Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

TAFSIR & HADIST

Kadar Air Hujan 

وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّٰهُ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍۭ بِهِۦ لَقَٰدِرُونَ

Arab-Latin: Wa anzalnā minas-samā`i mā`am biqadarin fa askannāhu fil-arḍi wa innā ‘alā żahābim bihī laqādirụn

 

Artinya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS Al-Mukminuun ayat 18)

 

 

ASSAJIDIN.COM — Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, mengutip Tafsirq.com, ayat ini mengisyaratkan fakta ilmu pengetahuan alam mengenai siklus air pada bumi.

Proses penguapan air laut dan samudera akan membentuk awan yang kemudian menurunkan hujan sebagai sumber utama air bersih untuk permukaan bumi, di samping merupakan unsur terpenting bagi kehidupan.

Air hujan yang turun di atas permukaan bumi itu kemudian membentuk sungai yang mengalirkan sumber kehidupan ke daerah-daerah kering dan jauh untuk, pada akhirnya, bermuara di laut.

Secara alami, air itu berputar dari laut ke udara, dari udara ke daratan, dan dari daratan ke laut lagi. Dan begitu seterusnya. Akan tetapi, di antara air hujan itu ada yang meresap ke dalam perut bumi untuk kemudian berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Seringkali, air yang meresap itu menetap dan menjadi air tanah yang tersimpan di bawah kulit bumi untuk masa yang sangat panjang, seperti yang terdapat di bawah sahara barat Libya yang oleh beberapa penelitian mutakhir ditemukan telah berusia cukup lama.

Komponen- komponen geologis yang menyimpan air itu bisa mengalami perubahan suhu–yang oleh para ahli disebut revolusi geologi–yang dapat membawanya ke tempat-tempat lain yang kering untuk kemudian menyuburkannya.

Ayat ini menunjukkan suatu hikmah adanya distribusi air sesuai kadar yang telah ditentukan oleh Allah Sang Maha Penentu Yang Mahabijaksana untuk memberikan manfaat dan mencegah bahaya.

Hikmah lain yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa kehendak Allah Swt. menuntut tersimpannya sejumlah air di samudera dan lautan yang dapat menjamin keseimbangan suhu di muka bumi dan planet lainnya, agar tidak terjadi pertautan yang jauh antara suhu musim panas dan musim dingin yang tidak cocok dengan kehidupan.

Selain itu, air hujan yang diturunkan di atas daratan pun telah ditentukan kadarnya, agar tidak terjadi kelebihan yang dapat menutup seluruh permukaan bumi, atau kekurangan hingga tidak cukup untuk menyirami bagian daratan lain.

 

Terbukti Benar 

Melansir Techno.okezone.com, Al-Quran terbukti benar secara sains oleh ilmuwan. Salah satu pembuktian itu dilihat dari fenomena yang sering terjadi di alam, yakni hujan.

Diperkirakan sebanyak 16 ton air di Bumi menguap setiap detiknya. Jumlah tersebut sama dengan jumlah air yang turun ke Bumi setiap detiknya. Ini menunjukkan bahwa hujan bersirkulasi dalam kadar yang seimbang menurut ukurannya.

Dalam Surat Az-Zukhruf Ayat 11, hujan disebutkan sebagai air yang turun dalam ukuran tertentu.

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur),” bunyi Surat Az-Zukhruf Ayat 11.

Air hujan jatuh dalam kecepatan dan ukuran tertentu. Seperti diketahui, ketinggian minimum awan ialah sekira 12.000 meter.

Lihat Juga :  Perintah Mencari Rezeki yang Halal

Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558 kilometer per jam.

Objek yang jatuh dengan kecepatan itu akan mengakibatkan kerusakan. Apabila hujan turun dengan cara demikian, maka lahan akan hancur, termasuk pemukiman, kendaraan dan orang-orang tidak dapat pergi keluar rumah tanpa mengenakan alat pelindung.

Penghitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya, ada awan yang memiliki ketinggian sekira 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini akan jatuh pada kecepatan yang lebih merusak.

Namun tidak demikian, dari ketinggian berapa pun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekira 8-10 kilometer per jam ketika mencapai tanah.

Adanya keistimewaan tetesan hujan, yakni efek gesekan atmosfer yang mempertahankan laju tetesan-tetesan hujan pada batas kecepatan tertentu.

Hujan yang turun umumnya tidak dalam bentuk es sehingga Idak membahayakan makhluk di Bumi.

Padahal, dalam ketinggian lapisan atmosferis atau tempat terjadinya hujan, memungkinkan temperatur yang sangat rendah.

 

Pengobatan

Salah satu sahabat Nabi yang memanfaatkan air hujan untuk keperluan kesehatan adalah Sayyidina Ali Karamallahu wajahah. Ia memang menjadi pintu bagi ilmu pengetahuan. Betapa tidak, banyak ulama Islam yang mengambil riwayat ilmiah dari sahabat yang satu ini. Tidak terkecuali dalam bidang pengobatan.

Sahabat Ali, seperti dilansir dari nu.or.id, pernah memberikan solusi bagi kesehatan seorang sahabat laki-laki yang sudah berumah tangga dan mengalami penyakit kronis. Ia memberikan saran obat untuk kesehatan sang suami dengan bantuan istri sahabat itu agar sembuh dari penyakit.

Sahabat Ali membagikan resep pengobatan menggunakan wasilah pertolongan berupa komponen mahar istri dari suami yang sedang sakit tersebut. Uniknya, Sahabat Ali menggunakan wasilah campuran obat yang disarankan berupa air hujan.

Dalam tafsir Al-Qurthubi yang membahas tentang mahar di Surat An-Nisa ayat 4, diriwayatkan: “Jika salah seorang di antaramu mengalami penyakit, lalu ia meminta satu dirham dari maharnya kepada istrinya, kemudian ia membelikannya madu, lalu ia meminumnya dengan air hujan, maka Allah ‘Azza wa jalla mengumpulkan yang sedap lagi baik akibatnya serta air yang berkah untuknya.” (Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, juz VI, Penerbit Ar-Risalah, Beirut, 2006: halaman 50).

Formula kombinasi resep untuk pengobatan yang diajarkan oleh sahabat Ali ini sangatlah lengkap. Zat aktif utama yang digunakan dalam campuran obat itu adalah madu.

Dari sisi farmakologi, madu mengandung zat berkhasiat seperti karbohidrat dan mineral yang sangat baik untuk berbagai penyakit.

Madu mengandung nutrisi lengkap yang sangat dibutuhkan oleh orang yang sedang sakit kronis. Komponen pelarut madu yang disarankan oleh Sahabat Ali adalah air hujan.

 

Hidrogen Peroksid

Secara ilmiah, sejak lama air hujan telah diteliti mengandung hidrogen peroksida atau H2O2 alami dalam jumlah sangat kecil (Tonner dan Wong, 1998, Spectrophotometric Determination of Hydrogen Peroxide in Rainwater, Alaytica Chimca Acta, Vol. 320, Nomor 2-3: halaman 279-287) .

Hidrogen peroksida memiliki berbagai manfaat dalam dunia farmasi. Pada kadar yang kecil, hydrogen peroksida ini bisa digunakan sebagai antiseptik untuk mencegah kuman penyebab penyakit.

Apabila kadar H2O2 yang sangat kecil pada air hujan dan berasal dari lingkungan udara bersih diminum, maka akan meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh manusia (Joseph dkk, 2011, Clean Environment-Clean Technologies, Hydrogen Peroxide for Clean Environment, Curr World Environ, Vol 6, Nomor 1: halaman 125-130).

Lihat Juga :  Inilah 7 Herbal Tradisional Arab dalam Dunia Pengobatan Kuno hingga Sekarang

Satu hal penting, teknis penggunaan formula obat dari Sahabat Ali yang mengandung air hujan ini perlu dijelaskan. Dasar yang digunakan sebagai landasan penggunaan air hujan pada masa itu adalah karena air hujan dianggap sebagai sumber keberkahan sekaligus air murni alami yang dapat diperoleh dari lingkungan hidup para sahabat Nabi pada zaman itu.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Al-Hafiz Adz-Dzahabi dalam kitab At-Thibbun Nabawi sebagai berikut: “Air hujan baik untuk kebanyakan penyakit dan memiliki keberkahan” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, At-Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyaul Ulum: 1990 M], halaman 189)

Pada catatan kaki Kitab At-Thibbun Nabawi tersebut, terdapat kutipan ayat Al-Quran ketika menjelaskan keberkahan air hujan tersebut:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً

Artinya: “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan” (Q.S. Qaaf [50]: ayat 9).

Pada masa sahabat nabi, lingkungan udara masih bersih dari berbagai polutan. Apabila turun hujan, airnya merupakan air yang bersih dan bermanfaat untuk kesehatan manusia. Air hujan yang turun langsung dari langit masih bisa dikonsumsi sebagai sumber air yang menyehatkan.

Hingga kini, mengutip, hujan dikenal sebagai pembersih udara dari berbagai polutan sehingga keberkahannya masih terbukti. Namun, seiring dengan polusi udara dan lingkungan yang meningkat, perhatian dan kewaspadaan terhadap kebersihan air hujan juga harus ditingkatkan. Apabila masyarakat hendak memanfaatkan air hujan untuk keperluan konsumsi, maka perlu memperhatikan saran dari para ahli lingkungan yang meneliti tentang air hujan.

Salah satu hasil penelitian di Indonesia mengungkapkan bahwa air hujan di sekitar wilayah industri bersifat asam. Bahkan penelitian awal menunjukkan bahwa komposisi air hujan di daerah urban dapat mengandung unsur-unsur logam berat yang dapat membahayakan kesehatan (Hasan dkk, 2017, Composition of Ions and Trace Metals in Rainwater in Bandung City, Indonesia, Regional Conference in Civil Engineering, Surabaya: halaman 603-608).

Apabila turun hujan pertama kali di wilayah yang rentan terhadap polusi udara, maka karakter airnya menjadi hujan asam. Oleh karena itu, masyarakat hendaknya menghindari air hujan yang turun pada awal waktu hujan.

Namun, setelah hujan deras berlangsung lama, air yang turun di pertengahan hingga akhir periode hujan di wilayah itu adalah air yang lebih bersih.

Jadi apabila masyarakat yang memanfaatkan air hujan dengan aman hendaknya memproses air hujan dengan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan.

Para ahli juga telah banyak yang membuat alat penampungan air dalam skala rumah tangga untuk memanen air hujan.

Ahli lingkungan juga ada yang membuat alat penyaring sederhana untuk memurnikan air hujan yang akan dikonsumsi agar terhindar dari pengotor dan pencemar semacam logam-logam berat.

Masyarakat bisa mempelajari teknologi pengolah air hujan itu dengan membaca publikasi yang saat ini mudah diakses secara gratis.

Hal lain yang tidak kalah penting apabila masyarakat hendak menggunakan air hujan sebagai obat adalah menggunakan campuran madu sebagaimana formula Sayyidina Ali.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button