Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Syirik “ Online “ Antara Hikmah dan Dosa

AsSajidin.com Palembang — Anda pengguna media sosial? Jika iya tentu Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara sehingga pula menjadikan silaturahmi antara kita menjadi lebih mudah.

Lalu bagaimana, jika dibalik sisi manfaatnya itu,  juga terdapat keburukan didalamnya. Misalnya, ramai di grup Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya yang disesaki pesan berantai. Seperti berita islam, ajakan-ajakan beramal, mengingatkan hal kematian, dan sebagainya. Namun diujung kalimat,sering kita jumpai ajakkan menyebarluaskannya bahkan tak jarang pula ada sedikit ajakan yang bernada ancaman dan lipatan rezeki  jika tidak ikut menyebarluaskannya.

Ustadz Mahmud Jamhur, Pengurus Majelis Ta’lim Islam Kaffah di Palembang.

“ Tidak jarang orang-orang yang mendapatkan pesan tersebut ketakutan dan langsung menuruti perintah yang ada dalam pesan. Mungkin kita juga pernah melakukannya, menyebarkan pesan berantai yang diakhiri ancaman tidak mengenakkan tersebut. Ketahuilah, sesungguhnya itu adalah bukti bahwa  lemahnya iman kita menjadikan kita cepat terpedaya oleh hal seperti itu,” kata Ustadz Mahmud Jamhur, Pengurus Majelis Ta’lim Islam Kaffah di Palembang.

Kepada AsSajidin, Ustadz Jamhur berujar jika kita sebagai seorang muslim hendaknya dapat lebih teliti dalam membaca. Boleh jadi pesan berantai yang bermanfaat namun diakhiri dengan kalimat ancaman seperti itu justru datangnya dari orang-orang yang membenci islam. Tujuanya agar secara tidak langsung ataupun secara langsung  mempermudah dan melemahkan iman seorang muslim cepat atau lambat. Apakah iman kita hanya sebatas pada pesan berantai via Whatsapp, tanya nya ?

“ Setiap muslim pasti tahu apa itu rukun iman. Terutama iman pertama, iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Artinya kita sebagai muslim harus percaya pada Allah sepenuh hati, meyakini bahwa Allah Yang Maha Segalanya. Bukankah Allah SWT berfriman dalam QS: Al-Baqarah 137 : “ Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling sesungguhnya mereka dalam permusuhan (denganmu).” Nah, pesan-pesan berantai berkedok ancaman saat ini sedang berusaha menggoyahkan keimanan kita untuk berpaling dari-Nya,” tutur Ustadz Jamhur berpesan.

Lihat Juga :  Ombudsman Goes to Kecamatan Sosialisasi Sekaligus Awasi Layanan Publik

Mengenai banyaknya masyarakat yang mempercayai isi pesan tersebut Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman angkat bicara. Menurutnya, kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya dalam al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar) tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.” Kata Ustadz Jamhur seraya menambahkan jika di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.” Tambahnya lagi.

Bachtiar Nasir, Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Ahad (19/1/20)  kepada AsSajidin mengatakan bahwa, sebenarnya sarana komunikasi saat ini sangat mudah menjadi sarana meraih pahala.

“  Dengan handphone mungil, hanya dengan mengirim short message kepada kerabat atau shohib dekat berisi nasehat yang menyentuh qolbu, kita pun bisa meraih pahala. Nasehat tersebut bisa jadi kita dapatkan dari bacaan buku atau seorang ustadz dan tinggal kita forward pada nomor kontak lainnya. Hanya saja memang, jika menyangkut hal-hal yang kita belum yakin kebenarannya hendaknya kita bertabayun lebih dulu,” ungkap Bachtiar.

Dalam sudut pandang psikologi kata dia,  terkadang kita mudah percaya kalau kita tdk menyebarkannya maka akan berdampak terhadap diri kita, sehingga kita menjadi kepikiran dan  khawatir kalau ini akan benar terjadi. Efeknya, kita menjadi tidak rasinonal dan cenderung mengalami yang namannya beban emosional.

Lihat Juga :  My microwave is too small to fit the microwave popcorn bag

“  Kurangnya pengetahuan dan pemahaman kita , membuat seseorang tanpa berpikir panjang dan langsung menyebarkannya. Saya berpesan, agar masyarakat yang menerima pesan berantai seperti itu, hendaknya jangan terlalu tersugesti oleh informasi sejenis sehingga tidak berpengaruh pada cara pikir dan tindakannya,” bebernya.

Mengenai pesan berantai ini , Roni Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang mengatakan dari beberapa pesan-pesan yang ia terima di whatsapp itu bermacam-macam seperti tentang Agama, Promosi Fanspage, dan lain-lain.

“ Untuk saat ini kalu saya secara chat pribadi belum pernah dapat tapi kalau di grup-grup sering, dan di grup-grup itu juga ada banyak macam pesan seperti ada tentang Hadist Agama seperti ayat-ayat Al-quran. terus juga ada lagi tentang keuntungan paket data jika kita mengshare ke seluruh kontak kita akan mendapatkan tambahan kuota data”. Ujar Roni mengakuinya.

Sebagai manusia yang berbudi, berakal dan beragama, kata Roni sebaiknya pesan berantai seperti itu janganlah kita sebarluaskan karena, walaupun itu ada kebaikan pesan namun diakhiri dengan nada ancaman apalagi percaya kepada sesuatu hal maka sesungguhnya kita  termasuk  telah melakukan syirik.

Dan mengenai syirik ini, lanjut dia, Allah SWT  berfirman AS: Lukman 13 :  “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

“Harapan saya kepada masyarakat yang sudah terlanjur menyebarkan pesan berantai segera bertaubat kepada Allah. Karena jika tidak bertaubat dan mereka mati dalam keadaan tidak bertaubat maka ancaman bagi orang syirik adalah masuk kedalam neraka dan mereka kekal di dalamnya” tuturnya. (PKL : Ria,Heru, Lili ,Bima )

Editor : Jemmy Saputera

Back to top button