Psikologi Hijrah

AsSAJIDIN.COM — Masih di suasana Muharram, tidak salah rasanya kalau kita masih mendiskusikan dan mengkaji makna hijrah, sebagaimana Nabi Muhammad SAW dulu berhjirah dan berjihad.
Kata HIJRAH sempat menjadi trend dalam lima tahun terakhir dengan makna baru beralihnya seorang atau sekelompok orang yang dikenal sebelumnya sebagai pesohor menjadi seorang penggiat dakwah. Media TV menggiring penyempitan makna hijrah dengan menampilkan cuplikan segmen hidup sang seleb sebelumnya yang kelam, bergelimang dosa dan cuplikan kehidupan kini yang terang benderang dan tenang. Fragment yang digambarkan media juga menelisik gaya hidup sang pesohor dari mulai penggunaan busana hingga penggunaan kata dan istilah yang mereka gunakan.
Hijrah memang bermakna pindah dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Hijrah pun bermakna transformasi alias beralih bentuk dari suatu bentuk awal ke bentuk baru. Hijrah juga bermakna berubah dalam berbagai dimensi.
Pada dasarnya manusia itu senang begini-begini aja alias malas dan enggan untuk berubah. Manusia umumnya ya senang di area nggak maju nggak mundur, nggak ke situ nggak ke sana, nggak perlu repot nggak perlu cape. Bagi manusia seperti ini jelas hijrah akan dirasa sebagai siksa, mala, petaka, bala dan sengsara.
Bila kita susuri kata HIJRAH dari peristiwa Rasulullah Muhammad SAW , maka Hijrah perlu ada : 1. niat yang jelas, 2. perlu ada tujuan, 3. perlu ada keadaan mendesak, 4. perlu ada teman perjalanan, 5. perlu ada penolong.
Niat yang jelas untuk hijrah adalah terpenting, karena ia akan menjadi pusat seluruh fokus perhatian, pikiran, dan usaha. Niat tidak hanya dengan menyatakan saya ingin hijrah menjadi apa, juga demi apa. Demi apa ini adalah unsur yang menguatkan niat. Ada orang berubah demi pacar, ada orang berubah demi dendam, ada orang berubah demi kuasa. Demi itulah yang menggerakkan mereka. Manusia adalah makhluk yang tergerak melakukan sesuatu karena alasan.
Tujuan hijrah tentu perlu ditetapkan. Tuliskan dalam bentuk SMART dan kokoh atas gempiran pertanyaan 5W+1H. Agar tujuannya bisa diikuti maka perlu dibuatkan ROAD MAP. Agar peta jalannya bisa dieksekusi maka perlu dirinci menjadi tindakan yang sederhana, mudah, dan dapat dijalankan sekarang.
Keadaan mendesak apa yang memaksa hijrah hanyabsebagai satu-satunya pilihan ? Bila tujuan bisa dicapai tanpa perlu hijrah, maka tentunya hijrah tidak jadi pilihan, bukan ? Jawabannya bisa anda temukan dengan tafakkur atau diskusi dengan sahabat terjujur anda yang siap memberitahu area blid spot anda. Cara lainnya dengar, amati, dan resapi komentar, sikap, tindak orang yang bertindak sebagai musuh kepada anda.
Teman perjalanan itu penting. Bepergian ke daerah baru sendirian akan dirasakan berbeda dibandingkan bepergian bersama orang lain. Teman perjalanan memungkinkan anda berbagi beban, mengurangi derita, meningkatkan suka cita dan meningkatkan harapan.
Penolong di tempat baru itu penting. Penolong adalah siapapun ia yang sedia memberikan kemudahan kepada anda untuk hijrah baik diminta atau tanpa diminta. Silaturahim dengan calon-calon penolong tentunya merupakan proses penting pula. (*/sumber: Copas : Asep Haerul Gani, Psikolog)
