Utamakan Kesehatan, Jika Kabut Asap Makin Pekat, Jam Masuk Sekolah Dimundurkan
AsSAJIDIN.COM — Memasuki musim kemarau dan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belakangan ini membuat kabut udara terpapar dengan asap. Bahkan otoritas Dinas Kesehatan Sumsel mencatat 274.502 masyarakat Sumsel terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Berangkat dari hal tersebut, pihak Dinas Pendidikan Sumsel akan segera berkordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumsel mengenai langkah solusi bagi siswa, terutama saat berangkat ke sekolah.
“Saya akan koordinasikan dengan Kadis Kesehatan tentang ambang batas kelayakan kondisi tersebut,”ujar Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Drs Widodo MPd, Kamis (8/8/2019).
Ia menambahkan, pihak Dinas Pendidikan Sumsel tak akan mengambil resiko lebih jauh untuk tetap memberlakukan jadwal normal jika dampak kabut asap semakin pekat. Jika ini terus berlarut-larut maka akan mbuat siswa dan guru terancam ISPA dan penyakit lain akibat asap tebal.
“Jadi apabila disimpulkan bahwa hal itu melampaui ambang dan membahayakan maka kita harus mengutamakan kesehatan siswa dan guru,”tegasnya.
Menurutnya, keputusan mundurnya jam belajar pernah dilakukab beberapa tahun silam saat Sumsel terpapar kabut asap tebal akibat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bukam hanya Palembang tapi juga seluruh kabupaten/kota di Sumsel.
“Artinya kita akan memprioritaskan kesehatan guru dan siswa. karena kepada mereka kita menitipkan masa depan provinsi dan negara ini. Jam belajar akan diundur jika kondisi cuaca semakin memburuk,”pungkasnya.
Menurut Widodo, sampai saat ini belum ada informasi atau laporan dari pihak berwenang bahwa kondisi udara kita sudah melampaui ambang batas kesehatan.
“Mita terus monitor hal itu untuk memastikan guru dan siswa Sumsel selalu terlindungi dan bebas dari dampak buruk asap,”pungkasnya. (*/sumber: sibernas/sugi)
