Mencintai Harus Karena Allah
Oleh: EMIL ROSMALI
Membicarakan cinta tak dapat dilepaskan dengan motif dan tujuan pelakunya.
Sesuai arti katanya, cinta adalah perasaan hati dalam menyenangi sesuatu. Dalam bahasa Arab, cinta sering
disebut dengan kata mahabba.
Mencintai sesuatu berarti sama dengan menyenanginya. Cinta adalah salah satu sifat fitri (alami)
yang memang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Dengan cinta, manusia satu dan lainnya
dapat membina hubungan dengan harmonis.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat kasih sayang. Sebanyak
99 Ia simpan untuk hamba-hamba-Nya nanti di akhirat, sedangkan satunya Ia turunkan kepada
umat manusia. Dengan hanya satu rahmat inilah, manusia satu dengan yang lainnya saling mencintai.” (HR Bukhari-Muslim).
Dalam Pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Amran Anwar di Mesjid Al Furqon, pekan lalu, ia
menggambarkan bagaimana cinta dan kasing sayang, bahwa cinta dan kasih sayang yang dimiliki manusia hakikatnya adalah bentuk anugerah tertinggi yang Allah SWT berikan.
Itu artinya, cinta sesungguhnya harus dilandasi dengan keyakinan bahwa cinta itu adalah dari Allah
SWT dan harus dimanfaatkan sepositif mungkin oleh manusia, semata-mata karena Allah.
Dengan kata lain, uajrnya mencintai manusia lain sebetulnya harus dilandasi sikap bahwa cintanya itu adalah karena Allah, sehingga cinta yang ditimbulkan akan selalu berada dalam jalur yang sudah Allah SWT gariskan, bukan cinta buta yang hanya memperturutkan hawa nafsu rendah.
Mencintai seseorang karena Allah SWT akan mengantarkan seseorang pada satu level, di mana
Allah SWT melimpahkan cinta abadi-Nya yang tak terkira. Rasulullah SAW pernah bercerita kepada
Orang yang sabar dalam menghadapi musibah senantiasa berdoa agar Allah menyingkirkan dan meringankan musibah yang menimpanya dan berharap pahala yang ada padanya, di saat yang sama ia mengambil sebab
dan upaya agar musibah itu berlalu darinya.
Dikisahkan Abdurrahman bin Abu Laila, dari Shuhaib berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan
kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya
apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan
baginya.” (HR: Muslim)
Bersabar
Setiap mukmin akan selalu mendapat ujian. Dan Allah tidak akan memberi beban kecuali sesuai kemampuannya. Allah berfirman: “Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” [QS. alBaqarah: 286].
Banyak orang yang berlapang dada ketika musibah menimpanya. Orang yang ridho atas musibah sangat menyadari bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah. Baginya, ketika ditimpa musibah seolah-olah dia tidak merasa mendapat musibah. Derajat ridho atas musibah tentu lebih tinggi tingkatannya dari sikap sabar.
Aneh kedengarannya, ditimpa musibah kok malah bersyukur. Ditimpa musibah kok malah berterima kasih. Ya memang demikian keadaannya kelompok keempat ini.
Baginya musibah adalah sesuatu yang ‘mengasyikkan’.
Dia seakan menikmati ‘memadu kasih’ dengan Tuhannya di saat tertimpa musibah yang
bagaimanapun bentuknya.
Malah, kalau bisa dia berharap agar musibah itu tidak lekas hilang darinya. Yang menempati
derajat ini adalah para nabi dan rasul, wali-wali Allah, orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang mendalam seperti yang pernah saya tuliskan dalam kisah Abu Qilabah al Jarmi, seorang
tabi’in yang diuji oleh Allah Subhanahu Wata’ala dengan penderitaan yang luar biasa, buntung kedua
tangan dan kakinya, buta matanya, hampir tidak berfungsi pendengarannya, ditambah lagi kematian
anak satu-satunya yang selalu merawatnya.
Firman Allah: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu sekalian memaklumkan; sungguh apabila kamu
telah bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmat kepadamu; tetapi apabila kamu kufur, adzab-Ku
amatlah pedih” .[QS. Ibrahim: 7]
Ingatlan pesan Allah, “Fa inna ma’al ‘ushri yusra, inna ma’al ‘ushri yusra.” (maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan)
[QS. as-Syarh: 5 – 6].(*)
Abu Hurairah, sebagaimana kisah yang diceritakan oleh Amran, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki
yang berniat mengunjungi temannya dalam sebuah kampung.
Dalam perjalanan, itu bertemu dengan malaikat yang sengaja Allah turunkan untuk menanyakan tujuannya. Laki-laki itu menjawab, ia ingin mengunjungi salah satu temannya di sebuah kampung. Malaikat bertanya lagi tentang alasan kunjungan itu, apakah karena temannya itu memiliki satu jasa berharga yang
harus dibalas atau tidak.
Dengan tegas, laki-laki itu menjawab ia tidak memiliki alasan selain bahwa kunjungannya itu adalah karena cintanya kepada temannya, cinta yang dilandasi semata-mata karena Allah SWT.
Malaikat itu akhirnya memberi tahu kepada lakilaki itu bahwa ia adalah utusan Allah untuk menyampaikan kabar gembira bahwa laki-laki itu dijamin akan dicintai Allah selamanya, dengan sebab cintanya pada
temannya itu.” (HR Muslim).
Cinta sesama manusia hanya karena Allah, sebagaimana kisah dan ajaran dalam Islam menurut
Amran, bukan karena alasan lain, itulah cikal bakal cinta abadi yang Allah SWT siapkan di akhirat kelak.
Cinta model ini pulalah yang akan menjadi naungannya nanti di hari kiamat. Satu hari yang tidak ada
naungan lagi selain naungan yang Allah berikan kepada manusia.
Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti Allah SWT akan berseru, ’Mana orang-orang yang saling mencintai hanya karena Aku? Pada hari kiamat yang tidak ada naungan ini, Aku akan memberikan
naungan-Ku pada mereka semua.’” (HR Muslim).
Dengan cinta yang dilandasi keyakinan seperti inilah, umat manusia akan dapat mewujudkan kedamaian dan keharmonisan di antara sesama. Wallahu
a’lam.(*)
