Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

INTERNASIONAL

Menasehati  Diri Sendiri dan Rasa Malu yang Hilang

Oleh : Jemmy Saputera

AsSajidin.com Palembang– Dulu ketika bermain, para anak gadis di zaman itu menolak untuk disentuh oleh laki-laki karena memiliki rasa malu. Begitu juga sebaliknya, banyak anak lelaki yang tidak mau duduk satu meja dibangku sekolah karena ada rasa malu walaupun terkadang itu merupakan salah seorang kerabat dekat. Lalu pertanyaanya adalah, kemana rasa malu itu kini..?

Sejarah mencatat bahwa 21 tahun yang lalu, miliaran orang di seluruh dunia menyambut periode Milnium Baru yang penuh dengan gaya dan peradaban yang baru pula. Disadari atau tidak, perkebangan zaman di awal milenium tersebut telah menggusur nilai-nilai ketimuran mengenai sikap santun, rasa malu, ramah tamah, saling menghargai, menghormati, rukun, dan memegang teguh prinsip kebaikan.

Ustadz Abdul Somad (UAS), dalam tausiyahnya di chanel abdulsomad official mengatakan, jika rasa malu telah hilang dari diri seseorang, itu adalah pertanda bahwa Allah telah mencabut rasa malu dalam hatinya.

Ini juga merupakan pertanda yang akan mendorongnya melakukan sekehendak hati tanpa mempertimbangkan kembali baik dan buruknya sebuah keputusan. Oleh karena itu, sebaik-baik seorang Muslim adalah mereka yang sangat memelihara rasa malu dan tidak mempermalukan orang lain maupun dirinya sendiri,” ungkap UAS

Lihat Juga :  KBRI Tunisia Ucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan

Satu sisi yang lain, kata UAS kita selalu disuguhi dengan tayangan kurang pantas yang di pertontonkan beberapa orang yang dengan bangganya melakukan dosa.Mereka ini adalah orang yang dicabut nikmatnya rasa malu dalam hidupnya.

“ Tahu itu, yang pakai rompi orange, kok ketawa ketiwi, melambaikan tangan seolah tak bersalah. Ada juga orang yang melakukan asusila dengan bangganya dan terang-terangan mengakuinya tanpa rasa menyesal. Itu kan artinya hilang rasa malunya,”tutur UAS sembari menjelaskan malu yang Ia maksud adalah untuk menjadi tameng bagi munculnya perilaku yang tak pantas di kehidupannya.

” Contoh, malu ketika melakukan tak jujur, malu tatkala duduk berduan dengan yang bukan muhrimnya. Bahkan malu ketika bicara menyinggung perasaan orang lain,” tambahnya.

Untuk diketahui bersama, Islam selalu mengajarkan kepada sikap untuk saling mengingatkan. Baik dalam perkara yang baik maupun yang buruk. Demikian pula yang di contohkan  Rasulullah SAW kepada pengikutnya untuk tidak mempermalukan orang lain, meskipun dengan niat untuk menasehati. Dalam kata yang lain, berikanlah nasehat dengan rahasia jangan di hadapan banyak orang dengan tujuan tidak membuat orang lain menjadi malu. Oleh Karena itu, nasehat harus disampaikan secara rahasia kepada seseorang yang membutuhkan perbaikan atas kesalahannya.

Lihat Juga :  Sempurnakan Ikhtiar, Jangan Biasakan Meminta-minta

Al Hafizh Ibnu Raja berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” ( Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam , halaman 77)

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan, “Jika Anda hendak memberi nasehat yang akan disampaikan oleh peneliti bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Kecuali jika bahasa sindiran tidak dapat dijangkau oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” ( Al Akhlaq wa As Siyar , halaman 44)

Menurut Mahmud al-Mishri dalam Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW, rasa malu itu ada dua, yaitu yang merupakan bawaan dan yang lahir karena diupayakan melalui latihan dan keras. Melihat ini pantaslah jika Rasulullah SAW menegasakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim “rasa malu tidak akan datang kecuali pasti membawakan kabaikan,”.

Back to top button