Astaghfirullah..Sebar Aib atau Keburukan Ranjang Suami Istri Termasuk Orang yang Paling Buruk di Sisi Allah pada Hari Kiamat
AsSAJIDIN.COM – Sebagai manusia ciptaan Allah Subhanawata’alla haruslah menjaga sebaik mungkin anggota tubuh dan juga lisan saat berbicara kepada orang lain. Namun, tidak kita sadari, Lisan bisa membawa kita kepada kebaikan yang memberikan pahala ataupun keburukan yang mengakibatkan dosa besar.
Di dalam rumah tangga, terdapat kerahasiaan antara suami dan istri. Salah satunya tidak menyebarkan aib istri atau suami kepada orang lain.
Setiap suami maupun istri dilarang menyebarkan rahasia rumah tangga dan rahasia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami istri adalah orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah seseorang suami yang berhubungan badan dengan istrinya kemudian setelah berhubungan badan dengan istrinya ia sebarkan masalah tersebut dan dia sebarkan aib yang ada pada istrinya. Dan ini adalah khianat termasuk khianat paling besar,”
Terkadang tidak kita sadari bahwa Menyebarkan keburukan ranjang suami istri menjadi masalah keburukan ditengah Masyarakat.
“Misalnya si istri mengatakan kepada teman-temannya bahwa si suami lemah atau si suami mengatakan bahwa si istri tidak memuaskan dan lainnya. Ini adalah kata Nabi shallallahu alaihi wassallam termasuk orang yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat,” kata Ustadz Nurfitri Hadi, MA dalam ceramah agama di Masjid Ar Rozzaq Palembang.
Hal tersebut kata Nabi “Haaza a’zhomu khianatal amanah” inilah bentuk khianat terhadap amanah dan merupakan bentuk khianat paling besar. Oleh karena itu kita tentunya harus berhati-hati dalam permasalahan ini, jangan sampai kita termasuk orang yang melakukan pengkhianatan yang besar.
Sebagai umat islam, Wajib dari kita menjaga lisan, Imam An Nawawi mengatakan ketahuilah bahwasanya seharusnya bagi seorang yang mukhalaf untuk menjaga lisannya dari semua ucapan. Kecuali ucapan yang itu memang menunjukkan benar benar maslahat. Kalau antara mashlahat dan mudhoradnya sama maka dianjurkan untuk diam, ucapan yang mubah bisa menyeret seseorang kepada ucapan yang haram atau makruh. Dan ini banyak terjadi.
“Keselamatan meninggalkan semua hal itu tidak ada yang dapat menyainginya. Nabi Muhammad mengatakan bentuk kebaikan dan kualitas islamnya seseorang yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya atau meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya,” katanya.(*/tri jumartini)
