Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

PENDIDIKAN

Rupiah Loyo, Dompet Mahasiswa “Koma”: Bertahan di Antara Kebutuhan dan Keterbatasan

Oleh: Alizah Nazirah (NPM: 2401110089)

Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.

AsSajidin.com Palembang—— BELAKANGAN ini, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan utama di berbagai lini masa. Bagi sebagian mahasiswa, urusan fluktuasi kurs awalnya dianggap sebagai konsumsi eksklusif para ekonom, pelaku bisnis, atau pembuat kebijakan di Lapangan Banteng. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Melemahnya mata uang garuda ternyata memicu efek domino yang menghantam langsung lini paling sensitif dalam kehidupan mahasiswa, dompet dan isi piring makan.

​Mungkin tidak banyak mahasiswa yang secara rutin memelototi papan kurs mata uang setiap pagi. Akan tetapi, dampak dari lesunya rupiah itu mendarat nyata ketika harga sembako di warung madura mulai naik, tarif transportasi online melonjak, dan biaya hidup kumulatif mencekik. Hal-hal subtil yang dulunya dianggap pengeluaran angin lalu, kini menjelma menjadi kalkulasi matang yang menguras energi pikiran.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, inflasi tahunan (YoY) yang dipicu oleh komponen harga bergejolak (volatile foods) dan barang impor (imported inflation) menunjukkan tren kenaikan. Ketika rupiah sempat tertekan hingga menembus level psikologis baru di atas Rp16.000 per dolar AS, indeks harga konsumen untuk sektor makanan, minuman, dan transportasi langsung merespons secara linier.

Mayoritas mahasiswa rantau masih menggantungkan napas finansialnya pada kiriman bulanan orang tua. Ironisnya, jumlah uang saku tersebut bersifat statis, sementara harga barang di pasar bersifat dinamis-menanjak. Akibat dari asimetri ini, mahasiswa dipaksa melakukan manuver penyesuaian yang radikal. Pengeluaran untuk konsumsi harian, transportasi menuju kampus, pengadaan buku atau modul kuliah, hingga kebutuhan personal harian harus dipangkas dan dihitung ulang demi bertahan hingga akhir bulan.

Lihat Juga :  Ciptakan Karakter Disiplin Lewat Lomba Prestasi Pelajar Pramuka

Secara teori ekonomi, pelemahan rupiah otomatis melambungkan biaya struktur manufaktur yang mengandalkan bahan baku impor. Banyak industri lokal yang belum sepenuhnya mandiri secara suplai, sehingga kenaikan biaya produksi tersebut langsung dibebankan kepada konsumen akhir (pass-through effect). Dampak ini mungkin tidak terjadi dalam satu kedipan mata, melainkan merayap perlahan namun pasti ke dalam ekosistem sekitar kampus.

​Sektor energi dan pangan adalah dua lini yang paling terdampak. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta fluktuasi tarif logistik berantai pada terkoreksinya harga menu di warung makan tegal (warteg) atau kantin kampus. Bahkan, hal sekecil plastik kemasan makanan ringan atau komponen gandum pada mi instan—menu legendaris mahasiswa—ikut terpengaruh karena komoditas tersebut merupakan barang impor. Kenaikan beberapa ratus hingga ribuan rupiah per porsi mungkin terdengar sepele bagi pembuat kebijakan, namun bagi mahasiswa dengan anggaran ketat, itu adalah alarm bahaya.

Selain itu, banyak produk yang digunakan sehari-hari juga dipengaruhi oleh harga bahan baku impor, termasuk plastik untuk kemasan makanan dan minuman. Mungkin kenaikan harganya terlihat kecil jika dilihat satu per satu, tetapi jika terjadi pada banyak produk sekaligus, dampaknya cukup terasa bagi mahasiswa yang memiliki anggaran terbatas.

Di sudut-sudut koridor kampus, keluhan mengenai tingginya biaya hidup kini menjadi diskursus harian yang jamak terdengar. Fenomena mahasiswa yang mulai memangkas frekuensi nongkrong di kafe, beralih memanfaatkan transportasi publik atau berjalan kaki, hingga berburu pekerjaan sampingan (part-time) dan proyek freelance demi menyambung hidup, bukan lagi pemandangan asing. Ini adalah bukti sahih bahwa guncangan makroekonomi nasional tidak pernah tinggal diam di dalam gedung Bank Indonesia, melainkan merangsek masuk hingga ke kamar-kamar kos mahasiswa.

Situasi ini menjadi tantangan sekaligus pelajaran bagi mahasiswa. Di satu sisi, mahasiswa harus menghadapi kenyataan bahwa biaya hidup terus meningkat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut mengajarkan pentingnya mengelola keuangan dengan baik. Mahasiswa dituntut untuk lebih bijak dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan, membuat prioritas pengeluaran, serta memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif.

Lihat Juga :  Sultan Palembang Darussalam, SMB IV Ajak Kaum Milenial Manfaatkan Keterampilan Budaya Digital

Walaupun, tidak adil jika seluruh beban tersebut harus ditanggung oleh masyarakat. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat. Berbagai kebijakan yang mendukung penguatan ekonomi dalam negeri perlu terus dilakukan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada produk dan bahan baku impor. Dengan demikian, dampak pelemahan rupiah dapat ditekan dan masyarakat tidak terlalu terbebani oleh kenaikan harga.

Sebagai generasi muda, mahasiswa juga memiliki peran dalam menghadapi kondisi ini. Walaupun mungkin tidak bisa secara langsung memengaruhi nilai tukar rupiah, mahasiswa dapat mulai membangun kesadaran ekonomi, mendukung produk lokal, meningkatkan keterampilan, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Kesadaran tersebut penting karena mahasiswa bukan hanya menjadi penonton dalam perkembangan ekonomi, tetapi juga bagian dari masyarakat yang akan menentukan arah bangsa ke depan.

Pada akhirnya, angka pelemahan rupiah di layar berita adalah representasi dari perjuangan ruang-ruang kos dan meja-meja kantin. Ketika biaya hidup menuntut ongkos yang lebih tinggi, mahasiswa sedang diuji untuk bertahan di tengah keterbatasan. Dari himpitan inilah lahir pelajaran berharga tentang resiliensi, seni mengelola anggaran, dan kesadaran bahwa kebijakan publik selalu punya dampak nyata di atas piring makan kita. Rupiah boleh saja sedang tertekan, namun daya juang dan nalar kritis mahasiswa untuk terus bertahan tidak boleh ikut melemah. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button