirid, membaca Alquran. Ini yang tidak ditemui di luar Ramadhan.
Di bulan Ramadhan kita juga dimudahkan. Kalau shalat qiyamul lail yang biasanya harus bangun tidur, sekarang bisa setelah shalat Isya. Banyak sekali kelebihan di bulan Ramadhan sehingga orang berduyun-duyun beribadah. Nah, tugas kita untuk terus istiqamah menjaga semangat beribadah Ramadhan tersebut jangan sampai luntur.
Saat ini apa godaan berat menuju istiqamah?
Istiqamah adalah amalan yang berat. Istiqamah juga menjadi amal ibadah yang paling disenangi Allah SWT. Sabda Nabi SAW, “Sebaik-baik amal saleh adalah amal yang walaupun ringan tetapi bisa istiqamah.” (HR Muslim).
Manusia ini sudah banyak digoda dunia dan dipalingkan setan sehingga berat untuk istiqamah. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri juga berat untuk istiqamah. Dalam Alquran disebutkan, “Maka istiqamahlah kamu sebagaimana diperintahkan kepadamu,” (QS Hud [11]:112). Ayat ini berat, bahkan untuk Rasulullah SAW. Sampai Beliau SAW mengatakan, “Saya dibikin beruban karena surah Hud.” Hal itu disebutkan para ulama, ucapan Rasulullah SAW sedemikian karena surat Hud memerintahkan untuk istiqamah.
Rasulullah SAW saja merasa berat untuk istiqamah. Karena, kontinuitas itu memang berat. Tetapi, begitulah seharusnya seseorang dalam beribadah. Tak ada kata berhenti sampai ajal menjemput. Firman Allah SWT, “Dan sembahlah Allah SWT sampai datang kepadamu yakin (mati).” (QS al-Hijr [15]: 99).
Apa rahasia menjadi pribadi istiqamah?
Orang yang istiqamah balasannya surga. Karena ini adalah sesuatu yang paling dicintai Allah SWT, ganjarannya juga tempat yang terbaik di sisi Allah.
Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka. Maka, malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (QS Fushilat [41]: 30).
Menurut para ulama, istiqamah maksudnya adalah istiqamah dalam akidah, istiqamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, dan istiqamah dalam ikhlas dalam beramal hingga maut menjemput. Jadi, istiqamah itu bentuknya banyak, seperti dalam ucapan dan perbuatan. Ini yang sangat berat.
Keuntungan orang yang istiqamah itu dunia akhirat. Di akhirat sudah jelas mendapatkan surga. Di dunia, orang yang istiqamah tak pernah merasa takut dan sedih. Mereka selalu bahagia karena mereka yakin keistiqamahan mereka berbuah surga. Orang yang istiqamah bisa menepis berbagai macam dosa dan godaan-godaan.
Apa kiat agar bisa istiqamah?
Perlu kawan dan lingkungan yang bisa menjaga dan mengingatkan kita. Tak ada salahnya bergabung dengan kelompok-kelompok atau teman-teman yang saleh. Intinya bisa saling mengingatkan. Di bulan Ramadhan, menjalankan puasa, Tarawih, dan tadarus Alquran, semua itu terasa ringan. Justru itulah, setelah Ramadhan harus punya kawan-kawan dekat yang bisa saling mengingatkan. Harus punya sahabat dari orang-orang saleh yang menjadikan kita termotivasi untuk beribadah.
Misalnya, puasa Senin-Kamis atau ayyamul baidh (puasa sunah pertengan bulan). Semua itu akan terasa ringan jika ada yang mengingatkan dan bersama-sama dengan kawan-kawan menjalankannya. Misalkan, buka puasa bersama-sama setelah berpuasa sunah. Tentu hal ini menjadi lebih ringan. Mudah-mudahan hal yang seperti bisa meringankan kita untuk beribadah dan menjaga kita agar bisa tetap istiqamah.
Bagaimana kiat-kiat agar iman terus menanjak?
Yang utama, kita harus mengokohkan amal saleh. Jaga amal saleh kita yang walaupun sedikit, tetapi istiqamah dilakukan secara terus-menerus. Jika amal saleh terpelihara, iman juga akan terpelihara. Jika amal saleh kita menanjak, iman juga akan menanjak.
Kemudian, selalu melakukan amar makruf nahi mungkar. Memang ini bukanlah amal ibadah bersifat infiradi (individu), melainkan bersifat kolektif. Tetapi, ada di antaranya yang bisa dilakukan secara pribadi. Seperti watawashau bilhaq, watawashau bis shabr (menasihati dengan kebenaran dan kesabaran).
Insya Allah orang yang selalu menasihati orang lain juga akan terbawa baik. Rumusnya, sekuat apa pun melemparkan bola ke dinding, sekuat itu pula pantulan bola akan kembali ke orangnya. Sekuat apa mengajak orang kepada kebaikan, sekuat itu pula dirinya akan terbawa untuk beramal kebaikan pula.
Di samping itu, perlu juga mengokohkan sebab-sebab keimanan. Seperti tafakur dan tadabur ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang keimanan. Seluruhnya akan menambah dan mengokohkan keimanan. Bisa dilakukan dengan cara berjamaah bersama rekan-rekan lainnya. (*/sumber: republika)
