EKONOMI & BISNIS

Tuntunan Islam Dalam Mengelolah Ekonomi Keluarga

Banyak diantara kita ingin lebih tertib ekonomi dalam rumah tangganya. Tetapi, selalu sulit mencari cara agar bisa hemat, bisa cukup dan bahkan bisa berkah.

Palembang, ASSAJIDIN.COM — Pimpinan SIT Izzatuna Palembang, Ustadz Solihin Hasibuan, M.Pdi yang diwawancarai secara khusus soal pengelolaan keuangan keluarga ini, menyebutkan bahwa semua terpulang kepada bagaimana  kita mengelolanya dengan baik sehingga  memperoleh berkah Allah SWT.  Karena secara  adab keagamaan setiap kita membutuhkan pemahaman dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Dalam Islam ada prinsip yang hendak dipatuhi agar tidak bablas dalam penggunaannya maupun dari mana uang itu kita peroleh. “Sebaik-baik harta yang shalih (baik) adalah dikelola oleh orang yang berkepribadian shalih amanah.” Kata Solihin Hasibuan.

Ia menjelaskan sebuah kutipan bagaimana Rasulullah memuji seseorang yang mengkonsumsi hasil adab keagamaan usahanya sendiri dengan sabdanya: “Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan lebih baik dari mengkonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri, sebab nabi Allah, Daud, memakan makanan dari hasil kerjanya.” (HR. Bukhari). “Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari penghasilan secara baik, membelanjakan harta secara hemat dan menyisihkan tabungan sebagai persediaan di saat kekurangan dan kebutuhannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki setiap muslim untuk dapat mengelola usaha dan berusaha secara baik. Prinsip ini sebenarnya menjadi dasar ibadah kepada Allah agar dapat diterima (mabrur) karena saran, niat dan caranya baik. Kesadaran akuntabilitas ;

Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari tempat kebangkitannya di hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal, di antaranya tentang hartanya; dari mana dia memperoleh dan bagaimana ia membelanjakan” (HR. Tirmidzi).

Lihat Juga :  Pesaing Banyak, Penjual Peci Harus Lebih Sabar

 Keberkahan

 Memberikan nafkah kepada keluarga misalnya, merupakan tanggung jawab suami sehingga wajib bekerja dengan baik melalui usaha yang halal dan wanita sebagai kaum istri bertanggung jawab mengelola dan merawat aset keluarga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pengayom bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisa:34).

Jadi, sharing suami-istri dalam aspek keuangan keluarga adalah dalam bentuk tanggung jawab suami untuk mencari nafkah halal dan tanggung jawab istri untuk mengurus, mengelola, merawat dan memenej keuangan rumah tangganya. Meskipun demikian, bukan berarti suami tidak boleh memberikan bantuan dalam pengelolaan aset dan keuangan rumah tangganya bila istri kurang mampu atau memerlukan bantuan.

Dan juga sebaliknya tidak ada larangan Syariah bagi istri untuk membantu suami terlebih ketika kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal dan baik serta tidak membahayakan keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga selama suami mengizinkan, bahkan hal itu akan bernilai kebajikan bagi sang istri. Bukankah Khadijah radhiyallahu ‘anha. ikut andil dalam membantu mencukupi kebutuhan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebajikan. (QS.Al-Maidah:2).

Firman Allah yang memuji hamba-Nya yang baik: “..Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan:67).

Lihat Juga :  Intip Hotel di Legian Ini, Ada Rooftop Pool Lho!

Saling Menjaga

Ustadz Umar Said, Ketua Forum Ulama Islam (FUI) Sumsel,  yang juga dibincangi soal mengelola keuangan rumah tangga dalam Islam, mengatakan, bahwa dalam mencari pendapatan, Islam tidak memperkenankan seseorang untuk ngoyo dalam pengertian berusaha di luar kemampuannya dan terlalu terobsesi sehingga mengorbankan atau menelantarkan hak-hak yang lain baik kepada Allah, diri maupun keluarga seperti pendidikan dan perhatian kepada anak dan keluarga.

Allah telah menegaskan  dalam hal bekerja hendaknya sesuai dengan batas-batas kemampuan manusia.(QS.Al-Baqarah:286). Namun bila kebutuhan sangat banyak atau pasak lebih besar daripada tiang maka dibutuhkan kerjasama yang baik dan saling membantu antara suami istri dalam memperbesar pendapatan keluarga dan melakukan efisiensi dan penghematan sehingga tiang penyangga lebih besar dari pada pasak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu bebani mereka dengan apa-apa yang mereka tidak sanggup memikulnya. Dan apabila kamu harus membebani mereka di luar kemampuan, maka bantulah mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Jika pembelanjaan kita telah sesuai dengan aturan-aturan Islam, Allah akan memajukan usaha kita serta melipatgandakan pahala dan berkah-Nya. Bahkan Allah akan memberikan kelebihan hasil usaha agar kita dapat menyimpan dan menabungnya untuk menjaga datangnya hal-hal yang tidak terduga atau untuk menjaga kelangsungan hidup kita.(*)

Editor : Jemmy Saputera

 

 

Close