Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

KALAMSYARIAH

Asbabun Nuzul Surat Al-Kautsar

ASSAJIDIN.COM — Menurut Ibnu ‘Abbas – surat al-Kautsar turun tak lama setelah al-‘Ash bin Wa’il – seorang yang getol menentang dakwah Islam dan merupakan saudara ipar Abu Jahal – berpapasan dengan nabi Muhammad SAW di sebuah pintu masjid.

Dalam kesempatan itu, keduanya sempat berbicara sejenak dengan berkaitan beberapa hal dan tidak ada masalah yang terjadi.

Namun ketika keduanya berpisah, tepatnya ketika al-Ash masuk ke dalam masjid, ia ditanya oleh beberapa orang dengan ‘nada mengejek’ tentang siapa orang yang telah dia ajak bicara sebelumnya.

Al-‘Ash bin Wa’il menjawab dengan pongah bahwa lawan bicaranya adalah “orang yang terputus (Al-Abtar) itu.” Sebutan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Melansir Tafsiralquran id, Al-Abtar merupakan suatu istilah yang diucapkan kaum Quraisy Mekah pada waktu itu, untuk mengartikan seseorang yang tidak memiliki anak laki-laki.

Berkenaan hal tersebut, memang Rasulullah SAW baru saja kehilangan putranya yang bernama Abdullah atau Al-Qasim di riwayat lain.

Dengan kewafatan putra nabi Muhammad saw ini, maka beliau disebut-sebut sebagai Al-Abtar, yakni orang yang terputus keturunannya.

Dalam konteks masyarakat Arab pra-Islam, memiliki anak laki-laki adalah simbol kebaikan, kehormatan dan kemuliaan. Karena dengan memiliki anak laki-laki (putra) – bagi mereka – berarti melestarikan garis keturunan (nasab) sang ayah.

Lihat Juga :  Membunuh Salah Satu Dosa Besar, Ini Penjelasan dalam Alquran dan Hadist

Sebaliknya, anak perempuan adalah lambang kelemahan, keterbelakangan dam beban masyarakat. Maka tak heran, dikisahkan banyak anak perempuan yang dikubur hidup-hidup karena malu ataupun takut kemiskinan.

Sementara Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911) dalam kitabnya Lubabul Nuqul fii Asbabul Nuzul menjelaskan tentang salah satu riwayat penyebab turunnya surat al-Kaustar berkenaan dengan Ka’ab bin Asyraf (tokoh Yahudi Madinah).

Ketika datang ke Mekah, dia bertemu dengan para pemuka Quraisy yang saat itu sedang berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan Nabi Muhammad SAW.

Para pemuka Quraisy itu bertanya kepada Ka’ab bin Asyraf – dengan tujuan mendiskreditkan Nabi SAW:

“Bagaimana pendapatmu mengenai orang itu yang berpura-pura sabar lalu ia diasingkan oleh kaumnya (yang dimaksud ialah Nabi Muhammad SAW).

Apakah dia lebih baik dari kami sedangkan kami adalah orang-orang yang menjamu orang yang beribadah haji, dan memberi minum mereka yang berhaji, serta kami adalah penjaga Ka’bah?”

Lihat Juga :  Pamer Foto Pre Wedding di Kartu Undangan, Apa Hukumnya

Ka’ab bin Asyraf berkata: “Kalian lebih baik dari dia (Nabi Muhammad SAW.).” Ia beranggapan bahwa para pemuka kaum Quraisy – kala itu – lebih baik daripada Muhammad SAW.

Lalu Allah SWT menurunkan surah Al-Kautsar sebagai bantahan atas anggapan Ka’ab bin Asyraf itu. Allah SWT menegaskan bahwa Dia telah menganugerahkan Muhammad SAW dengan kebaikan yang banyak dan menjadikannya sebagai makhluk ciptaan-Nya yang terbaik.

Firman Allah SAW :

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ ٣

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. al-Kautsar [108]: 1-3).

Terlepas dari riwayat mana yang paling tepat tentang asbabun nuzul surat al-Kautsar, dari kisah-kisah tersebut kita dapat melihat fenomena umum yang terjadi saat itu, yakni penghinaan dan olok-olok terhadap Nabi SAW dari kaum Quraisy.

Kewafatan putra Nabi Muhammad SAW mereka jadikan sebagai bahan untuk menghina beliau, begitu pula soal keterusirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button