TNI Siapkan 120 Anggota Baru UNIFIL
ASSAJIDIN.COM — Beberapa pekan terakhir ini situasi di Lebanon semakin memanas.
Hal ini dikarenakan militer Israel (IDF) terus meluncurkan berbagai serangan lewat udara dan darat ke daerah-daerah pemukiman warga sipil maupun ke markas-markas PBB.
Kamis pagi, militer Israel menargetkan menara pengamatan UNIFIL di Markas UNIFIL di Naqoura, dan menembakkan senjata dari tank Merkava ke arah menara pengamatan itu.
Akibat serangan itu, dua prajurit TNI yang bertugas bersama UNIFIL di menara jaga itu pun mengalami luka-luka.
120 Prajurit
Di tengah situasi yang kian memanas itu, TNI Angkatan Laut kembali menyiapkan 120 prajurit yang telah melewati serangkaian tahapan seleksi untuk bertugas bersama Maritime Task Force (MTF) UNIFIL di Lebanon pada 2025.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta saat dihubungi di Jakarta, Jumat (11/10/2024), menjelaskan prajurit-prajurit TNI AL itu saat ini menjalani latihan pratugas di Komando Latihan Komando Armada II, Surabaya, Jawa Timur.
Dalam rangkaian latihan pratugas itu, Kadispenal menyebut Asisten Operasi (Asops) Kepala Staf TNI AL Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan memberi pembekalan kepada 120 prajurit TNI AL Satuan Tugas (Satgas) MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL di Surabaya, Jumat.
Asops KSAL dalam materi pembekalannya menekankan kepada para prajurit TNI AL Satgas MTF UNIFIL di Lebanon bertujuan untuk membantu PBB memelihara stabilitas, keamanan, dan menjaga perdamaian.
“Terus berlatih dan mengasah kemampuan guna menghadapi dinamika tantangan tugas sebagai pasukan perdamaian, karena untuk menghadapi tugas yang semakin kompleks dibutuhkan sosok prajurit TNI AL yang profesional, andal, dan modern,” kata Asops KSAL kepada para prajurit Satgas MTF UNIFIL itu.
Pasukan TNI AL yang tergabung dalam Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL dijadwalkan berlayar dengan KRI Sultan Iskandar Muda-367 ke Pelabuhan Beirut, Lebanon pada Desember 2024.
Pasukan itu dipimpin oleh Komandan Satgas MTF TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-P/UNIFIL Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah yang saat ini juga menjabat Komandan KRI Sultan Iskandar Muda-367.
Satgas MTF yang saat ini dipersiapkan oleh TNI AL itu terdiri atas prajurit TNI AL dari pengawak kapal perang, perwira penerbang, perwira penerangan, perwira psikologi, perwira bidang intelijen, perwira kesehatan, prajurit dari Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan penyelam.
Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL itu nantinya akan melanjutkan tugas Satgas MTF TNI Konga XXVIII-O/UNIFIL yang saat ini masih bertugas bersama KRI Diponegoro-365 di Beirut, Lebanon.
Dari markas Koarmada II, Surabaya, KRI Sultan Iskandar Muda nantinya dijadwalkan berlayar ke Jakarta, kemudian ke Batam, Sri Lanka, Oman, Mesir, dan tiba di tujuan Beirut, Lebanon.
Maritime Task Force (MTF) merupakan salah satu satuan yang bernaung di bawah kendali Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
Di samping MTF, TNI juga mengirim pasukannya untuk bergabung dengan satuan-satuan lain UNIFIL yang mencakup Satgas Batalyon Mekanis (INDOBATT), Satgas Pendukung Markas/Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Satgas Indo Force Protection Company (FPC), Satgas Koordinasi Sipil-Militer/Civilian Military Coordination (CIMIC) TNI, Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU), dan Satgas Level 2 Hospital.
Sebagian besar prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL beroperasi di darat, sedangkan Satgas MTF menjalankan tugasnya di laut.
Kutuk Keras
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengutuk keras serangan militer Israel yang menargetkan pasukan perdamaian PBB sekaligus prajurit TNI itu.
Retno menyatakan Indonesia tidak akan pernah gentar membantu PBB menjaga perdamaian di Lebanon.
“Serangan merupakan upaya teror Israel kepada pasukan penjaga perdamaian dan masyarakat internasional. Indonesia menegaskan bahwa mereka yang teguh pada prinsip perdamaian tidak akan pernah gentar,” kata Menlu RI pada sela-sela kegiatannya di Vientiane, Laos, Jumat.
UNIFIL lewat peryataannya menegaskan bahwa, serangan terhadap pasukan perdamaian adalah sebuah “pelanggaran mematikan atas hukum kemanusiaan internasional”.
UNIFIL yang terdiri dari 10.000 prajurit dari 50 negara dan terbentuk pada 1978, mengatakan, militer Israel (IDF) ‘sengaja’ menembaki posko mereka yang terletak di perbatasan Lebanon-Israel.
Any deliberate attack on peacekeepers is a grave violation of international humanitarian law and of Security Council resolution 1701.
We are following up with the IDF on these matters. — UNIFIL (@UNIFIL_) October 10, 2024
Sangat Serius
Juru bicara UNIFIL Andrea Tenenti kepada Al Jazeera mengatakan, bahwa serangan itu sebagai eskalasi yang ‘sangat serius’. Tenenti menjelaskan bahwa Israel sebelumnya telah memaksa pasukan perdamaian PBB untuk bergeser ke titik tertentu di perbatasan, namun “Kami memutuskan untuk bertahan karena penting bagi bendera PBB berkibar di selatan Lebanon.”
Jika situasinya menjadi tidak mungkin bagi UNIFIL untuk beroperasi di selatan Lebanon… Itu akan bergantung pada Dewan Keamanan PBB untuk memutuskan bagaimana ke depannya,” kata Tenenti.
Menyusul insiden serangan IDF terhadap posko UNIFIL di Lebanon beberapa negara telah bereaksi. Termasuk, dalih Israel yang menembaki posko UNIFIL karena mengklaim adanya militan Hizbullah bersembunyi di sekitar posko itu.
