
AsSajidin.com— Dalam cerita masyarakat Jepang, dikenal dengan Istilah Ubasuteyama Sebuah Tradisi paling ekstrim di dunia, adalah tradisi membuang kerabat atau anggota keluarga yang sakit atau lanjut usia ke tempat terpencil untuk mati.
Secara harfiah, ubasute sendiri berati “pembuangan.” Dalam kisah masyarakat Jepang zaman dulu, ubasute berati membuang orang tua. Tradisi mengerikan ini dilakukan di hutan, tepatnya di kaki Gunung Fuji, yakni di Hutan Aokigahara yang dikenal juga sebagai hutan bunuh diri masyarakat Jepang.
Kisah lain datang dari India yang dikisahkan dalam cerita rakyat China selama abad ke-6, bercerita tentang seorang raja yang membenci orang tua. Sang raja membuat peraturan kepada rakyatnya yang hidup melewati usia 70 untuk dikirim ke pengasingan.
Salah seorang menteri sangat mencintai ibunya, sehingga saat dia ibunya berusia 70 tahun dia menggali ruang rahasia di rumahnya dan menyembunyikannya di sana. Beberapa tahun kemudian, penguasa kerajaan tetangga mengirim dua kuda kepada raja, dengan sebuah teka-teki.
Raja harus bisa menebak mana satu kuda yang merupakan induk dan mana yang anaknya. Jika raja gagal menjawab teka-teki tersebut, kerajaannya akan diserang. Raja pun meminta saran kepada sang menteri. Menteri tidak tahu jawabannya, dia memilih untuk bertanya kepada ibunya karena ibunya telah hidup begitu lama dan mungkin telah mendengar teka-teki semacam itu. Wanita tua itu pun menyarankan untuk meletakkan rumput di depan mereka. Kuda yang mundur dan membiarkan yang lain makan, menurutnya adalah induk dari kuda-kuda itu.
Raja pun terkesan kepada menterinya bagaimana dia bisa mengetahui jawaban itu.Menteri mengakui, bahwa hal itu adalah perenungan hati, dimana tidak ada seorang ibu yang tega melihat anak-anaknya kesusahan dan kelaparan, Begitulah yang terjadi pada kuda-kuda itu, dan itu pula lah, yang di rasakanya terhadap ibunya. Alhasil kemudian, Sang menteri pun berterus terang pada sang raja karena selama ini telah melanggar aturan karena menyembunyikan ibunya dalam bilik rahasia. Melihat itu semua, Raja pun merasa bersalah dan mencabut peraturan mengasingkan orang tua tersebut.
Kendati semua peristiwa diatas sepertinya mengabaikan orang tua. Namun sebuah renungan yang sangat pantas untuk di simak adalah sebuah pesan agar anak dapat menyayangi dan tidak meninggalkan orangtua mereka. Sebagaimana, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS: Lukman (14) menjelaskan,
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”
Menyimak ayat diatas,sesungguhhnya Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa menjaga, menghormati dan melindungi orang tuanya,terlebih keduanya telah memasuki usia senja. Tidak ada alasan bagi seorang anak untuk tidak berbakti kepada mereka, sekalipun kehidupan seorang anak dalam keadaan yang serba kekurangan. Sebab, kunci berbakti tidak harus kaya, kunci menyayangi tidak pula bermewah-mewah. Karena berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan merupakan salah satu amalan yang paling di sukai oleh Allah SWT.
Untuk di ketahui, Istilah birrul walidain yang sering dipakai Rasulullah SAW (sebagai yang disebutkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud) ketika seorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang amalan apa yang paling disukai oleh Allah SWT.
Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah ibnu Mas’ud r.a :” Artinya : Aku bertanya kepada Nabi SAW, “apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT ?” Beliau menjawab, “shalat tepat pada waktunya”, Aku bertanya lagi, “kemudian apa ?” Beliau menjawab, “birrul walidain”. Kemudian aku bertanya lagi, “seterusnya apa ? ” Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah”.
Birrul walidain terdiri dan kata al birrul artinya kebajikan dan al walidain artinya dua orangtua atau orangtua. Maka birrul walidain sangat sarat akan makna untuk berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan. Sesuai dengan diperintahkan Allah SWT di dalam surah Al Ahqaf ayat 15 : “ Artinya : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri””.(Q.S. Al Ahqaf: 15).
“ Menyimak betapa pentingnya prilaku memuliakan orang tua yang wajib dilakukan oleh setiap anak maka, jelas lah sudah perkara ini. Bahkan, sekalipun orang tua kita berbuat maksiat dan lalai, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim As. Namun dengan tegas pula Islam menganjurkan seorang anak untuk tetap menghormati dan menghargai keduanya,” hal ini disampaikan Oleh Ustadz Das’ad Latif (UDL) dalam salah satu tausiyahnya.
Menurut Ustadz Das’ad, di antara perintah Allah mengenai birrul walidain terdapat di dalam surah Al Isra’ ayat 23 –24. Manakala diperhatikan firman Allah dalam ayat ini dapat diambil beberapa hal pokok. Pertama, hak dan kedudukan orangtua di dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia, langsung berada di bawah hak-hak Allah SWT. Alquran berulang kali memerintahkan berperilaku menyenangkan, patuh berbakti kepada orangtua. Selanjutnya, apabila kedua orangtua sudah berusia lanjut, sikap dan perasaan mereka cepat berubah, seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka.
“ Maka kepada anak-anak mereka diperintahkan agar melihat perubahan perilaku orangtua yang sudah tua renta itu sebagai suatu yang lumrah dan mesti diterima dengan selalu menampakkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai buah dari keluhuran budi mukmin yang bertaqwa.Ingat dalam berbakti kepada keduanya, tidak harus menunggu kaya, biarkan kau kontrak-kontrak rumah, biarkan pekerjaanmu seadanya. Asalkan kau muliakan orang tuamu, nanti Allah yang akan memuliakan hidupmu,” tuturnya.
