Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

LENTERA

Investasi Buruk untuk Anak Cucu Kita itu Bernama “Marah”

Firman Allah SWT: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Quran Surah 3:133-134).

 

 

Penulis : Muhammad Alimudin
Fasilitator Pemahaman Alquran

ASSAJIDIN.COM — Mungkim pembaca pernah menyaksikan dan mendengar lansung pemberitaan percobaan pembunuhan seorang anak laki-laki yang akan membunuh ayah kandungnya. Kejadian tersebut terjadi dekat dengan kita, yakni masih berada di wilayah Sumatera Selatan. Motif dari kejadian tersebut yang penulis tangkap bahwa si anak dan ibunya sering dimarahi oleh ayahnya.
Awal mula sampai terjadi demikian si anak yang penurut ini selalu dimarahi, pada saat bersamaan ibunya pun dimarahi oleh sang ayah. Suasana tersebut semakin mencengkam ketika sang ayah tidak hanya marah, bahkan hal itu ditambah dengan pukulan serta tendangan terhadap ibunya. Melihat hal tersebut si anak ini pun kontan ingin membantu ibunya dari amarah sang ayah. Tanpa pikir panjang anak ini pun mengambil sebilah parang kemudian menghujamkan parang tersebut ke kepala sang ayah. Seketika ayah tadi terkapar dan bermandikan darah. Melihat suaminya terkapar, ibu tadi menjerit yang mengakibatkan warga berdatangan. Dan akhir dari cerita ini anak tersebut dengan terpaksa harus mendekam di penjara dan ayah nya pun meninggal.
Kejadian tersebut dapat kita jadikan pembelajaran dan yang harus digarisbawahi bahwa awal kejadian itu bermula dari kemarahan. Pertanyaannya, Apakah kita termasuk golongan ayah yang suka marah? Atau apakah kita juga termasuk golongan ibu yang pemarah? Jika ia maukah kita mengalami kejadian seperti contoh kejadian di atas? Jika tidak mau ayo kita tahan amarah dan itu lebih baik.
Memang marah itu tidak bisa dihilangkan dari manusia pasti ada, jika marah tersebut hilang dari manusia maka dia bukan lagi manusia tapi makhluk lain. Di sini yang harus dilakukan adalah menahan marah, artinya jika amarah datang maka cepet-cepet meredamnya. Tapi sayang, marah sudah menjadi kebiasaan kita termasuk juga di dalam mendidik anak baik itu di keluarga maupun di sekolah, marah sudah menjadi budaya yang mesti dilakukan terbukti saat masa perkenalan sekolah atau kampus, di situlah sering terjadi keributan dan kemarahan.
Terkadang hanya masalah sepele, anak mau makan dimarahi, anak mau mandi dimarahi, hari-hari diisi dengan kemarahan dan omelan hehehe ngak enak banget. Pernah tidak kita membayangkan bagaimana generasi penerus bangsa yang dihasilkan dari proses pendidikan yang penuh dengan amarah? Memarahi adalah suatu proses mentrasnfer atau mengalirkan energi negatif kepada anak. Mendidik anak dengan marah juga dapat kita artikan sebagai investasi energi Iblis yang akan kita panen ketika mereka dewasa. Pernah tidak kita merasakan bagaimana rasanya dimarahi? Jika pernah itulah yang dirasakan anak kita saat kita marahi dia.
Mungkin kita tidak sadar, semakin kuat dan kencang kita marahi anak maka energi negatif atau energi Iblis dalam anak pun semakin besar. Mungkin pada saat itu ia akan menurut, tetapi ia menurut karena terpaksa dan akan tertanam kuat energi kebencian tersebut di dalam jiwanya. Memarahi dibawah ambang batas kewajaran sama saja kita menyiapkan dan mengkader iblis-iblis kecil.
Generasi yang Kuat
Sebenarnya keluarga adalah tempat yang baik menanamkan nilai-nilai agama, hal ini pun selaras dengan pernyataan Abdullah Nashih Ulwan di dalam bukunya Pendidikan Islam untuk Anak menyatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Indikasi dari pernyataan beliau yang penulis pahami bahwa orang tua terutama ibu yang menjadi figur utama dan pertama yang dicontoh anaknya. Di dalam keluarga nilai-nilai kebaikan dan keburukan akan tersaji dan diserap oleh anak dari segala tingkah yang digambarkan oleh orang tua.
Dari pernyataan di atas, kita semua sepakat bahwa awal kita melakukan pendidikan adanya di rumah dalam hal ini keluarga. Ini berarti keluarga adalah wadah yang mendasar dalam menanamkan ajaran-ajaran agama. Konsep seperti ini tentu harus kita pahami betul mengenai pendidikan dasar tersebut, karena cerminan akhlak anak tidak akan jauh dari pada orang tuanya. Seperti halnya pepatah lama buah tak akan jatuh jauh dari pada pohonya. Jika akhlak anak baik, dapat dipastikan orang tuanya mendidiknya dengan baik. Begitu pun sebaliknya, sehingga disimpulkan anak dan orang tua merupakan dua unsur yang dapat mengambarkan keadaan keluarga. Jika anak dididik dengan amarah makan anak pun akan menjadi pribadi pemarah. Tergantung orang tua deh sekarang, jika mau baik anaknya maka orang tua harus baik, jika ngak ya gitu deh jadinya.
Di dalam Al-Qur’an, Allah telah mengajarkan orang tua untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Dalam artian mendidik anak menjadi generasi yang kuat, sebagaimana Allah abadikan dalam firman-Nya.
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalk
an dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Surah 4:9)
Kita mesti berupaya menyiapkan dan mewariskan generasi yang kuat untuk kebaikan masa depan kelak, baik keluarga maupun bangsa dan negara, dimulai dari anak-anak kita. Ada empat aspek kuat yang dimaksud, pertama kuat dalam hal fisik. Kedua, kuat dalam keilmuan. Ketiga, kuat dalam keimanan (tidak musyrik). Keempat, kuat dalam hal kepribadian atau akhlak.
Anak memang perlu makan dan minum secara fisik, akan tetapi ia pun juga perlu makanan secara non-fisik yakni makanan jiwa untuk menguatkan keimanannya sehingga terhindar dari perbuatan musyrik. Ia juga perlu makanan berupa ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan juga perlu makanan pembuat karakter yang mengajarkan tingkah laku sesuai dengan Al-Qur’an. Tujuan dari mendidik anak sesuai Al-Qur’an yakni menjadikannya pemimpin bagi orang yang bertaqwa.
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Surah 25:74)
Menjadikan anak pemimpin bagi orang bertaqwa berarti mendidik anak menjadi pribadi yang bertaqwa yakni manusia yang segera mohon ampun, manusia yang gemar shodaqoh baik ketika lapang mau pun sempit, senantiasa menahan amarah, senantiasa memaafkan kesalahan orang lain dan gemar berbuat baik.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Surah 3:133-134).

Back to top button