Uncategorized

In Memoriam, Prof Djalaludin: Filosofi WC hingga Kenangan yang tak Dilupakan Murid-muridnya

ASSAJIDIN.COM –  Wafatnya sosok Akademisi dan juga Mantan Rektor IAIN Raden Fatah Palembang Prof. Dr. H. Jalaluddin meninggalkan kenangan terdalam bagi orang-orang terdekat termasuk mahasiswa serta murid yang pernah ia ajarkan sewaktu menjadi  guru atau dosen di masa dulu.

Almarhum merupakan Rektor ke 8 IAIN Raden Fatah Palembang (sekarang UIN Raden Fatah) periode 1998-2003,

Profesor Dr H Jalaluddin dikenal sebagai seorang penulis handal. Ia juga mengajar di Fakultas Syari’ah dan menjadi dosen tetap dari Fakultas Tarbiyah.

Salah satu Mahasiswi almarhum Prof. H. Jalaludin di Fakultas Syari’ah IAIN Raden Fatah Palembang, K.A Bukhori mengungkapkan kenangan pribadinya selama menjadi mahasiswa yang dididiknya.

“Saya ingat sekali, Tahun 1989 beliau mengajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan memberikan tugas penelitian. Penelitian saya waktu itu tentang Porkas (SDSB) yang akhirnya mengantarkan nilai A satu satunya di kelas,”katanya.

“Pernah juga Ketika saya di Badan Penerbitan ICMI Sumsel. Beliau minta dieditkan buku sekaligus minta dicarikan hadis tentang ibu untuk ditempatkan di halaman awal buku beliau yg berjudul “IBU”, sebenarnya masih banyak lagi kenangan yang tidak dapat dituliskan tentang almarhum, apalagi humor beliau ketika mengisi kuliah dan ceramah yang tidak disia-siakan dan saya jadikan bahan da’wah,”katanya.

Selamat guruku kembali kepada Tuhanmu dalam kondisi ridho dan diridhoi, semoga diakui sebagai hamba Allah dan dimasukkan ke dalam surga Allah, Amin, ucapnya lagi.

Lihat Juga :  Maksud Golongan Kiri yang Disebut dalam Alquran

Diketahui, Almarhum yang juga orang tua, tokoh akademisi UIN Raden Fatah, tokoh masyarakat Sumatera Selatan Prof. Dr. H. Jalaluddin, Meninggal dunia pada, Selasa 11 Agustus 2020 di RS Siti Khadijah Palembang pada subuh tadi sekira pukul 04.50 di kediamannya Jalan Tanah Merah, lorong Cendana 3, no. 4178 RT.42/11, Way hitam, Demang lebar Daun Palembang.

Rencananya Prof Dr H Jalaluddin akan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanjung Bakiak yang terletak di Jalan Tanjung Barangan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat I, siang nanti.

Lain hal, Siti Alfiatun Hasanah, Mahasiswi Prof Jalaludin mengatakan Pertama kali mengikuti perkuliahan Almarhum pada semester satu PPS UIN Raden Fatah. Almarhum merupakan dosen yang sangat berkarakter, disiplin, objektif dan benar-benar mendidik mahasiswanya.

Tak pernah menyangka, beliau yang juga pernah mengajar almarhumah ibu akhirnya mengajar anaknya. Jika dulu saya hanya tau joke cerdas almarhum dari ibu, akhirnya saya merasakannya sendiri. Setiap kata yang keluar dari lisan beliau adalah ilmu, tidak lupa beliau juga menyelipkan candaan yang membuat kami tertawa.

“Yang saya ingat adalah filosofi WC, “ketika seseorang berada di luar WC, yang ada hanyalah bau yang tercium menyengat, tapi ketika kita ada di dalamya, baupun menjadi hilang, bahkan mungkin menjadi wangi”, ujarnya saat dihubungi wartawan Assajidin via WhatsApp.

Lihat Juga :  Persalinan dengan Dokter Laki-Laki, Bagaimana Hukumnya?

Ia bercerita, Walaupun kami sempat diajar hanya dua semester, yaitu pada Mata Kuliah (MK) Filsafat Ilmu dan MK Filsafat Pendidikan Islam, tapi banyak ilmu dan teladan yang kami dapatkan. Almarhum tidak hanya mengajar tapi juga mendidik, walau terkadang didikan beliau cukup tegas.

Di usia senjanya beliau juga masih sangat produktif, terbukti dengan diterbitkannya buku dan artikel Almarhum di media massa lokal.

“Almarhum juga sempat mengisi kuliah iftitah di STIQ Al-Lathifiyyah pada tahun 2018 lalu. Subhanallah, beliau memang sosok guru, dosen, pendidik yang patut diteladani,” katanya.

“Selamat jalan Prof, nasehatmu, karyamu dan teladanmu akan selalu kami amalkan, semoga Allah memberikan tempat terbaik kepada Prof di sana, sebagaimana pesan prof saat kuliah kepada kami, bahwasanya kita manusia akan melewati empat alam, alam arwah, alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat. Maka dengan pendidikan Islam kita berusaha mempersiapkan diri menjadi hamba terbaik yang mampu melewati berbagai alam tersebut dengan cahaya keimanan”. (*)

Penulis : tri jumartini

Back to top button