Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

PENDIDIKAN

Fenomena Menyekolahkan Anak di Sekolah Non Muslim

Ini Pandangan Beberapa Sudut Pandang dan Dampaknya Bagi Tumbuh Kembang Anak Dikemudian Hari

AsSajidin.com, Palembang –Tumbuh dan berkembangnya sekolah-sekolah berbasis agama Islam tak menjamin sekolah ini diminati banyak orang. Bahkan tak jarang pula, masih banyak orang-orang tua muslim justru memilih sekolah non muslim untuk putera-putrinya dalam menimbah ilmu pendidikan dengan pelbagai alasan, mulai dari jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal dan transportasi yang tidak dapat dijangkau. Bahkan mahalnya biaya pendidikan seperti Madrasah,  Pondok Pesantren ataupun Sekolah Islam Terpadu (SIT).

Menelisik fenomena ini,  AsSajidin mencoba memberikan pemahaman atas pandangan yang keliru tersebut. Berikut petikan reportase selengkapnya.

Menurut,  Demisioner ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Palembang, Yusuf Wicaksono, mengenai alasan para orang tua memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah non muslim dapat dilihat dari beberapa sudut pandang :

“Kondisi itu sangat penting dan harus terukur, jadi saya sepakat ketika orang tua itu menyekolahkan anaknya yang muslim ke non muslim apabila jarak, biaya dan akses transportasi itu lebih dekat dan mengharuskan beliau di sana. Namun dengan catatan bahwa, memang akidah dan kekuatan iman itu sudah harus kuat mengingat karena ketika sudah di sekolahkan seperti itu kita akan memilih belajar yang umum.

Lihat Juga :  Terdampak Covid-19, Mahasiswa UIN Bisa Ajukan Keringanan UKT

” Saya kurang sepakat apabila kondisi biaya dan jarak itu menjadi ukuran,  mengingat biaya pendidikan non muslim pun tak jauh berbeda mahalnhya”, ujarnya.

Selain itu kata dia,  dipandang dari sisi lain,  pengetahuan para siswa akan bertambah karena lingkungan yang di bangun itu tidak semuanya islam mereka belajar tentang amalan ibadah non muslim. Tapi ingat, semua itu harus kembali lagi di dasari dengan keimanan karena minoritas nya kita di sana untuk membuat pengaruh yang besar bukan mayoritas mempengaruhi kita yang minoritas sehingga keimanan kita terbangkalai, maka dampak yang di alami ketika dia menjaga keimanan maka dia akan mempengaruhi teman-temannya yang ada disana.

Disinggung mengenai dampak pelajar muslim yang melanjutkan pendidikannya di sekolah non muslim. Muhammad Faadhil Az-Zahraan yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang juga turut menyampaikan pendapatnya bahwa, tidak masalah jika pelajar muslim bersekolah di sekolah non muslim, namun ada syarat-syaratnya.

“Saya punya teman yang mengajar agama di sekolah non muslim, namun mereka belajar agama di sekolah non muslim bukan disebut belajar agama, apalagi yang siswa-siswinya itu beragam agama. Biasanya bukan disebut pelajaran agama melainkan pelajaran religius yang mengajarkan bahwasannya agama-agama samawi, agama-agama di dunia ini adalah agama yang baik, tidak mengajarkan keburukan.

Lihat Juga :  Jelang KBM Tatap Muka, Sekolah Mulai Edarkan Izin Orangtua, Hasilnya Cukup Mengejutkan

” Jadi tidak masalah selagi ada batasan terkait agama dan memang ada uzur yang menyebakan orangtua menyekolahkan anaknya disana” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa seorang anak yang disekolah di sekolah non muslim memiliki dampak, karena di sekolah non muslim itu tidak terfokus mengajarkan satu agama saja, jadi pemahaman tentang agamanya kurang dan pengetahuan tentang agamanya juga minim karena di sekolahnya tidak diajarkan secara mendalam mengenai agama yang dianut.

“Kalau saran Saya sih. yang pertama jika memang mendapatkan pendidikan agama dari lembaga khusus atau dari rumah, maka tidak masalah anak tersebut di sekolahkan di internasional maupun di sekolah umum, tapi jika minimnya pendidikan agama, baik di lembaga khusus TPA maupun di pondok pesantren lebih minim dan di rumah juga minim maka saya menyarankan sekolah di sekolah yang berbasis imtaq atau madrasah dan sekolah keagamaan”. Bebernya.

Reporter : (Suci Widyastiani Puteri Sifa, Ria Ratu Liu, Candra Saputra)

Editor : Jemmy Saputera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button