Berita TerkiniHaji & UmrohKeluargaMozaik Islam

Kisah Tragis Jamaah Abu Tours :   Diterlantarkan di Bandara hingga Berjalan Kaki 1 Km ke Masjid Nabawi  

Assajidin.com — Kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pencucian uang jamaah umrah yang dilakukan oleh bos Abu Tours menyisakan beragam cerita bagi korbannya.

Meski aset-aset perusahaan biro travel umrah Abu Tours telah disita oleh pihak kepolisian, namun nasib ribuan jamaah umrah yang telah membayar paket umrahnya juga belum jelas juntrungnya, kapan mereka akan diberangkatkan.

Salah satu korban Abu Tours yakni Muhammad Syahnab Munawir. Dirinya bersama dengan 99 jamaah lainnya pernah merasakan bagaimana ditelantarkan oleh biro umrah Abu Tours yang berkantor pusat di Makassar tersebut.

Dimana Abu Tours sama sekali lepas tangan terhadap tanggung jawabnya, sejak pemberangkatan dari Makassar ke Jakarta pada Minggu, 11 Maret 2018 lalu, sebelum akhirnya diterbangkan ke Madinah pada Senin, 12 Maret 2018.

Munawir bercerita, sebelum bertolak ke Madinah, rombongan sempat transit di Jakarta selama 1 malam. “Di Jakarta hotel yang kami tempati agak mendingan dari pada rombongan lain yang boleh dibilang sangat jauh dari kata layak,” kata Awi kepada JawaPos.com, di Makassar, Ahad, 8 April 2018 yang dikutip assajidin.com.

BANDARA: Sejumlah jamaah umrah Abu Tours tidur di bandara Malaysia lantaran tidak diurusi (Istimewa)

 

 

Keesokan harinya, rombongan jamaah kemudian dikumpulkan dalam 1 tempat di Cengkareng untuk menunggu pemberangkatan langsung ke Bandara Jeddah pada Senin (12/3) dini hari. Sesampainya di Jeddah, jamaah kemudian mulai tak mendapatkan kejelasan informasi mengenai transportasi yang digunakan ke tempat istirahat sementara.

“Kita di Bandara Jeddah waktu itu lama sekali menunggu karena tidak ada tim handeling atau tim koordinir dari Abu Tours yang datang menjemput. Sampai beberapa jam, kurang lebih 3 jam kita menunggu, baru datang bus itu yang antar kita katanya mau ke Madinah dulu sebelum lanjut lagi,” tutur Awi.

 

Keanehan mulai tampak di Jeddah, dimana bus yang dipergunakan mengangkut rombongan berjumlah 100 orang sangat jauh dari kata layak. Rombongan pundipecah menjadi dua, dengan pembagian 50 orang untuk masing-masing bus.

Lihat Juga :  Kisah Wafatnya Nabi Adam, Bikin Merinding...

 

Namun belum setengah jam perjalanan meninggalkan Jeddah, salah satu bus yang ditumpangi jamaah ngadat. Sopir bus yang mengantar jamaah berdalih bus tidak sanggup melanjutkan perjalanan karena kondisi cuaca panas terik.

“Jadi kita berhenti di tengah perjalanan, katanya sopir ini bus tidak bisa sampai ke Madinah karena cuaca panas takutnya atapnya terbongkar dan mogok di tengah jalan, makanya kita semua ganti bus di perjalanan,” ucapnya.

Selanjutnya setelah menempuh perjalanan panjang, tepat Rabu (13/3) rombongan pun akhirnya tiba di Madinah. Lagi-lagi karena tidak adanya kejelasan soal tempat penginapan dari pihak Abu Tours, ratusan jamaah ini kembali kebingungan.

Setelah menuggu beberapa jam, barulah jamaah dibawa ke tempat penginapan. Di Madinah, jarak antara penginapan dengan masjid Nabawi terletak sekitar kurang lebih 1 kilometer.

“Jadi untuk ibadah kita mesti jalan ke Masjid 1 kilo. Padahal dalam perjanjiannya waktu pertama daftar Abu Tours itu kita dijelaskan kalau antara Masjid dengan penginapan tidak jauh dan dekat sekali. Tapi kita tetap berpikir kalau datang ke sini mau ibadah, kita setidaknya sudah sampai datang ke sini. Jadi kita tidak hiraukan dulu pikiran-pikiran yang lain,” jelasnya.

 

 

 

Sabtu (16/3) rombongan jamaah akhirnya kembali melanjutkan perjalanan dari Madinah ke Mekah. Di Mekah, lagi-lagi karena tidak adanya kejelasan mensoal tempat tinggal, sesama jamaah bahkan sempat bertengkar hanya untuk memperebutkan kamar yang tidak sesuai dengan perhitungan pihak Abu Tours.

“Setibanya kami ke hotel itu. Eh, justru kunci hotel untuk ratusan jamaah ini tidak cukup. Padahal sudah ada jamaah yang dalam 1 kamar menumpuk sampai 3, 4 orang. Tapi tetap tidak cukup. Inikan akibat dari tidak adanya ini tim handeling, makanya tidak ada yang atur, kita tidak ada yang koordinir. Akhirnya kita berembuk disitu, dan ada salah satu jamaah yang bersedia bayar sendiri dan tampung yang lainnya di dalam kamar yang disewa itu,” lanjutnya.

Lihat Juga :  Inilah Alasan Mengapa Pertama Hijrah ke Madinah, Rasulullah Langsung Bangun Masjid

 

Perjalanan ibadah pun tuntas, dan ratusan jamaah kembali diberangkatkan pulang menuju Indonesia. Namun sebelum kembali ke Indonesia, hal tidak bertanggungjawab kembali dilakukan pihak Abu Tours. Tepatnya di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia pada Selasa (20/3). Ratusan jamaah ini lagi-lagi tak mendapatkan kejelasan pemberangkatan menuju Indonesia.

Terlunta-lunta menunggu tanpa kejelasan di Bandara, membuat ratusan jamaah ini tak lagi menahan kekesalannya. Puncaknya, setelah diterlantarkan kurang lebih 30 jam, jamaah kemudian mengabadikan gambar penerlantaran yang dilakukan pihak Abu Tours.

“Di situ sangat memprihatinkan memang ada yang tidur di lantai, ada di kursi-kursi situ di bandara bahkan ada yang duduk-duduk saja. Ternyata belakangan kita tahu kalau Abu Tours hanya backup tiket sampai ke Malaysia saja. Nanti sampai Malaysia baru dihendel tiket lagi ke Indonesia. Sampai pada akhirnya setelah itu baru ada kejelasan diberangkatkan,” jelasnya.

Awi sendiri merupakan jamaah yang mendaftarkan diri berserta 10 orang pihak keluarga dan rekannya di Abu Tours pada Februari 2017 lalu dan mendapat jatah pemberangkatan pada pertengahan Januari 2018. Karena persoalan yang perlahan menerpa perusahaan itu, ia kemudian baru bisa diberangkatkan pada awal Maret lalu tanpa sama sekali mengikuti seluruh opsi yang ada di dalam maklumat.

Pria yang berprofesi sebagai pengacara ini bahkan mengimbau, agar seluruh masyarakat sebaiknya berhati-hati dalam memilih travel-travel yang menawarkan promosi. Di luar itu, Awi mendesak agar pihak kepolisian mengusut tuntas dan menelusuri semua aset-aset milik tersangka bos perusahaan Hamzah Mamba yang disembunyikan sampai saat ini.

“Samua kita jamaah pasti berharap banyak kepada kepolisian untuk menuntaskan semua persoalan ini. Khawatirnya jangan sampai masih ada lagi korban-korban selanjutnya. Semua asetnya harus disita sebagai pengganti kerugian puluhan ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia,” pungkasnya.(*)

Editor : Aspani Yasland

 

Berita Terkait

Close