LENTERA
Lima Langkah-langkah Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
AsSAJIDIN.COM — Banyak cara untuk menjadi orang yang bermanfaat. Tetapi kali ini penulis sajikan lima langkah (praktis) untuk menjadi orang yang bermanfaat.
Langkah Pertama: Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat Adalah Kemauan
Kuncinya adalah kemauan. Kemauan kita akan dapat memberikan manfaat kepada orang lain. (1) Jika kita memunyai harta, kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan harta. (2) Jika kita memunyai ilmu, kita bisa memberikan manfaat ilmu kepada orang lain. (3) Jika kita memunyai tenaga, kita bisa memberikan manfaat dari tenaga kita kepada orang lain.
Ini adalah langkah awal. Anda harus memiliki kemauan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bagaimana pun kondisi Anda. Jangan malah mencari-cari cara untuk mendapatkan manfaat dari orang lain, bahkan memanfaatkan orang lain.
Jika Anda mau, bagaimana pun kondisi Anda, Anda bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Bagaimana? Mau atau tidak? Jadi kata kuncinya adalah: “kemauan”.
Langkah Kedua: Take Action Now (Lakukan Sekarang)
Apa yang bisa Anda ‘lakukan sekarang’ untuk memberikan manfaat kepada orang lain? Anda bisa berbagi (melakukan sharing) artikel ini melalui facebook atau twitter Anda, misalnya. Ini jauh lebih memberikan manfaat kepada teman-teman Anda daripada Anda sibuk mengupdate status yang tidak penting, bahkan hanya berisi keluhan dan caci maki.
Lihatlah sekitar Anda, adakah yang bisa Anda bantu. Adakah yang bisa Anda lakukan untuk memerbaiki lingkungan, rumah, atau kantor Anda? Akan banyak yang bisa Anda lakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Langkah Ketiga: Biasakanlah Untuk Memberikan Manfaat. Dan Jadikan Hal Itu (Kegiatan Untuk Memberikan Manfaat) Menjadi Gaya Hidup Anda
Jika memberikan manfaat kepada orang sudah menjadi kebiasaan Anda, maka Anda sudah mulai menjadi pribadi yang bermanfaat. Pada langkah kedua, Anda baru disebutkan melakukan kebaikan (belum menjadi akhlaq), namun jika sudah menjadi kebiasaan dan menjadi gaya hidup Anda, maka Anda sudah mulai menjadi pribadi yang bermanfaat.
Ini yang kadang-kadang dilupakan orang. Banyak orang yang hanya membahas sampai pada taraf ‘melakukan kebaikan’ dengan cara membantu orang orang lain. Namun hal itu belum menjadi kepribadian, baru sebatas mau melakukan. Sebuah tindakan, akan menjadi sebuah akhlaq pada saat Anda sudah melakukannya dengan biasa, tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Ketika Anda memberi, belum tentu merupakan kepribadian Anda. Namun jika Anda sudah biasa memberi dan menjadi gaya hidup Anda, barulah disebut kepribadian (Anda).
Langkah Keempat: Tingkatkan Manfaat Diri Anda
Harus ditingkatkan? Tentu saja! Sebab menurut hadits di atas tidak hanya mengatakan menjadi pribadi yang bermanfaat, tetapi ada kata ‘superlatif’, yaitu paling. Artinya Anda ditantang untuk menjadi juara dalam kebaikan. Anda harus menjadi yang paling memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan sekadar memberikan manfaat.
Bagaimana cara meningkatkan manfaat diri Anda? Ya, Anda harus meningkatkan kuantitas dan kualitas kebaikan Anda. Kuantitas bisa dilihat dari frekuensi dan besarnya apa yang Anda berikan kepada orang lain. Sementara kualitas manfaat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas diri Anda, yaitu dengan meningkatkan keterampilan dan kemampuan Anda, sehingga apa yang Anda berikan semakin bermanfaat.
Langkah Kelima: Raihlah Manfaatnya Untuk Anda Juga
Jangan sampai ‘Anda’ memberikan manfaat kepada banyak orang, tetapi (lupa) ‘tidak’ memberikan manfaat untuk diri Anda sendiri. Jangan salah faham! Saya sama sekali tidak mengatakan agar kita berharap dari orang yang kita berikan manfaat. Bukan itu! Namun, yang saya maksud adalah: kita harus menghindari dari semua penghapus pahala amal itu, yaitu: “ketidak ikhlasan atau riyâ’.”
Jadi, agar kita benar-benar mendapatkan dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat.
Niatkan, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (pujian). Penyakit riyâ’ sungguh tidak terlihat, sangat samar, sehingga kita harus hati-hati.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ . فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ حَزْنٍ ، وَقَيْسُ بْنُ المُضَارِبِ فَقَالاَ : وَاللَّهِ لَتَخْرُجَنَّ مِمَّا خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ . فَقَالَ لَهُ : مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ ، وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : قُولُوا : اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ.
“Pada suatu hari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?” Maka beliau menjawab: “Berdoalah dengan membaca, ‘Allâhumma innâ na’ûdzu bika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limâ lâ na’lamuhu (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abu Musa al-Asy’ari, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz IV, hal. 403, hadits no. 19835)
Tetapi, jangan khawatir! Sekecil apa pun amal saleh kita, Allah akan membalasnya dengan pahala yang sepadan dengannya. Sebagaimana firmanNya:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya .” (QS al-Zalzalah/99: 7)
Itulah kelima langkah menjadi pribadi yang bermanfaat, bahkan ‘paling bermanfaat’.
Selanjutnya, yang kita perlukan adalah ‘kemauan dan keberanian untuk memulainya’, sekarang juga.
Ibda’ bi nafsik!
Wallâhu a’lamu bish-shawâb. (Dikutip, dengan berbagai penyelarasan, dari beberapa situs internet. Antara lain: http://almanhaj.or.id/; http://www.motivasi-islami.com/5-la…; https://muslimah.or.id)
