Cerita Ustadz, Ketika Seorang Teman Buka Usaha…
AsSAJIDIN.COM — Seorang ustadz bercerita, tahun 2008, dia mengikuti seminar bisnis Tung Desem Waringin di sebuah hotel, di Jakarta. Pesertanya tidak kurang dari 7000 orang.
Ustadz ini hadir tidak semata-mata karena ilmunya, tetapi karena rasa penasaran, apa betul orang Cina ukhuwahnya lebih kuat dari umat Islam.
Ternyata hampir 75% peserta seminar Tung adalah orang-orang Cina. Tua, muda, dan bahkan anak-anaknya diikutsertakan.
Selesai acara, semua produk-produk yang ditawarkan laku keras, mulai dari buku, baju, kaos, cenderamata, dll. 10.000 buku ludes terjual.
Sepulang dari training, ustadz tersebut berkesimpulan bahwa mereka sudah khatam QS. 3:103, yang artinya
Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
Juga paham QS. 49:10 dan 13
Terjemahannya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10)
Lalu QS. 5:2,
Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.
Kemudian QS. 8:72.
terjemahannya Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Mereka lebih memahami ayat-ayat tersebut daripada kita. Mereka telah berhasil membangun pasar anshar. Mereka lebih memahami makna ukhuwah dalam tatanan sosial.
Saya sendiri mengamati, ketika ada teman saya orang Cina membuka restoran, tanpa perlu diundang, cukup diberi tahu, hampir seluruh anggota keluarga dan teman-teman akan datang di pembukaan resto dan seterusnya. Sehingga restoran nampak ramai terus dan mengundang kepenasaran orang lain. Tidak ada di antara mereka yang meminta gratisan. Semuanya bayar.
Ini berbeda dengan kita. Ketika ada saudara/teman baru buka usaha, maka dengan dalih kan masih promosi, minta sample, minta contoh, minta gratisan, kalau tidak ya minta diskon.
Janganlah meminta gratisan, kecuali jika saudara/teman kita pengusaha ini tanpa kita meminta, beliau memberikannya sebagai hadiah buat kita.
Jika baru mulai usaha saja sudah terbebani permintaan gratisan, maka usaha saudara/teman kita ini, tak lama kemudian bangkrut karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi keinginan saudara dan teman-temannya sendiri.
Maka tidak aneh kan kalau berkembang pemikiran, kalau mau bisnis jangan sama saudara atau teman. Mungkin ini pula yangmenjadi penyebab UKM-UKM kita sulit berkembang.
Jika ada saudara/teman buka usaha, kalau kita tidak bisa membantunya dengan memberi modal, minimal jangan bebani mereka dengan meminta gratisan atau diskon.
Kalau bisa, saat membeli, lebihkan kembaliannya untuk menambah keuntungan/modal mereka.
Kalau ada saudara kita jualan suatu barang yang kita butuhkan, belilah dari saudara kita, biarpun sedikit lebih mahal dari yang ditawarkan para pengusaha besar. Bisnis itu tidak sekedar uang, tetapi juga tentang persaudaraan.(*/sumber: Copas AYP/FB)
