MAKANAN YANG DIMAKAN AKAN MEMBENTUK PERILAKU

Oleh Zakiudin, Guru KEPALA SEKOLAH SD SIT ALFURQON PALEMBANG
AsSAJIDIN.COM — Kaum muslimin, pembaca yang budiman Rahimakumullah. Ramadhan merupakan bulan ampunan dari Allah SWT. Ramadhan juga bulan tarbiyah jismiyah dan rohaniyah yang akan menghantarkan kita kepada derajat taqwa.
Menjelang berbuka godaan hawa nafsu kita semakin besar, beraneka ragam makanan disajikan seakan-akan mampu kita habiskan dalam satu kali hidangan.
Perlu kita cermati, tentu setiap sore menjelang berbuka beraneka ragam makanan yang dipasarkan yang dapat menggiurkan tenggorokan kita, Sehingga tanpa kita sadari kita mempeturutkan hawa nafsu tersebut dengan membeli semua jenis makan yang dijajakan. Setelah berbuka dengan tiga butir kurma dan secangkir air putih atau teh maka hilanglah segala dahaga dan rasa lapar kita. Ujung-ujungnya makanan yang sudah dibeli malah tidak tersentuh atau dimakan sama sekali.
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Al A’raf ayat 31, yang artinya:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Islam dengan kesempurnaannya mengajarkan kepada kita standarisasinya dalam adab dan tatacara makan serta makanan apasaja yang dapat kita makan. Sehingga makanan tersebut kelak menjadi darah kemudian darah itu mengalir keseluruh tubuh kita dan teraplikasikan menjadi prilaku kita sehari hari Mengapa Islam begitu protektif terhadap makanan ini? Jawabannya karena setiap apa yang masuk ke dalam perut kita dan terolah menjadi darah atau daging maka akan sangat mempengaruhi perilaku kita.
Bahkan akibat dari makanan yang kita makan bisa menyebabkan diterima atau tidaknya amalan kita di hadapan Allah SWT.
Di kalangan awam atau masyarakat luas sering kali menjadi perbincangan atau sering menjadi bahan candaan. Jangankan yang halal yang haram saja sulit! Atau padahal suka shalat tapi masih suka korupsi, sudah berpuasa tapi masih suka mencuri! Naudzubillah Jika ada pertanyaan atau candaan seperti itu maka jawabannya yang salah bukan pada shalat atau puasanya melainkan kesalahan itu ada pada dirinya, bisa jadi makanan yang selama ini yang masuk ke dalam perutnya bukanlah makanan yang sesuai standar syariat Islam.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dari ayat tersebut sangatlah jelaslah bahwa shalat itu mencegah perbuatanperbuatan keji dan munkar. Lalu pertanyaannya mengapa orang yang sudah shalat tapi masih bermaksiat? Kemudian jika perilaku itu di tentukan dari apa yang telah masuk ke dalam perutnya, maka makanan seperti apa yang sesuai dengan syariat Islam?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Rasulullah SAW pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Attabrani bahwa Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi Muhammad SAW ‘Yaa Rasululllah, doakanlah aku agar menjadi orang yang doa-doanya dikabulkan Allah SWT” Apa jawaban Rasulullah SAW “ Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (Makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya.
Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh jika seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR At Tabrani)
Sebagaimana kisah mahsyur tentang sahabat yang bernama Ibrahim bin Adham dan sebutir kurma yang membuat doanya tertolak. Pada suatu hari Ibrahim bin Adham berniat melakukan ziarah ke masjidil Aqsa. Untuk perbekalan selama perjalanan ia membeli kurma di pelataran masjidil Haram. Kemudian kurma tersebut ditimbanglah, kemudian Ibrahim bin Adham melihat sebutir kurma yang jatuh di bawah meja penjual kurma tersebut.
Ibrahim bin Adham mengira kalau kurma sebut itu bagian dari kurma yang sudah ia beli tadi kemudian dia memakannya. Setelah empat bulan perjalanan tibalah ia di masjidil Aqsa. Kemudia dimelakukan ibadah dan berdoa dengan sangat khusu’ kepada Allah SWT.
Di tengah-tengah doanya Ibrahim bin Adham mendengar percakapan “Itu Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara’. Doa-doanya senantiasa dikabulkan Allah tapi sekarang tidak lagi, karena empat bulan yang lalu dia pernah memakan sebutir kurma yang bukan haknya.”
Mendengar itu Ibrahim bin Adham menangis dan beristighfar kepada Allah SWT, artinya sudah selama empat bulan ibadah dan doa-doanya di tolak oleh Allah SWT. Kemudian Ibrahim bin Adham segera kembali ke Makkah namun sayang penjual kurma yang sudah tersebut ternyata sudah meninggal dunia yang ada hanya seorang pemuda yang sedang menjual kurma. Lalu Ibrahim bin Adham bertanya tentang lelaki tua penjual kurma. Demi mendapatkan kehalalan terhadap sebutir kurma tersebut Ibrahim bin Adham harus menemui 11 ahli waris penjual kurma yang telah meninggal dunia tersebut walaupun menempuh tempat sangat jauh dan berbeda-beda.
Selain itu Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 168 yang berbunyi :
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Pada ayat di atas, ada dua standar makanan yang layak dimakan sesuai dengan syariat Islam.
Yang pertama makan yang dikonsumsi umat Islam haruslah makanan yang halal. Baik halal secara zatnya ataupun halal secara didapatkannya. Misalnya air dogan yang kita minum halal secara zatnya namun jika diperoleh dengan cara mencuri dan sebagainya maka menjadi haram untuk dikonsumsi.
Atau misalnya makanan pindang komering halal secara zatnya namun uang yang digunakan untuk membelinya adalah uang hasil korupsi/mencuri maka pindang tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi. Apalagi kalau makanan itu secara zat adalah barang-barang yang haram, maka hukumnya haram dikonsumsi. Yang Kedua Standar makanan di dalam Islam adalah yang Thoyyiban.
Selain halal makanan juga harus thayyib (baik). Artinya makanan tersebut memberikan dampak yang positif bagi tubuh kita, bukan makanan yang akan mendatangkan penyakit sehingga dapat menghalangi aktivitas ibadah kita kepada Allah SWT.
Yang ketiga jika makanan tersebut tidak halal dan baik, itu merupakan langkahlangkah syaiton yang harus kita jauhi. Jika kita terjerumus ke dalamnya maka prilaku kita akan menjadi prilaku syaiton yang enggan melakukan kebaikan malah menimbulkan medhorotan dan kerusakan di atas bumi ini. Allahu a’la. (*)
