Kemenag Diminta Kawal Pencegahan Stunting Dimulai dari Pranikah Lewat Aplikasi Elsimil

AsSAJIDIN.COM — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan berbagai upaya untuk menekan Angka Stunting di Provinsi Sumsel yang cukup tinggi. Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel, Medi Heryanto saat diwawancarai seusai Rapat Telaah Program Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana serta Penurunan Angka Stunting Tingkat Provinsi Sumsel di Hotel Aston, Rabu (2/11/2022), Rabu (02/11/2022)
Medi mengatakan, angka stunting di Provinsi Sumsel saat ini mencapai 24,8 persen, untuk itulah pihaknya melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting yang cukup tinggi tersebut. “Ya, kita melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting di Provinsi Sumsel,” katanya
Lanjutnya, adapun berbagai upaya yang dilakukan pihaknya yaitu seperti pencegahan, pemutahiran data untuk mencari apa faktor penyebab stunting dan lain-lain. Bahkan dalam rangka penurunan stunting juga diedukasi tentang Stunting. Bekerjasama dengan dinas kesehatan atau Kementerian Agama. “Jadi calon pengantin registrasi mengisi data di aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil). Kalau sudah diisi Elsimil maka akan diketahui kondisi calon pengantin seperti apa analisanya,” ujar Medi
Medi menjelaskan, kalau hasilnya ada risiko stunting maka dicari tahu apa permasalahannya. Jadi bisa dibilang sebagai skrining awal. Kemudian setelah dapat kartu, periksa kondisi kesehatan di faskes untuk mengetahui kondisi yang digambarkan pada data yang diisi. “Kalau yang berisiko stunting nikah boleh tapi tunda dulu hamil. Bukan nikahnya yang dilarang, nikahnya boleh hanya hamilnya yang ditunda sampai permasalahan stuntingnya bisa diatasi,” jelasnya
Lebih lanjut diungkapkannya, stunting itu persoalan yang luar biasa yang harus ditangani. Karena dengan stunting itu jadi faktor penghambat dalam mewujudkan SDM yang berkualitas. “Maka kita harus serius dalam upaya penanganan stunting. Stunting ini bukan hanya tanggungjawab BKKBN, bukan gubernur tapi tanggungjawab semua. Progam gotong royong dari pemerintah, non pemerintah hingga individu. Harapannya semua berpartisipasi dalam percepatan penurunan stunting,” ungkap Medi
Medi menambahkan, memang tidak mudah, maka upaya yang dilakukan menyiapkan data keluarga yang berisiko stunting. Bukan yang menangani stunting tapi lebih ke keluarga berisiko stunting mulai dari calon pengantin, ibu hamil dan anak-anak. Misal Lubuklinggau di dinas kesehatan menyiapkan anggaran untuk asupan gizi baik ibu hamil, calon pengantin maupun anak balita.
Mereka siapkan catering setiap hari yang diantar dari rumah ke rumah. Tidak dikasih sekali tapi sampai tiga bulan dan dilakukan pemantauan serta dievaluasi ada tidak perbaikannya. “Untuk menentukan apa yang dilakukan harus diketahui faktor penyebab risiko stunting dan itu sudah dilakukan. Faktor penyebabnya ini bervariasi misal di Muara Enim, dan Lahat itu di kawasan terdekat dengan tambang batubara. Faktor nya penyakit bawaan, seperti ISPA dan paru-paru. Untuk itu akan dilakukan intervensi oleh pemerintah karena faktor itu baru ditemukan. Untuk stunting ini targetnya di 2024 bisa turun jadi 16 persen atau kalau bisa 14 persen seperti target nasional,” katanya (MN)
