Rihlah Dalam Pandangan Islam
AsSAJIDIN.COM –Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman melaksanakan perjalanan rekreasi ke Kebun Raya Bogor.
Mumpung pada tanggal satu Januari adalah tanggal merah dan menjadi hari libur nasional, kami melakukan perjalanan yang sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya.
Selain karena untuk mengisi hari libur, perjalanan rekreasi ini juga bermanfaat banyak karena perjalanan kami tidak sekadar have fun, tapi juga diisi dengan materi-materi keislaman oleh seorang pembimbing dan tentunya tilawatil Qur’an bersama-sama.
Saat ada beberapa teman yang menanyakan kegiatan saya saat hari libur tersebut, saya jawab saya sedang RIHLAH. Dari sanalah banyak pertanyaan, apa itu Rihlah? Nah, untuk menjawabnya saya berpikir untuk sekalian saja membuat posting dengan tema Rihlah ini. Barangkali ada juga sahabat Blogger yang belum tahu apa itu Rihlah…
Rihlah adalah Hajatun Basyariah (kebutuhan) karena sebagai manusia kita membutuhkan refreshment baik terhadap jiwa maupun tubuh, refreshment inilah yang disebut rihlah atau rekreasi. Rihlah juga cara yang efektif untuk menghemat biaya pengobatan, dan jangan bakhil untuk rihlah karena biaya yang kita keluarkan untuk rihlah adalah salah satu investasi jangka panjang untuk memelihara kesehatan sambil melihat kebesaran Allah bertambahlah keimanan kita.
Menurut Dr Abdul Hakam Ash-Sha’idi dalam bukunya berjudul Ar-Rihlatu fi Islami, Islam membagi bepergian atau perjalanan dalam lima kelompok:
1. Bepergian untuk mencari keselamatan seperti hijrah yaitu keluar dari negara yang penuh bid’ah atau dominasi haram.
2. Bepergian untuk tujuan keagamaan seperti menuntut ilmu, menunaikan ibadah haji, jihad di jalan Allah, berziarah ke tempat-tempat mulia, mengunjungi kerabat atau saudara karena Allah, dan bepergian untuk mengambil ibrah atau menegakkan kebenaran dan keadilan.
3. Bepergian untuk kemaslahatan duniawi seperti mencari kebutuhan hidup, mencari nafkah.
4. Bepergian karena urusan kemasyarakatan seperti menengahi pertikaian, menyampaikan dakwah, bermusyawarah.
5. Bepergian untuk kepentingan turisme atau kesenangan semata.
Tujuan Rihlah
Di dunia, dalam kehidupan manusia, Islam selalu menyerukan agar manusia dalam bepergian dan bergerak menghasilkan kebaikan dunia dan akhirat. Dari maksud tersebut, manusia akan mendapatkan nilai plus pada rihlah. Jadi bukan hanya kesenangan saja yang didapat dari rihlah itu tetapi pahala atau ganjaran dari Allah SWT juga akan diraih. Urusan seorang muslim bergerak dan berpindah-pindah untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu, melaksanakan haji atau umrah, menjenguk kawan, menjenguk orang sakit dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut bernilai ibadah jika tujuan berpergian dalam rangka mencari ridho Allah semata.
Etika Rihlah
Islam membekali para penganutnya dengan berbagai etika rihlah. Antara lain bepergian atau perjalanan hendaknya dilakukan dengan:
1. Niat baik mencari keridhaan Allah SWT.
2. Ikhlas karena Allah,
3. Berakhlak mulia,
4. Berhati-hati dan cermat,
5. Tidak dicampuri dengan kemaksiatan
6. Selalu minta pertolongan kepada Allah SWT.
Lalu, agar rihlah berjalan sesuai niat dan membuahkan hasil yang efektif, maka diperlukan persiapan biaya, medis serta pengetahuan daerah yang akan dituju.
Beberapa keuntungan rihlah
1. Kesehatan jasmani
Rihlah bagi seorang muslim bukanlah berorientasi berhura-hura untuk menyenangkan hati belaka. Tetapi rihlah adalah salah satu kiat kita dalam menjaga kesehatan, dan memelihara jasmani agar bisa menjadi seorang muslim yang kuat. Setelah badan kita segar, maka diharapkan kita dapat melanjutkan pekerjaan kita dengan kondisi yang lebih baik, sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan ihsan.
Di saat-saat Rihlah, kita bisa terbebas dari pekerjaan keseharian yang mungkin menimbulkan stres pada tubuh yang berakibat pada ketidak seimbangan hormon dalam tubuh dan berakibat lebih jauh pada melemahnya ketahanan tubuh. Maka dengan rihlah diharapkan kita bisa relaks, dan mengendurkan ketegangan-ketegangan atau stress yang ada, sehingga keseimbangan hormon bisa kembali normal.
2. Keuntungan ekonomi
Rihlah memang tak selalu harus mengeluarkan biaya untuk ke tempat-tempat pariwisata yang mahal harganya. Akan tetapi untuk mendapatkan suasana baru, acap kali kita dituntut untuk mengeluarkan sedikit uang ke tempat rekreasi misalnya. Dengan pergi ke tempat-tempat rekreasi, tak dapat dipungkiri kita akan mendistribusikan rizki kepada orang-orang yang mencari rizki di sekitar tempat pariwisata. Dan biaya rihlah dapat dipikirkan sebagai biaya preventif dari pengobatan penyakit, yang di masa sekarang makin melambung biayanya. Maka keuntungan secara ekonomi ini, tak hanya dimiliki oleh kita semata tapi pula oleh orang-orang lainnya.
3. Keuntungan terhadap lingkungan dan hubungan antar pribadi
Rihlah bersama rekan sejawat dan saudara kita sesama muslim pula akan meningkatkan hubungan silaturahmi. Apalagi jika dalam rihlah kita bisa saling bantu membantu untuk mempersiapkan keperluan rihlah, memasak bersama dan sebagainya, tentu akan lebih meningkatkan rasa kerja sama dan ukhuwah di antara kita.
4. Keuntungan psikologi (ruhiah)
Keuntungan psikologi atau ruhiah erat kaitannya dengan kesehatan tubuh. Dalam rihlah kita mengendurkan urat saraf dan mengembalikan keseimbangan hormon, yang erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang. Apalagi jika dalam rihlah, kita bisa sekalian bertafakur mengagumi kebesaran Allah Dan kita temui banyak hal dan pengalaman baru yang menjadikan hati kita kaya dan bisa berbelas kasih pada orang-orang yang kekurangan, setelah kita disibukkan oleh berbagai kesibukan yang kadang mematikan hati kita sehari-hari.
Itulah diantara beberapa hal mengenai Rihlah. Dari mulai pengertian, Tujuan, Etika sampai Keuntungan Rihlah. Semoga dengan ini semakin banyak sahabat yang berpergian rekreasi bukan hanya sekadar bersenang-senang semata, tapi juga memiliki nilai spiritual. Karena ruh islam sepatutnya tidak ditanggalkan walau dimanapun keberadaan kita.
