Allah Memberi Rezeki Tanpa Batas
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Arab-Latin: Zuyyina lillażīna kafarul-ḥayātud-dun-yā wa yaskharụna minallażīna āmanụ, wallażīnattaqau fauqahum yaumal-qiyāmah, wallāhu yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb
Artinya: “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS Al-Baqarah 212)
ASSAJIDIN.COM — Setiap insan di dunia pada dasarnya sangat ingin mengharapkan datangnya rezeki yang berkah dan banyak.
Meskipun ukuran banyak itu tergantung kadarnya pada masing-masing individu, tapi dengan rezeki yang kita peroleh itu selain bisa digunakan buat keperluan hidup sehari-hari juga berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
Apalagi dalam ayat 212 dari Surat Al-Baqarah di atas Allah SWT memberikan rezeki kepada manusia tanpa batas.
Lebih rinci, mengutip Tafsirweb.com, berikut penjelasan tafsirnya :
– Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
Dijadikan indah dalam pandangan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah akan kehidupan dunia dan semua jenis kesenangan dan kenikmatannya, dan mereka itu mengolok-olok kaum Mukminin.
Dan adapun mereka yang takut kepada Tuhan mereka akan berada di tempat yang lebih tinggi di atas semua orang kafir pada hari kiamat.
Dimana Allah memasukkan mereka ke tingkatan surga paling tinggi, dan menempatkan orang-orang kafir di neraka paling bawah.
Dan Allah memberikan rezeki kepada siapa saja diantara makhluk Nya yang Dia kehendaki tanpa batas.
– Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Univ. Islam Madinah
Dijadikan syahwat dunia sebagai penyejuk mata bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan rasul-Nya. Mereka selalu mengolok-olok orang-orang beriman.
Adapun orang-orang yang takut kepada Allah akan berada di atas orang-orang yang kafir pada hari kiamat kelak, sebab mereka berada pada derajat yang tinggi di surga. Mereka akan menertawakan orang-orang kafir yang akan tinggal di kerak neraka selamanya.
Allah memberi rezeki yang luas bagi hamba-Nya yang Dia kehendaki dengan rezeki tanpa batas.
Ibnu ‘Asyur berkata: “Dalam ayat ini tidak disebutkan hal yang menyebabkan syahwat dunia menjadi indah bagi orang-orang kafir karena banyak sekali penyebabnya; diantaranya terdapat hal-hal yang diciptakan dengan bentuk yang indah, dan hati mereka dibuat condong untuk menyukainya padahal sebenarnya itu bukanlah hal yang baik, seperti perbuatan membunuh orang, dan sebagainya.”
“Sedangkan firman Allah {فهدى الله الذين ءامنوا} berhubungan dengan ayat {زين للذين كفروا الحياة الدنيا…} keadaan mereka ini lebih parah dari sebelumnya karena masuk dalam keangkuhan dan kesombongan, sebab mereka tidak hanya tertipu dengan keindahan dunia yang menjadikan mereka mengolok orang-orang beriman yang tidak menapaki jalan hidup mereka.”
– Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram
Kehidupan dunia, kesenangan semu serta kenikmatan sementara yang ada di dalamnya, semuanya dijadikan bagus dalam pandangan orang-orang yang ingkar kepada Allah.
Dan mereka mengejek orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Padahal orang-orang yang bertakwa kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya kelak berada di atas orang-orang kafir itu di akhirat.
Karena Allah akan menempatkan orang-orang yang bertakwa itu di dalam surga Aden. Dan Allah memberi kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya dengan pemberian yang tidak terhitung dan tidak terhingga.
Mahakaya
Sementara itu, Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah menjelaskan, Allah SWT memberi rezeki secara terus-menerus kepada yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
“Tidak satu makhluk pun walau sesaat yang tidak mendapat rezeki Allah,” jelas Prof Quraish.
Kata “hisab” dalam ayat tersebut, bisa bermakna perhitungan, pertanggungjawaban, batas, atau dugaan.
Dengan demikian, ayat 212 Surat Al Baqarah bisa berarti bahwa Allah SWT memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang berhak mempertanyakan kepada-Nya.
Pertanyaan yang dimaksud seperti pertanyaan mengapa Allah memperluas rezeki kepada seseorang dan mempersempit rezeki untuk orang yang lain.
Karena Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tanpa memperhitungkan pemberian itu karena Dia Mahakaya sehingga tidak memedulikan berapa yang Dia berikan.
Bukan Ukuran Cinta
Prof Quraish juga menyampaikan Allah SWT memberi rezeki kepada seseorang tanpa yang bersangkutan menduga kehadiran rezeki itu.
Allah memberi rezeki tanpa menghitung secara detail amalan-amalan yang diberi-Nya. Allah memberi rezeki kepada seseorang dalam jumlah yang amat banyak sehingga yang bersangkutan tidak mampu menghitungnya.
“Betapapun bermacam-macam makna yang bisa dikandungnya (dalam ayat 212 Surat Al-Baqarah), yang pasti ayat ini ingin menjelaskan rezeki yang diraih seseorang adalah bersumber dari Allah dan bahwa rezeki itu tidak dapat dijadikan ukuran cinta dan kedudukan seseorang di sisi-Nya,” ujarnya.
Hamba yang dicintai Allah SWT, salah satu cirinya adalah diterima di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إذا أحبَّ الله العبدَ نادى جبريل: إن الله يحبُّ فلانًا فأحبِبْه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء: إن الله يحب فلانًا فأحِبُّوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض
“Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyuruh Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” (HR. Bukhari)
Ciri selanjutnya seorang hamba dicintai Allah SWT, dia dimudahkan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan kepada yang tidak dicintai, tapi tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Maka siapa yang Allah berikan agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad)
Wallahu a’lam bishshawab.
