SYARIAT

Shalat Hajat Boleh Imaman atau Sendirian?

ASSAJIDIN.COM — Ada shalat sunnah yang dianjurkan berjamaah dan ada yang tidak dianjurkan, serta ada juga yang boleh dikerjakan berjamaah, tapi bilammemiliki hajat sendiri, lebih dianjurkan dilakukan sendirian.

Shalat hajat boleh dilakukan berjamaah. Dan jika shalat hajat berjamaah dilakukan pada malam hari, maka imam dianjurkan mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surah/ayat-ayat yang diinginkan, sebagaimana shalat tarawih.

Dalam hadits A’isyah Radhiyallahu anhuma ketika beliau ditanya oleh Gudhaif bin Harits Radhiyallahu anhu,

عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْهَرُ بِالْقُرْآنِ أَوْ يُخَافِتُ بِهِ قَالَتْ رُبَّمَا جَهَرَ وَرُبَّمَا خَافَتَ قُلْتُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي هَذَا الْأَمْرِ سَعَةً

Dari Ghudhaif bin Al-harits Radhiyallahu anhu , dia mengatakan, “Aku mendatangi A’isyah Radhiyallahu anhuma, lalu aku bertanya, ‘Bagaimana bacaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah suaranya di keraskan atau di kecilkan?’ A’isyah menjawab, ‘Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengeraskan bacaannya dan terkadang di kecilkan.’ Aku berkata, ‘Allahu akbar, Alhamdulillâh (segala puji hanya milik Allâh) yang telah memberikan kemudahan dalam masalah ini.’ [Sunan Abu Dawud,1/89]

تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب، وأي ثواب بالنية الحسنة فكما يباح الجهر في موضع الإسرار الذي هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة وكما يثاب في المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوى بالأكل على الطاعة هذا إذا لم يقترن بذلك محذور كنحو إيذاء أو إعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم و يمنع منها. بغية المسترشدين ص : ٨٦

Diperbolehkan secara berjamaah shalat witir, shalat tasbih, tanpa ada hukum makruh dan juga tidak ada tsawabnya. Ya, jika dimaksudkan untuk pengajaran orang-orang yang shalat dan untuk memotivasi, maka ada tsawabnya.

Sebagaimana, tsawab itu sesuai niat yang baik. Karenanya diperbolehkan jahr dalam shalat yang semestinya sirr yang sesungguhnya makruh tapi jika untuk pengajaran maka lebih utama seperti itu, yang mana pada asalnya adalah boleh. Dan sebagaimana ada tsawab bagi sesuatu yang hukumnya boleh jika dimaksudnya dengannya qurbah (ibadah) seperti berhati-hati dalam makan untuk mengerjakan ketaatan.

Lihat Juga :  Adab dan Etika I'tikaf di Masjid dan Cara Rasulullah Beri'tikaf

Hal ini jika tidak terindikasi sesuatu yang berdosa seperti menyakiti/mengganggu (orang lain yang shalat di masjid), atau menjadikan muncul anggapan masyarakat luas bahwa shalat yang sedang dikerjakan tersebut disyari’atkan secara berjama’ah, dan lain sebagainya). Jika ada dosa-dosa semacam itu, maka tidak ada tsawabnya, bahkan haram dan dilarang. [Bughyah Al-Mustarsyidin hal. 86]

(و) الخامسة (الجهر) بالقراءة (في موضعه) فيسن لغير المأموم أن يجهر بالقراءة في الصبح وأولتي العشاءين والجمعة والعيدين وخسوف القمر والاستسقاء والتراويح ووتر رمضان وركعتي الطواف ليلا أو وقت الصبح (والإسرار) بها (في موضعه) فيسر في غير ما ذكر إلا في نافلة الليل المطلقة فيتوسط فيها بين الإسرار والجهر إن لم يشوش على نائم أو مصل أو نحوه

Kelima, jahr (mengeraskan) bacaan pada tempatnya. Dianjurkan bagi selain makmum untuk mengeraskan bacaan, pada shalat shubuh dan dua raka’at pertama shalat malam (yaitu maghrib dan isya), shalat Jum’at, shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adhha, shalat gerhana bulan, shalat istisqa, shalat tarawih dan witir Ramadhan, dua raka’at setelah thawaf atau pada saat shubuh. Dan sirr (memelankan) bacaan pada tempatnya, maka dipelankan pada shalat-shalat selain yang disebut tadi. Kecuali shalat nafilah pada malam hari yang muthlaq, maka sebaiknya tawassuth (sedang-sedang) antara sirr dan jahr, agar tidak mengganggu orang yang tidur dan yang shalat dan selainnya. [Al-Bujairami ala Al-Khathib 2/65]

Hadits berikut juga dalil bahwa jika shalat sunnah muthlaq berjamaah pada siang hari maka bacaan imam sirr, sehingga kalau malam maka jahr.

حديث عتبان ابن مالك رضى الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم ” جاءه في بيته بعد ما اشتد النهار ومعه أبو بكر رضي الله عنه فقال النبي صلي الله عليه وسلم أين تحب أن أصلى من بيتك فاشرت إلى المكان الذى أحب ان يصلى فيه فقام وصفنا خلفه ثم سلم وسلمنا حين سلم ” رواه البخاري ومسلم

Lihat Juga :  Jangan Lupa Shalat Hajat Ba'da Maghrib Hari ini Serentak di Rumah Masing-masing

Hadits ‘Itban bin Malik bahwa Nabi datang ke rumah ‘Itban bersama Abu Bakar, setelah siang hari yang sangat panas, Nabi bersabda, “Dimana aku sebaiknya shalat di tempat yang engkau sukai di rumahmu ini?” “Maka aku (‘itban) menunjuk sebuah tempat yang aku sukai Nabi shalat di situ. Setelah Nabi berdiri, kami membentuk shaf di belakangnya kemudian salam, dan kami juga salam setelah beliau salam.” [Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim]

Jadi kalau shalat hajatnya pada malam hari, dianjurkan dikeraskan bacaan Al-Qurannya oleh imam.

Dalam kitab I’anah Ath-Thalibin diuraikan hikmah mengeraskan bacaan Al-Qur`an pada shalat yang dilakukan malam hari, sebagaimana teks berikut,

قَوْلُهُ: (يُسَنُّ الْجَهْرُ) أَيْ وَلَوْ خَافَ الرِّيَاءَ قال ع ش وَالْحِكْمَةُ فِي الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيْبُ فِيْهِ السَّمْرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ طَلَبًا لِلَذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ، وَخُصَّ بِالْأَوَّلَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لِمَا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَاْلاِخْتِلاَطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ فِيهِ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ، وَأُلْحِقَ الصُّبْحُ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلاًّ لِلشَّوَاغِلِ (إعانة الطالبين، ج 1 ص 179، دار ابن عصاصه).

Perkataan Mushannif, (disunnahkan mengeraskan bacaan) meskipun khawatir riya’. Al-Imam Ali Syibramalisy berkata “Adapun hikmah mengeraskan bacaan pada tempatnya yaitu; Bahwasanya malam itu waktu kholwat (menyepi) dan enak dibuat ngobrol, maka disyari’atkan mengeraskan bacaan untuk mencari nikmatnya munajat seorang hamba kepada Tuhannya, dan dikhususkan pada dua rakaat pertama karena semangatnya orang yang shalat berada di dalam dua rakaat tersebut. Sedangkan siang hari itu waktu sibuk dan berkumpul dengan manusia, maka dianjurkan membaca dengan suara lirih karena memang waktu itu tidak nyaman digunakan munajat. Adapun shalat shubuh disamakan dengan shalat malam, karena waktunya bukan tempat sibuk”. (*/Sumber: dalamislam)

Tags
Close