Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

SYARIAH

Penjelasan Quran Surat Alfatihah Ayat 6

ASSAJIDIN.COM — Surat alfatihah disebut juga sebagai Ummul Quran. Surat yang paling banyak dibaca dalam kehidupan sehari hari kita. Minimal 17 kali sehari dibaca dalam setiap rakaat shalat kita.

Mengupas makna surat Alfatihah insyaallah akan membuka lebar faedah surat ini.. berikut tafsir surat alfatihah ayat 6:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ Ihdinas shirātal mustaqīma. Artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Kenapa Orang Sembahyang (Hampir Pasti adalah Mukmin) Perlu Minta Hidayah? Imam Ibnu Katsir pernah membuat dialog imajinatif. “Kok bisa orang Mukmin meminta hidayah setiap waktu shalat dan di luar shalat, padahal ia sudah beriman? Bukankah ini kerja sia-sia?”

Menurutnya, tanpa meminta hidayah siang dan malam, tidak ada jaminan Allah memberikan petunjuk-Nya. Hamba berhajat kepada Allah pada setiap saat dan keadaan dalam memelihara, memperdalam, membukakan mata, menambah, dan melanggengkan hidayah untuknya. Seorang hamba tidak berkuasa untuk memberikan manfaat dan mudharat untuk dirinya tanpa kehendak Allah. Oleh karenanya, Allah menunjukinya untuk memohon kepada-Nya setiap waktu agar Dia menganugerahkannya pertolongan, keteguhan, dan taufiq. Orang yang bahagia sejati adalah orang yang diberi taufiq untuk meminta kepada-Nya. Pasalnya, Allah menjamin pengabulan permohonan mereka yang berdoa, terutama ia yang terdesak, berhajat, dan faqir kepada-Nya di ujung malam dan sepanjang siang. Dalam Surat An-Nisa ayat 136, Allah memerintahkan orang Mukmin untuk beriman.

Lihat Juga :  Kalimat ‘Bismillahirrahmanirrahim’ Apakah Termasuk Ayat Surat Al-Fathihah?

Artinya, ini bukan bentuk sia-sia dan percuma atau tahshilul hasil karena maksud dari tuntutan keimanan itu adalah keteguhan, keberlanjutan, dan kelanggengan atas amal saleh yang telah ditentukan. Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk berdoa “Rabbanā la tuzigh qulūbanā…” (Tuhan kami, jangan Kausesatkan hati kami setelah Kauberikan petunjuk kepada kami.

Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu. Sungguh, Kau maha pemberi) Surat Ali Imran ayat 8. Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq membaca doa ini secara sirr atau perlahan setelah Surat Al-Fatihah pada rakaat ketiga shalat Maghrib. Dengan demikian, arti “Ihdinas shirātal mustaqīma” adalah rawatlah hidayah bagi kami dan jangan palingkan kami kepada selain hidayah. (Ibnu Katsir).

Ibnu Katsir mengutip At-Thabarani yang meriwayatkan pandangan Ibnu Abbas perihal Surat Al-Fatihah ayat 6. Ibnu Abbas mengatakan bahwa “As-Shirāthal mustaqīm” adalah ajaran yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk kita. Oleh karena itu, kata Ibnu Jarir At-Thabari, menurut saya takwil paling utama atas Surat Al-Fatihah ayat 6 adalah “anugerahkan taufiq kepada kami untuk teguh pada apa yang Kauridhai dan Kauberikan kepada para hamba-Mu yang mendapat nikmat baik berupa ucapan maupun perilaku. Itulah ‘As-Shirāthal mustaqīm’ karena orang yang menerima taufiq; mereka yang menerima nikmat-Nya, yaitu para nabi, as-shiddiq, syuhada, dan orang saleh, adalah mereka yang diberi taufiq untuk Islam, membenarkan para rasul, berpegang pada Al-Qur’an, mengamalkan perintah-Nya, menahan diri dari larangan-Nya, mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad, jalan hidup khulafaur rasyidin, dan jalan hidup semua orang saleh.

Lihat Juga :  4 Alasan Melakukan Sholat Jamak Taqdim atau Takhir, Berikut Tata Caranya

Semua itu yang disebut ‘As-Shirāthal mustaqīm,’” (Ibnu katsir).

Doa ini merupakan permintaan paling utama dari segala permintaan para pendoa karena doa ini dikatakan oleh-Nya dan kita berdoa dengan lafal permintaan yang merupakan kalam-Nya sebagaimana hadits, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa”. (*/Sumber: nu online)

Back to top button