MOZAIK ISLAM

Alquran Tertua se-Asia Tenggara Ternyata Dicetak di Palembang, Begini Wujudnya  

 

ASSAJIDIN.COM — Ada yang menarik sekaligus langka pada Pekan Pustaka yang digelar di Palembang sejak beberapa hari terakhir. Pameran buku dan koleksi benda langka yang dilaksanakan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II)  membuka wawasan dan pengetahuan tentang berbagai sejarah, termasuk salah satunya adanya Alquran yang berusia paling tua di Asia Tenggara.

Ternyata Alquran tertua ini dicetak di Palembang, tepatnya di Kelurahan 3 Ulu.Palembang.

 

Kegiatan pekan pustaka Palembang yang kedua ini ternyata tengah berlangsung mulai dari 1-8 September 2019.

Alquran tertua yang dicetak dari tahun 1848 ini merupakan koleksi Museum SMB II.

Alquran ini terlihat sangat rapuh namun tetap bisa dibaca, ukiran khas Palembang pun terlihat jelas di sampulnya.

“Itu yang membanggakan tentu saja bagi masyarakat Palembang bahwa Al Quran ini dicetak di 3 Ulu Palembang oleh H Kemas M Azhary” jelas Pustakawan Bibliotek Apotek Buku Palembang Ahmad Subhan, Rabu (4/9/2019).

“Al Quran ini selesai dicetak pada 21 Ramadan yang bertepatan dengan 21 Agustus 1848 atau pada abad ke 17.

Lihat Juga :  Mengetahui Sejarah Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Alquran

Keberadaan Alquran tertua ini cukup jadi perhatian pengunjung.

Di pameran ini pria yang aktif menulis di Facebook Bibliotek Apotek Buku ini mengatakan terdapat dua kelompok buku yang dipamerkan di pekan pustaka Palembang ini. “Yang pertama kami pamerkan saja khususnya buku-buku langka tentang sejarah sosial, budaya, religi di Palembang yang sumbernya ada di 4 tempat,” katanya.

“Yang pertama perpustakaan Masjid Agung Palembang, kedua Perpustakaan Umariah, ketiga Perpustakaan Alwastia dan yang terakhir koleksi pribadi pak Muhammad Jufri. Selain itu kami juga menjual buku-buku sejarah karya penulis Palembang ada juga karya penulis luar Palembang,” jelasnya.

Karya-karya penulis lokal dikumpulkan yang bisa dijual dari harga Rp40 ribu- Rp 150 ribu misal karya dari alm Arlan yang menulis buku tentang marga di Sumsel.

“Ada juga buku-buku karya alm KH Zein Syukri yang ternyata sudah menulis dari 1954. Ada pula buku karya Ismail dari UIN Raden Fatah, Kemas Ari Panji, alm Raden H M Akip (perintis penulisan sejarah Palembang menggunakan huruf latin), alm John Hanafia dan lainnya,” jelasnya.

Lihat Juga :  Kisah Bijak Para Ulama : Yang Tua tidak Merasa Paling Benar, yang Muda Tahu Diri

Ahmad juga mengatakan bahwa dua sultan di Palembang yakni SMB I dan SMB II adalah para cendikiawan.

“Mereka sangat mendukung pengembangan pengetahuan di kesultanan Palembang, dan pekan pustaka Palembang secara khusus mengenalkan kembali kepada masyarakat Palembang,” katanya.

“Dan banyak juga loh buku-buku tentang Palembang yang ditulis oleh orang asli Palembang atau penulis dari luar Palembang. Kalau ingin meneliti sejarah lokal Palembang boleh mampir ke pekan pustaka Palembang ini, bisa juga diskusi,” jelasnya.

Dia juga berharap dengan adanya kegiatan seperti ini pemerintah daerah bisa menjadikan 21 Agustus sebagai hari Literasi di Palembang.

“Kalau pun pemerintah daerah ingin mendukung litetasi tetapkanlah 21 Agustus sebagai hari buku di Palembang. Cetak ulang buku-buku lama,” katanya.

Sementara itu, Pekan Pustaka Palembang jilid 1 juga sempat dibuka pada April lalu di Masjid Agung Palembang, dan peminatnya pun walau percobaan diakui Ahmad banyak yang berkunjung hingga buku tamu yang dia sediakan penuh diisi oleh para pengunjung yang datang. (*/Sumber: tribunsumsel.com)

Tags

Berita Terkait

Close