Belajar Daring di Palembang, dari Kerepotan Orangtua hingga Siswa tak Punya Gawai

ASSAJIDIN.COM — Kendati pun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dalam jaringan atau atau lebih dikenal dengan belajar daring sudah dilakukan sejak Maret 2020 lalu ketika gelombang Pandemi Covid-19 melanda, akan tetapi di berbagai sekolah di Palembang banyak siswa maupun orang tua wali masih kebingungan sekaligus kerepotan dalam mendampingi anak saat belajar.
Berbagai kendala pun banyak muncul di lapangan saat masyarakat dipaksa melek tentang teknologi hingga masalah ekonomi. Dari kebingungan teknologi, jaringan hingga tak punya smartphone.
Di SD Negeri 30 Palembang misalnya, banyak orang tua yang gaptek dan tak punya smartphone. Ada sebanyak 25 persen dari total 640 siswa yang terpaksa harus belajar luar jaringan atau luring karena tak paham teknologi.
“Siswa kita ada 640 anak, 75 persen daring sementara sisanya 25 persen luring. Sementara ada dari 640 itu, ada 100 siswa yang merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK),” ujar Kepala SDN 30 Palembang Dra Nuraini MM, Senin (20/7/2020).
Sehingga, jangankan siswa ABK, siswa umum saja banyak yang bingung dalam beradaptasi dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Daring. Sehingga 25 persen siswa yang luring agar orang tuanya datang ke sekolah untuk mengambil materi untuk dipelajari anaknya di rumah. Sedangkan tugas bisa dikumpulkan melalui orang tua siswa setiap dua minggu sekali.
Menurutnya, guru-guru kita sudah lumayan pengalaman, mereka ada yang pakai aplikasi Zoom, Google Classroom, ada juga pakai WhatsApp.
“Akan tetapi keaktifan siswa belum banyak, terutama siswa ABK, oleh karena itu, kami minta orang tua atau wali dampingi anaknya saat belajar, apalagi mereka masih kelas 1,2 atau 3 SD,” harapnya.
TakPunya HP, Sekolah Berikan Layanan Pinjaman
Lain sekolah, lain pula permasalahannya. Kali ini di SMP Negeri 1 Palembang yang meski sudah banyak paham antara siswa dan guru tentang PJJ atau belajar daring, akan tetapi ada beberapa siswa dari kalangan pra sejahtera yang mengalami kendala tak memiliki HP atau Handphone untuk belajar daring.
Kepala SMP Negeri 1 Palembang Devi Emilya MPd mengatakan bahwa KBM antara guru dan siswa diserahkan kepada guru dan siswanya masing-masing untuk kenyamanannya. Mulai dari menggunakan Zoom, Google Classroom atau aplikasi lain.
“Kalau anak terkendala tak punya HP, sekolah tetap memberikan pelayanan KBM daring dengan meminjamkan HP milik sekolah,” terang Devi.
Lain halnya di beberapa sekolah yang menerapkan belajar luring atau orangtua datang ke sekolah untuk mengambil materi untuk anaknya, akan tetapi sekolah mengambil kebijakan lebih memilih meminjamkan HP, sehingga semua siswa wajib daring.
“Awalnya guru sudah paham tentang daring, tapi ada beberapa yang belum. Kita ingin, semua guru harus paham mengajar daring, jadi semua guru kita berikan pelatihan selama beberapa hari,” jelasnya.
KBM Sistem Luring
Potret belajar daring di Palembang, ada juga sekolah yang menerapkan sistem luar jaringan (luring).Layanan ini diberikan kepada siswa yang gaptek, tak punya HP, tak punya paket data hingga yang memiliki gangguan jaringan.
Sebagaimana yang dikatakan Kepala SMP Negeri 9 Palembang Hj Hastia SPd MM. Menurutnya, bagi yang memiliki kendala gaptek, tak punya HP, tak punya paket data hingga yang memiliki gangguan jaringan tetap harus mendapat pelajaran dengan cara orangtuanya datang ke sekolah untuk mengambil materi dan tugas untuk dikerjakan.
“Sebagaimana instruksi Dinas Pendidikan Kota Palembang bahwa semua siswa tetap kita berikan layanan pendidikan. Termasuk yang gaptek, tak punya HP, tak punya paket data hingga yang memiliki gangguan jaringan, sehingga orang tua atau walinya datang setiap dua minggu sekali mengambil materi dan tugas, nah siswa wajib mempelajari dan mengerjakan tugas yang diberikan,” jelasnya.
Ia juga meminta kepada semua guru untuk tidak mempersulit proses KBM daring, sehingga dibuat senyaman mungkin agar KBM daring bisa maksimal hasilnya bagi siswa. Karena jika siswa dipaksa memakai KBM dengan aplikasi sulit tapi siswa tak mampu maka akan sulit menghasilkan output yang baik.
“Jadi silahkan nyamannya pakai apa, pakai WA pun tak apa-apa, asal materi tersampaikan dan anak-anak paham,” jelasnya.
Sementara itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang H Ahmad Zulinto agar sekolah melaksanakan KBM daring di tahun ajaran baru ini dengan maksimal.
KBM daring ini terpaksa dilakukan hingga akhir September 2020 mendatang dan menunggu Pandemi Covid-19 berlalu.
“Belajar Daring tetap kita harus lakukan, dengan berbagai pertimbangan. Karena kita sudah kordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia atau IDI Palembang dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI Palembang,” ujarnya.
Mengenai prosesnya, Zulinto menghimbau agar masyarakat bisa memilih pelayanan KBM nya untuk anak-anak mereka. Bagi yang masih belum memahami IT, bisa orang tuanya datang ke sekolah mengambil materi kemudian anak belajar dan mengerjakan tugas di rumah.
“Dan guru tetap mengajar daring dari sekolah, dan evaluasi belajar siswa tetap bisa dilakukan,” jelasnya. (*/Sumber: sibermas/sugi)
