BERITA TERKINI

Ahlak: Cerminan Iman Dan Tauhid, Bukan Ilmu !

AsSajidin.com Palembang — Sebagai penuntut ilmu agama, seharusnya seorang muslim mampu menjadikan aklak seperti cerminan iman dan tauhid. Karena antara keduanya, langsung bersentuhan dengan hati sebagaimana A’isyah rodhiallohu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid. A’isyah rodhiallohu ‘anha berkata :”Ahlak beliau adalah Al-Quran. [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54].

Dalam hadist yang lain, Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi ]].

Ustadz Yuswar Hidayatullah dalam satu kesempatan bersama AsSajidin di kediamanya beberapa waktu lalu mengatakan bahwa, “Akhlak beliau adalah Al-Quran” Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu di ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Oleh sebab itu kata Ustadz Yuswar, dalam menjaga dan mendidik anak-anak di rumah, peran ahlak dari kedua orang tua-nya lah yang menentukan jejak perjalanan kehidupan masa depan anak-anaknya.

“Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak,”ujar Ustadz Yuswar sebagaimana nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153 ]].

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rohimahullohu menjelaskan hadist ini, dalam Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]: “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. Hal ini di maktubkan dalam sabda beliau :  “Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim ).

Disinggung mengenai, tingginya ilmu sebagai tolak ukur iman dan tauhid, Ustadz Yuswar beranggapan bahwa, antara tingginya ilmu seseorang tidak akan menjamin iman dan tauhidnya. Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama. Oleh karena itu Alloh Azza wa Jalla berfirman, dalam QS: Al- Waqiäh (24) yang artinya : “Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.

“ Allah tidak berfirman dalam ayat itu, : “Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.” Ini artinya, cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan,”ujarnya menjelaskan.

Dalam surat yang lain Allah juga berfirman :  ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff : 3)

Mengenai ilmu agama sebagai wawasan, Ustadz Yuswar menilai jika ini adalah kesalahan yang perlu di perbaiki bersama. Menurutnya, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Namun terkadang kita terlupa untuk menanamkan niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal perbuatan.

“Sebagai contoh, orang-orang pintar diluar sana, kan banyak yang memiliki jabatan, tapi karena aklaknya bobrok, ya korupsi dia.Memakan hak orang lain yang bukan seharusnya menjadi miliknya,kan miris jadinya kita,”ungkapnya lagi.

Sementara itu Ustadz Ridzwan dalam tausiyahnya di Masjid Miftahul Jannah beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa, Ibnul Qayyim, rahimullah mengatakan: “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]

“Yang perlu kita perbaiki bersama adalah, sikap kita yang  sering, sibuk mempelajari ilmu fiqh, ushul tafsirushul fiqh, ilmu mustholah hadist dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi dimata manusia,akan tetapi  lupa mempelajari ilmu akhlak dan pensucian jiwa. Yang pada intinya juga kita lupa mengingat bahwa salah satu tujuan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan Akhlak manusia,”bebernya sebagaimana Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].

Menjawab pertanyaan jamaah seputar orang yang notabenenya insya  Allah sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, tapi tetap bermaksiat, Ustadz Ridzwan mengatakan, jika sesungguhnya tidaklah mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki antar sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelek lainnya.

“Syaitan akan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga,”katanya sembari menjelaskan Firman Allah SWT dalam QS: Al A’raf (16-17) :  Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

Ustadz Kholid syamhudi, Lc, dalam majalah Assunah menerangkan bahwaImam Al Ghazali rahimahullahu berkata : “Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.”

“Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Oleh karena itu, kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlak pendakwahnya yang mulia,”tuturnya.  [[ Jemmy Saputera ]]




Close