Islam Sebagai Ideologi Itu Mutlak, Bagi Setiap Penganutnya !

ASSAJIDIN.COM, PALEMBANG — Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila adalah ideologi yang wajib dan harus dijadikan landasan berfikir, bertingkah laku, bersikap dan berbuat oleh setiap warga negaranya. Namun dalam kehidupan beragama, Islam pun wajib menjadikan aturan agama sebagai ideologi pemahaman yang mempunyai nilai kebenaraan bagi perenungan hidup manusia dan penganutnya.
Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, dalam kesempatannya bersama AsSajidin beberapa waktu lalu mengungkapkan, tentang bahaya laten runtuhnya pondasi pemahaman umat, khususnya umat Islam atas aturan dan ajaran kebenaran yang datanganya langsung berdasarkan wahyu maupun hasil kontemplasi akal budi secara murni. Ideologi ini biasanya merupakan hasil kerja para filosof atau orang yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk memikirkan tentang diri dan lingkungannya atas segala yang ada.
Sultan berpendapat bahwa, agama Islam adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal. Artinya, Islam mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama” (religious). Oleh sebab itu, pemahaman Islam sebagai ideologi bagi penganutnya tidaklah salah, karena hal tersebut merupakan rambu-rambu yang membatasi kehidupan umat untuk terus berjalan lurus di jalan yang di ridhoi olehNya.
“ Jujur ya, sekarang ini kan banyak sekali orang yang mengaku beragama Islam. Namun kehidupan, pola tingkah laku dan jalan hidup yang di tempuh justru menyimpang dari ajaran Islam. Buktinya, orang korupsi semakin subur, orang memakan riba semakin merajarela. Bahkan orang kafir menyelinap jadi santri hanya untuk kepentingan sekulerisme, dan kapitalisme, yang ini berarti dzolim pun semakin berkembang, Ini adalah ciri, gagalnya pemahaman umat akan Islam untuk mendokrinisasi penganutnya agar tidak menyimpang dari ajaran agama. Jadi saya rasa sudah saatnya, penganut agama Islam menjadikan aturan dan pengajaran yang ada dalam Islam sebagai ideologi,” ungkapnya.
Lebih jauh Sultan menambahkan, kemunculan Islam Nusantara yang belakangan ini menyeruak adalah salah satu gagalnya pemahaman umat atas Islam yang terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Agama berasal dari bahasa Sanskrit, yang mempunyai arti: tidak pergi, tidak kocar-kacir, tetap di tempat dan diwarisi turun-temurun.
“Dengan begitu kan jelas bahwa Islam tidak bisa di pisahkan dari asal muasalnya yaitu Arab, diteruskan secara turun temurun, dari para nabi, kepada sahabat, tabi’in, ulama dan seterusnya sampailah kepada kita saat ini. Celaka kita nanti, jika mendurhakai Islam yang datanganya dari Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi menolak tempat asalnya Islam itu di turunkan. Jadi sekali lagi saya tegaskan, Islam itu satu rahmatan lil alamin, tidak ada itu yang namannya Islam Nusantara, Islam Eropa, Islam bla-bla.. Islam itu satu titik,” ucap Sultan dengan tegasnya.

Beberapa waktu lalu, dihadapan ribuan tamu undangan di Yogyakarta, turut hadir Menteri Agama Islam Lukman Hakim Syaifudin, dan disana kata Sultan, Ia berulang kali mempertegas pernyataaanya atas kekeliruan pemerintah ini. Dan memimnta agar Islam Nusantara yang berkembang saat ini untuk segera di akhiri, karena akan menimbulkan keraguan umat dalam menyakini agamanya.
“ Sebagai Sultan Palembang Darussalam, Saya berkewajiban menyampaikan itu. Bukankah, Allah AZZA WA JALLA berfirman dalam QS: Albaqarah 208 berbunyi : Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian. Ini adalah pertanda bahwa, sekali memeluk Islam, cara berfikir, berucap, berbuat dan hidup pun harus secara Islam. Tidak bisa mengaku Islam, tapi cara berfikirnya, politiknya, ekonominya justru bertentangan dengan Islam,” tegasnya.
Senada hal itu, Ujang Khadafi, Pemerhati Budaya Islam di Palembang bahwa, agama itu berarti teks atau kitab suci dan atau tuntunan. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa agama itu ajarannya bersifat tetap dan diwariskan secara turun-temurun, mempunyai kitab suci dan berfungsi sebagai tuntunan hidup bagi penganutnya.
“Din” dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi, menguasai dan menundukkan untuk patuh kepada aturan Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajarannya sebagai suatu kewajiban. Saya rasa, tidak salah jika Islam di jadikan Ideologi bagi penganutnya, yang salah itu ketika Islam dijadikan ideologi negara yang tidak semua penganutnya beragama Islam. Hanya itu bedanya,” kata Ujang Khadafi.
Menyikapi itu, Dr. Tarech Rasyid M.Si Pengamat politik di Palembang mengatakan jika, Mengacu definisi Islam secara “Din” pada kalimat diatas jelas bahwa kunci UUD 1945 dan Pancasila adalah semangat islam.
“ Dengan dasar tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan menggugat perda-perda bernuansa Syariah. Termasuk UU Pornografi yang juga sebenarnya belum murni syariah. Meskipun demikan kita harus ingat bahwa Indonesia ini memiliki penduduk mayoritas umat Islam. Namun penganutnya sangat menghormati perbedaan. Karena Islam itu cinta damai, sebagaimana Baginda Rasulullah SAW mencotohkan, tidak ada negara agama dalam islam yang ada adalah negara bangsa,” jelas Tarech.
Lebih lanjut Tarech mengungkapkan jika, dalam kehidupan sehari-hari, antara agama (wahyu), ideologi dan kebudayaan seringkali sulit untuk dibedakan. Karena ketiganya sama-sama dapat dijadikan sebagai pedoman hidup walaupun-masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Agama dapat di ideologikan dan dibudayakan. Sebaliknya ideologi dan kebudayaan dapat diagamakan. Agama (wahyu) pada dasarnya bukan ideologi — dan memang bukan ideologi—akan tetapi dapat dijadikan sebagai ideologi apabila agama (wahyu) itu sudah dipersepsi oleh seseorang atau sejumlah orang dan dijadikan sebagai pedoman dalam hidupnya.
“ Itu lah mengapa Islam sebagai ideologi bagi penganutnya adalah mutlak dan harus,” tutupnya.
Reporter : Jemmy Saputera
