Menebar Ilmu Meraih Hikmah

Pesan Menpora untuk Siswa Muslim di Hardiknas

 

JAKARTA, AsSAJIDIN.COM — Sebanyak 5.000 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) menyelenggarakan acara Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan Pemuda Pelajar Indonesia. Kegiatan tersebut digelar di Lapangan PPPON Cibubur dalam rangka peringati Hari Pendidikan Nasional.

“IPM, IPNU, PII semua berkumpul dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, mereka tidak hanya berkumpul tapi berkemah sekaligus meneguhkan rasa kebangsaan mereka,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi dilansir dari Republika.co.id usai memimpin apel kebangsaan di Lapangan PPPON Cibubur, Rabu (2/5).

Imam mengatakan, masa depan Indonesia ada di tangan para pemuda pelajar. Kemah pendidikan dan apel kebangsaan pemuda pelajar Indonesia merupakan komitmen bersama untuk menjunjung tinggi kehormatan sebuah bangsa. Para pemuda pelajar akan berkomitmen dan mengisi Indonesia dengan hal-hal yang positif dan konstruktif.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang begitu banyak memiliki perbedaan (majemuk). Diharapkan para pemuda pelajar Indonesia sadar akan hal ini. Oleh sebab itu kemah pendidikan dan apel kebangsaan harus menjadi agenda tahunan.

“Kita berharap (pemuda pelajar) satu sama lain saling mengenal, berbeda itu indah, beda politik, beda ekonomi, beda sosial, beda organisasi, itu hal wajar,” ujarnya.

Imam berharap, kemah pendidikan dan apel kebangsaan membuat para pemuda pelajar paham bahwa perbedaan tidak menjadikan putus pertemanan. Perbedaan tidak menyebabkan tercerai berai, menghina satu sama lain, mencemooh dan melakukan hal-hal yang tidak etis.

Kemah pendidikan dan apel kebangsaan pemuda pelajar Indonesia difasilitasi Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 2-5 Mei 2018.

Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Asrorun Niam Sholeh mengatakan, kegiatan tersebut untuk meneguhkan komitmen meningkatkan pendidikan yang berkeadaban, mencegah terjadinya kekerasan dan eksploitasi di dunia pendidikan.

“Serta untuk menanggulangi bahaya narkoba, terorisme, kenakalan remaja, ujaran kebencian serta penyebaran hoax di dunia cyber,” ujarnya.(*)