Mengaku Beramal Tapi Dengan Harta Orang Lain, Waspadalah Itu Salah Satu Ciri Orang Munafik…!

AsSajidin.com—Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita banyak menjumpai orang-orang yang memilki berbagai latar belakang sifat dan sikap. Lalu apa jadinya jika, ada seseorang yang bederma kepada saudaranya dengan menggunakan harta orang lain lalu mengakui sebagai pemberiannya. Maka hal tersebut sudah barang tentu adalah pahala amal yang sia-sia.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 262, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahinya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.”
“ Dengan kata lain, pahala sedekah dapat hilang bila orang yang bersedekah tersebut menyebut-nyebut pemberiannya. Apalagi kalau sampai ia menyakiti perasaan orang yang ia berikan sedekah tersebut. Kan sekarang banyak juga para pejabat yang memberi sumbangan ini, sumbangan itu kepada kelompok masyarakat dan masjid. Seolah itu merupakan pemberian kantong pribadinya, padahal tidak . Yang sebenarnya terjadi adalah mereka memanfaatkan kekuasaanya yang sejatinya merupakan dana pemerintah. Misalnya, Walikota A memberi sumbangan 25 Juta untuk renovasi masjid ini, kenapa tidak di sebutkan saja secara jujur, Pemerintah daerah merenovasi masjid ini. Kan itu jauh lebih pas, dan berpahala tentu,” kata Ustadz Toha Dasuki, pengasuh Rumah Tahfidz Miftahul Jannah Kecamatan Sematang Borang dalam kajian “An-nur” Kamis malam, (13/8/20).
Ia menambahkan, jika dalam ayat yang lain pula ditegaskan Allah SWT dalam Surat Baqarah ayat 264,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
Dengan demikian jelas la sudah kata Ustadz Toha bahwa, orang yang seperti itu tergolong dalam bagian orang-orang yang munafik, mengapa..? karena orang yang menyia-yiakan suatu amanah atau pemberian yang bukan berasal dari hartanya namun secara nyata diakui sebagai miliknya itu termasuk kedalam orang yang ingkar akan suara kebenaran.
Oleh sebab ituAllah SWT berfirman yang artinya,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27).
Amanat pada hakikatnya adalah tanggung jawab besar. Saking beratnya, amanat ini telah Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Namun semuanya enggan memikul amanat itu karena mereka khawatir akan mengkhianatinya. Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Walaupun sebenarnya manusia itu amat dzalim dan bodoh.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab: 72).
Karena itu, maka barang siapa yang menunaikan amanat itu, maka baginya pahala yang melimpah. Sebaliknya, barang siapa yang tidak menunaikan atau bahkan mengkhianatinya, maka baginya siksa yang keras.
Di dalam haditsnya, Rasulullah SAW mengingatkan tentang menyia-nyiakan amanat.
“Bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Rasulullah bersabda,”Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!” (HR Bukhari).
“ Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa orang-orang yang tidak bisa memelihara amanat yang dibebankan kepadanya, maka sifat-sifat munafik melekat dalam kepribadiannya. Sedangkan balasan bagi orang munafik adalah neraka,” ujar Utadz Toha.
