Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

HAJI & UMROH

Dua Hikmah Ibadah Haji yang Tertunda

ASSAJIDIN.COM — Musim haji saat ini tengah berlangsung di Tanah Suci. Qodarullah, tahun ini menjadi tahun kedua, pelaksanaan ibadah haji yang terbatas. Pemerintah Arab Saudi hanya mengizinkan 60 ribu jemaah dari dalam negeri Arab Saudi dan kompatriot yang diperbolehkan melaksanakan haji. Indonesia sendiri terdapa 2.400 orang WNI yang beribadah tahun ini.

Padahal saat normal, jemaah haji setidaknya bisa diikuti 3,5 juta orang dari penjuru dunia. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari musim haji yang berbeda karena pandemi global covid-19. Pertama, hikmah ibadah haji yang tertunda tahun ini tidak serta merta menurunkan semangat spiritual kita sebagai umat Islam.

Kita harus meyakini bahwa selalu ada hikmah besar yang terkandung dari setiap ketetapan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Hikmah besar yang bisa diambil dari keputusan ini di antaranya adalah kesabaran dan kepasrahan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Qur’an Surat Al-Anfal ayat 46: وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Kesabaran sendiri adalah sikap yang paling dibutuhkan dalam menjalankan ibadah haji.

Dalam ibadah haji, kesabaran juga bisa menjadi ukuran mabrur atau tidaknya haji yang dilaksanakan. Hampir seluruh rangkaian ibadah haji membutuhkan kesabaran mulai dari pendaftaran sampai dengan pelaksanaan dan kembali ke Tanah Air.

Lihat Juga :  450 Jemaah Kloter 4 Asal Babel Terbang Menuju Madinah

Tanpa kesabaran, jamaah haji tidak akan mungkin mampu melewati rangkaian ibadah yang memerlukan kekuatan mental dan fisik seperti tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, dan melempar jumrah. Ini memberikan hikmah kepada calon jamaah haji yang ditunda keberangkatannya, untuk semakin melatih kesabaran sebelum waktunya berangkat nanti.

Insyaallah kesabaran dalam menerima penundaan ini nantinya akan menjadi wasilah kemabruran haji kelak. Hikmah kedua adalah kepasrahan atau tawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala.

Terkait dengan hal ini Allah subhanahu wata’ala pun telah memberikan panduan, jika kita memiliki tekad bulat dalam melaksanakan sesuatu, maka kita harus pasrah diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini termaktub dalam QS Ali Imran ayat 159: فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” Dengan ditundanya haji tahun ini, para calon jamaah haji harus yakin dan pasrah pada Allah karena ini juga merupakan ketetapan Allah.

Haji sendiri adalah ibadah yang harus diawali dengan kepasrahan karena harus pergi jauh meninggalkan orang-orang yang dicintai dan harus berjuang menyelesaikan rangkaian kewajiban dan rukun haji. Kain ihram warna putih yang dipakai jamaah pun sudah menandai bahwa para jamaah Haji pasrah atas takdir Allah seperti mayit yang terbungkus kain kafan.

Lihat Juga :  Jemaah Haji Gelombang Kedua Diimbau Kenakan Kain Ihram Sejak di Tanah Air, Ini Alasaanya...!

Dengan kepasrahan ini tentunya akan menjadikan para calon jamaah haji lebih tenang dalam beribadah. Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Ibadah kedua yang kita lakukan di tengah pandemi adalah ibadah kurban.

Manusia tidak perlu khawatir karena nikmat Allah subhanahu wata’ala sangatlah banyak. Saking banyaknya nikmat Allah, kita tidak akan bisa menghitungnya.

Hikmah berkurbanAberkurban, meski sudahssudah berlaluwberlalu, tapi berkurban tetap harus dilakukan. Allah berfirman: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS: An-Nahl : 18)

Dengan pengorbanan harta melalui hewan kurban ini, kita juga akan mampu semakin dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Hal ini selaras dengan makna kurban itu sendiri yakni berasal dari bahasa Arab qariba-yaqrabu -qurban wa qurbanan wa qirbanan,yang artinya dekat.

Sehingga kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.

Kesimpulan, adahada dua hikmah besar pertama hikmah vertikal yakni semakin dekatnya kita kepada Allah subhanahu wata’ala, dan hikmah horizontal yakni kedekatan dengan sesama manusia dengan saling berbagi rezeki di tengah situasi sulit akibat pandemi ini. Wallahu a’lam. (*/Sumber: nu.or.id)

Back to top button