Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Masya Allah, Keterbatasan Fisik, Kaum Disabilitas ini Tetap Produktif

 

ASSAJIDIN.COM – Memiliki keterbatasan fisik tidak membuat kaum disabilitas di Kota Palembang ini menjadi bermalas-malas. Justru mereka terus beraktifitas membuat kerajinan tangan dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Mereka tergabung dalam Komunitas Kreatif Disabilitas (KKD). KKD sudah dua tahun terbentuk (2018), baru dilantik Dinas Koperasi dan UMKM tahun ini. KKD Sumsel beranggotakan sekitar 75 orang.

Komunitas disabilitas Sumatra Selatan (Sumsel) ini merupakan penyandang tuna rungu yang memiliki keahlian istimewa dan kreatifitas tinggi. Mereka mampu memproduksi hingga lima unit kreasi tas kain khas Sumsel per hari.

KKD Sumsel juga berhasil menciptakan karya unik dari Bumi Sriwijaya. Anggota KKD pun selalu semangat dalam mengaplikasikan skill jahit dan handycraft menjadi barang bermanfaat.

Ketua KKD Sumsel, Lega Raharja mengatakan, KKD ini merupakan gerakan amal dan gerakan kemanusiaan tapi untuk bidang usaha ekonomi.

“Sebenarnya mereka yang juga pelaku UKM disabilitas ini sudah punya industri kecil tapi tidak tercover. Ada yang buat masker, konektor, dan tas. Kami dari KKD Sumsel ini hanya mengarahkan mereka dan Alhamdulillah ada pendampingan dari Dinas Koperasi Sumsel,” katanya.

Lihat Juga :  Hal yang Harus Dilakukan jika Kerabat Terkonfirmasi Covid-19

Lega juga bertanggung jawab mengumpulkan anggota komunitas dan mencari SDM kreatif lain. Hal ini sebagai salah satu langkah agar para disabilitas ini bisa menemukan tempat untuk berkarya adalah dengan mengajak mereka tergabung dalam naungan Dinas Koperasi Sumsel.

“Kami mencari mereka yang berkebutuhan khusus ini dengan mendatangi rumah mereka. Kalau mereka masuk di formasi pegawai, pasti kalah dengan yang umum. Makanya mau tidak mau secara alami mereka harus mencari uang dengan cara mandiri dan kreatifitas mereka sendiri,” katanya.

Meski sejumlah anggota KKD penyandang tuna rungu, namun mereka juga bertanggung jawab terhadap penyandang status lainnya. “Selama membina anggota KKD, hal tersulit yakni komunikasi. Maka dari itu, teknik pembelajaran dengan sistem tertulis,” katanya.

Belum lama ini, KKD mendapatkan bantuan mesin jahit dari pemerintah. Pihaknya mengharapkan kedepan pangsa pasarnya bisa ke luar kota. “Harga tasnya kami jual Rp 350 ribu karena bahannya mahal. Kalau produknya banyak kami siap tembus pasar luar negeri,” katanya.

Lihat Juga :  Hati-Hati, Jangan Shalat Dhuha pada Waktu-waktu Ini

Bahkan para anggota KKD sebelum tergabung dalam komunitas telah mempunyai industri kecil di rumah dan sudah memasarkan produk dengan mandiri. Sementara itu, tas yang dibuat oleh anggota KKD Sumsel ini berbahan kain motif jumputan dan blongsong yang merupakan khas Palembang.

Kreasi tas karya KKD Sumsel memerlukan kebutuhan menjahit selain mesin jahit seperti kain blongket, M33, resleting, D300, tali kulit, palu, kepala resleting, alas getok, anvil dan pembolong.

Cindy, salah peserta pelatihan pembuatan tas yang juga penyandang tuna wicara yang digelar KKD Sumsel ini merasa sangat senang bisa mengikuti pelatihan pembuatan tas di Kriya Sriwijaya yang berada di Jalan Lorok Pakjo.

“Banyak manfaat yang saya dapat dari mengikuti pelatihan ini salah satunya bisa mendapatkan ilmu dan barang yang dibuat ini bisa dijual kembali,” katanya dibantu bicara oleh penerjemah bahasa isyarat. (*/Sumber: assajidingroup/Kamayel Ar-Razi)

Back to top button