Masjid, Syiar Islam dan Kepedulian Umat
ASSAJIDIN.COM — Marilah kita bersyukur kepada Allah robbil alamin dan bersyukur kepada kedua orang ibu/bapak kita masing-masing, sholawat dan keselamatan semoga tercurah sampai kepada seluruh para nabi dan rosul Allah, dimulai dari nabi Adam As sampai dengan nabi Muhammad SAW.
Dalam sabdanya, Rosul pernah berkata, sungguh aneh perkara orang mukmin, diberi nikmat ia bersyukur, diberikan kesusahan pun ia bersyukur.
Begitulah ciri seorang mukmin, senantiasa bersyukur dalam segala keadaan termasuk dalam wadah covid-19 ini.
Setahun lebih kita semua menghadapi pandemi global Covid-19. Terhitung Sejak Maret 2020, segala tindak laku harus dilakukan secara terbatas termasuk bagi umat Islam di Indonesia dan wlayah Sumatera Selatan khusunya.
Di awal-awal wabah ini kita ingat, kebijakan pemerintah yang harus menutup kegiatan shalat Jumat di masjid. Kurang lebih dua bulan kita merasakan hal itu, sebelum akhirnya dibuka lagi dengan melaksanakan protokol kesehatan.
Awalnya betapa sedih kita semua, apalagi saat itu bertepatan pula dengan memasuki Bulan Ramadhan. Masjid-masjid kosong, demikian juga saat shalat Jumat. Sebaliknya gema ibadah lebih dirasakan di rumah masing-masing. Berbuka puasa lebih banyak di rumah. Shalat wajib dan tarawih, dan tadarusan juga lebih banyak dilaksanakan berjamaah di rumah. Suatu kenikmatan dan hikmah tersendiri. Allahuakbar.
Sahabat Assajidin, syiar Islam ternyata tak tergerus oleh Covid-19. Secara kasat mata, mungkin kegiatan ibadah, majelis taklim di masjid-masjid, kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah Islam dan di rumah-rumah tahfidz terlihat menurun drastis bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Tapi di sisi lain, syiar dan dakwah Islam ternyata tetap berkembang dengan baik, meski harus berdampingan dengan pandemi. Semua ini tidak lain adalah karunia dan kehendak Allah SWT, yang harus disyukuri.
Berikut, tiga hal yang tetap berjalan dengan baik dalam setahun terakhir dalam syiar Islam, atas kehendak Allah SWT
1. Pembangunan Masjid
Pembangunan masjid-masjid di berbagai daerah tetap berjalan. Ini dapat dilihat dari beberapa kali Gubernur Sumsel H Herman Deru melakukan safari Jumat sekaligus meresmikan masjid-masjid yang baru direnovasi atau dibangun di Palembang dan kabupaten/kota di wilayah Sumsel.
Di Palembang misalnya, renovasi dan pembangunan tempat ibadah. Contohnya masjid Almuhajirin di Talangbutuk Palembang, masjid di kawasan 10 ulu persis di pinggir Sungai Musi yang terus diselesaikan pembangunannya. Alhamdulillah tetap bergema. Gaung untuk ayo ke masjid kini bangkit kembali seiring era new normal, ini tidak lain adalah kecintaan umatnya pada agamanya.
2. Syiar Islam online atau virtual
Di masa pandemi sepanjang tahun 2020, kajian-kajian Islam yang mengumpulkan jemaah di masjid atau dalam ruang tertentu menurun drastis.
Sebagai gantinya, syiar Islam kini makin luas dengan cara online atau virtual. Jalan ini dipilih tidak lain untuk terus memberikan siraman rohani kepada masyarakat yang memang harus terus dikuatkan dengan ilmu agama dan ketauhidan kepada Allah.
Para ulama, dai, daiyah kini juga banyak mengubah pola dakwah lewat dunia maya, media sosial dan chanel streaming. Ini juga harus disyukuri sebagai era kebangkitan dakwah Islam secara online, tanpa batas peserta dan kapanpun bisa dinikmati oleh umat. Hanya saja, umat Islam sebagai audiens, harus tetap mawas diri, dibimbing oleh orangtua, atau guru bagi yang muda dan tidak gampang menyerap ceramah tanpa pengetahuan yang luas.
Tetaplah bertanya kepada yang lebih paham dan berpijak pada Alquran Nur Karim, hadist shahih, rukun Islam dan rukun Iman dalam setiap menerima pembaruan ilmu-ilmu agama.
3. Kepedulian sosial meningkat
Selama musibah pandemi ini, begitu banyak yang terdampak baik dari sisi kesehatan maupun secara ekonomi. Secara kesehatan, di Sumsel pasien covid-19 telah mencapai 11.197 (data per 25 November 2020) dengan jumlah pasien sembuh mencapai 9.065 orang dan meninggal dunia sebanyak 590 orang.
Di sisi lain, Covid-19 berdampak dari sisi ekonomi. Berapa banyak jumlah orang yang harus kehilangan pekerjaan, mata pencaharian atau pun berkurang pendapatannya karena pandemi.
Tapi ini semua berhikmah, timbul rasa kepedulian tinggi dari masyarakat, bahu membahu saling tolong menolong meringankan beban. Betapa banyak kominitas hingga orang perorang yang rela mengorbankan harta dan tenaga untuk menolong orang yang terdampak Covid-19. Betapa banyak bantuan-bantuan kemanusiaan yang mengalir. Semua ini kita syukuri sebagai nikmat dan hikmah di balik cobaan Covid-19.
Pesan Sabar
Sahabat Assajidin. Tahun ini, mungkin kita semua ketakutan, kita semua kelaparan, kita semua kekurangan harta, diuji oleh Allah dengan cobaan-cobaan dari hari ke hari, bulan ke bulan. Entah sampai kapan.
Maka tepatlah bila kita mengajak teruslah untuk berbuat baik dan melakukan ibadah-ibadah sesuai yang disyariatkan. Bagi yang berlebihan harta dan jiwa, mari kita berbuat baik dengan memberi makan sesama terlebih kepada yang miskin terdekat rumah kita yang saat ini tidak kerja/tidak punya penghasilan akibat pendemi corona.
وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. 2:155-157)
Kemudian Allah berfirman
Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah) dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, dan demi bapak dan anaknya. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: Aku telah menghabiskan harta yang banyak. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (Qs 90:1-20)
Dari dua ayat ini yang perlu kita lakukan di tahun 2021 dalam situasi masih dalam wabah covid-19 ini adalah Sabar, mengembalikan semuanya kepada Allah dan saling berpesan kasih sayang, tetap bersyiar. Wujud konkritnya memberikan apa yang kita punya. Tenaga, pikiran, harta untuk membantu sesama, terutama para fakir miskin. Semoga Allah meridhoi kita semua dan mengangkat wabah ini di bumi tercinta. (Berbagai sumber/novi amanah)
