Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

INTERNASIONAL

Keutamaan Tadarus Al-Quran

Oleh: Aminuddin
Pemerhati Keislaman

DI zaman Nabi Muhammad SAW, kebiasaan di setiap bulan Ramadan para sahabat berkumpul di ‘shuffah’ atau pinggiran masjid nabawi. Ke biasaan untuk saling mencocokan ayat-ayat dalam Al-Quran.

Kebiasaan para sahabat berkumpul di ‘shuffah’ inilah yang menjadi aw al mula munculnya tradisi tadarus Al-Quran pada umat islam di seluruh dunia.
(Menko PMK Muhadjir Effendy)

Saudara-saudaraku yang dimulia kan Allah SWT…

BULAN suci Ramadhan telah tiba. Sudah beberapa hari ini kita menja lankan ibadah puasa.

Alhamdulillah, di Palembang dan se kitarnya, cuaca sedikit mendung, sehingga terasa lebih nyaman kita beribadah puasa.

Tentu saja, puasa yang kita lakukan akan lebih bermakna bila diisi dengan amalan- amalan yang baik, seperti tadarus Al-Quran.

Banyak keutamaan yang bakal kita raih. Berikut di antaranya :

1. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda

Membaca satu huruf Al-Quran akan dibalas dengan sepuluh kebajikan.

“Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Quran) maka ia menda pat satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan: “Alif Laam Miim” satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf. (HR At-Tirmidzi)

2. Memperoleh ketenangan dan keda maian hati

Dengan tadarus Al-Quran kita akan men dapatkan ketenangan dalam jiwa.

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra’ Ayat 82).

Al-Quran juga disebut sebagai Asy-Syifa atau obat segala penyakit kejiwaan. Ja di siapapun yang membacanya akan men dapat ketenangan.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du: 28)

3. Mendapatkan syafa’at di hari kiamat

Mereka yang membaca Al-Quran akan mendapatkan syafa’at dari Al-Quran sebagaimana sabda Rasulullah:

“Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya Al-Quran itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR Muslim)

4. Menghidupkan hati yang kosong

Hati yang tidak menyimpan kalamullah diumpamakan seperti rumah kosong. Begitu juga rumah yang tidak dibacakan Al-Quran , maka akan diliputi oleh ke sempitan dan ketidakberkahan.

Lihat Juga :  Ramadhan Sebagai Momentum Melatih Sifat Tasamuh

Jika kita tidak mau seperti rumah yang kosong itu hendaklah mengambil pela jaran dari sabda Rasulullah berikut :

“Sesungguhnya seorang yang tidak ada sedikitpun Al-Quran dalam hatinya ada lah seperti rumah kosong”. (HR At-Tirmidzi)

5. Memperkuat ukhuwah sesama muslim

Mereka yang melakukan tadarus Al-Quran baik di masjid, mushalla atau di rumah berarti telah menyambung silatu rahim sesama saudara muslim lainnya.

Dan juga tak kalah pentingnya, tadarus Al-Quran juga dapat menjauhkan kita da ri perkara ghibah dan semacamnya.

Saudara-saudaraku yang dicintai Allah SWT..

Mengakhiri tulisan ini, mari kita simak kisah inspiratif berikut ini…

la adalah seorang wanita yang tegar dan selalu berupaya untuk bertahan hidup. Namun, dengan Al-Quran yang disandingnya, membuat hatinya lebih luwes, tenteram, dan tertata.

Marjiya, begitulah nenek itu dipang gil. Sebuah nama pendek yang diberikan ibunya yang selalu berusaha untuk membangun kehidupannya.

Meskipun harus menembus gelap nya hujan, walaupun harus bangun setiap pagi buta untuk mempersi apkan bekal suaminya sebelum pergi turun ke sawah.

Marjiya melakukannya dengan penuh kesabaran, nrimo ing pandum.

la menerima bila suaminya tak membe rikan uang belanja dan bersama anak-anaknya di rumah harus berlauk lemba yung.

Kenyataan hidup tetap tak membuatnya surut dalam rutinitas Al-Quran. Justru pengalaman hidup itu menjadi motivasi terbesar dirinya untuk memperkuat semangat khatam Al-Quran.

Suatu waktu, ia berkata kepadaku,”Saya hanya berdoa kepada Allah SWT. Semo ga anak-anak saya menjadi anak shaleh atau shalehah dan mereka bisa ngaji Al-Quran,” tutur Ngadijo, tetangga dekat Marjiya.

Betapa tidak, setiap jam 2 malam, di saat orang lain terlelap dalam tidur mereka, ia bangun dan mengaji Al-Quran.

Bila di tengah malam itu ada orang yang lewat di belakang rumahnya, pastilah orang itu akan mendengar lantunan ayat suci Al-Quran.

Meskipun sakit merambat tubuh nya, jika masih bisa dipaksakan, ia tidak akan meninggalkan ibadah rutinnya ini.

Kamis malam. Sehabis Maghrib, sang nenek berbaring dalam derita penyakitnya yang telah diidapnya selama dua tahun terakhir.

la tak dapat berbicara normal.

Kebetulan malam itu adalah malam lebaran, yakni tanggai 1 Syawwal. Anak perempuannya mengham pirinya setelah buka puasa terakhir.

Lihat Juga :  Muliakanlah Orangtuamu Maka Engkau akan Dimuliakan Allah SWT

Sang anak melihat ibu tercinta ke susahan bernapas. Kemudian, anak perempuannya meminta cucu Marji ya untuk memberi tahu ayahnya yang sedang shalat Maghrib di mushala.

Begitu diberi tahu, sang menantu segera datang. Sang menantu me nengarai mertuanya mengalami sakaratul maut.

Kemudian ia membersihkan mulut dan wajah Marjiya dengan kain.

la meminta membimbing kalimat thayyibah dan alhamdulillah sang nenek, meskipun tidak bisa ngo mong, bisa mengucapkannya de ngan baik.

Tak lama kemudian, azan Isya ber kumandang. Anak perempuan, me nantu, cucu, dan orang-orang yang ada di dekatnya melihat kain sor ban berwarna putih dan seberkas cahaya berkelebat bagai kilat di depan muka Marjiya.

Ditambah bau wangi yang menyo dok hidung mereka. Lalu keringat terurai di keningnya, pertanda Marji ya sudah pergi ke haribaan Allah SWT.

Keesokan harinya, Marjiya dikebumikan. Semua orang yang ada di lingkungan sekitarnya sedih, anak perempuan, menantu, cucu, dan sanak familinya.

la dikebumikan di samping pesarean suaminya. Setelah semua usai, berkembang kisah tentang kebaikannya semasa hidup.

Dan yang membuat semua keluar ga dan tetangga kaget ketika terde ngar suara ngaji Al-Quran dari da lam kuburan Marjiya.

Orang-orang di kampung itu penasa ran.

Menurut putrinya, suara itu memang suara ibunya. Tapi, ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi.

Ya, tentu saja tak lain dan tak bu kan karena Marjiwa istiqamah membaca ayat suci Al-Quran.

Malam berikutnya, cucu perem puannya bermimpi sang nenek. la melihat seolah-olah sang nenek berada di tempat yang tinggi dan bercahaya.

la sedang duduk di sebuah kursi yang bagus, berhiaskan kuning emas dan di tangannya memegang Al-Quran.

Sang nenek itu berkata kepada cucunya, “Ternyata memang benar perintah guruku, A-Quran telah menolongku.”

Setelah mendengar ucapan itu, tiba-tiba cucunya terperanjat dan terbangun dari tidurnya. Karena merasa takut, ia membangunkan ibunya dan bercerita jika neneknya berada di tempat yang nyaman.

Wallahu a’lam bishshawab.

___________

Sumber literasi:

1. Portal bandung timur. pikiran-rakyat. com
2. Sindonews. com
3. Islampos. com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button