Tiadalah Kebaikan Berbalas Keburukan, Pasti Balasannya Kebaikan
Oleh: Bangun Lubis
ASSAJIDIN.COM – Dari Abu Zar r.a., katanya, Rasulullah bersabda kepada saya yang maksudnya : “Janganlah engkau menghinakan sesuatupun dari amal kebaikan -yakni sekalipun tampaknya kecil, janganlah tidak dilakukan, meskipun andai kata engkau bertemu saudaramu dengan menunjukkan wajah yang manis,” – atau berseri-seri tanda bersuka cita ketika bertemu itu.” (Riwayat Muslim)
Diantara kasih sayang Allah kepada hambaNya adalah perintah untuk selalu berbuat kebaikan, karena kebaikan itu akan kembali kepada dirinya. Sekalipun hanya tersenyum yang ikhlas. Ini adalah untuk kemashlahatan manusia agar bisa selamat dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat.
Sungguh Allah telah sangat banyak berbuat baik kepada hamba hamba-Nya dan Allah memerintahkannya untuk berbuat baik pula. Allah berfirman “Berbuat baiklah (kepada manusia) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Q.S al Qashash 77).
Setiap kebaikan yang dilakukan seseorang pastilah kebaikan itu akan kembali kepadanya. Jika seseorang suka menolong pasti akan ditolong, jika seseorang suka memaafkan pasti akan dimaafkan. Jika seseorang suka memudahkan urusan orang lain maka pada suatu waktu dia mendapat kesulitan pasti akan ada saja yang menolongnya.“Jika kamu berbuat baik (berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk , maka (keburukan) itu bagi dirimu sendiri.” Sekalipun hanya senyum. Dan janganlah persulit saudaramu itu.
Allah berfirman : “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” (pula) Q.S ar Rahmaan 60. Jadi, sangatlah dianjurkan untuk senantiasa berbuat kebaikan. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalllam mengingatkan kita untuk tidak berbuat keburukan kepada orang lain. Beliau bersabda : “ Orang Islam itu ialah orang yang selamat orang Islam lainnya dari gangguan lidah dan tangannya.” (H.R Imam Ahmad, dari Abu Hurairah)
Tingkatannya
Tidak mengganggu dan tidak menyusahkan orang lain. Inilah fase awal dalam berbuat baik. Andaikata seseorang belum mampu berbuat kebaikan maka paling tidak janganlah mengganggu atau menyusahkan orang lain. Tidak mengganggu atau tidak menyusahkan orng lain juga sudah termasuk sebagai kebaikan
Lalu, melakukan yang bermanfaat bagi orang lain. Ini fase kedua dalam berbuat kebaikan. Seorang hamba hendaknya memberi manfaat bagi orang lain. Sekecil apapun akan ada nilainya disisi Allah. Diantaranya memberi salam dengan senyum kepada sesama muslim.
Kemudian berbuat yang lebih baik kepada orang yang telah berbuat baik. Ini fase ketiga dalam berbuat kebaikan. Allah berfirman : “Dan apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Q.S an Nisa’ 86).
Membalas perbuatan buruk dengan kebaikan. Inilah tingkat paling tinggi dalam berbuat kebaikan. Tabiat manusia adalah selalu ingin membalas keburukan yang diterimanya, bahkan ada yang ingin membalas dengan keburukan yang lebih besar. Islam membolehkan membalas keburukan dengan keburukan yang setimpal. Tapi berbuat baik yaitu dengan tidak membalas atau bersabar bahkan kalau membalas adalah dengan kebaikan maka itu lebih utama.
Ingatlah akan firman Allah : “ Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang orang yang bersabar (Q.S al Hajj 60).
Seseorang yang melakukan kebaikan haruslah semata mata karena Allah. Hanya karena mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya. Misalnya dalam hal berinfak, maka haruslah dilakukan semata mata karena Allah sehingga bernilai disisi-Nya. Allah berfirman ;”Tetapi (ia memberi itu semata mata) karena mencari keridhaan Rabbnya yang Mahatinggi (Q.S al Lail 20). (*)
