Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Perasaan Masih Bodoh Itu Penting, Habib Jafar Jelaskan Tentang Problem Orang Pintar

AsSAJIDIN.COM — Tidak sedikit orang ragu mengemukakan pendapat karena beranggapan bahwa pendapatnya itu terkadang tidak lebih baik dari pendapat orang lain.

Kurang bisa mengemukakan pendapat karena masih ilmu masih sedikit, ingin bicara takut salah, dan terkadang apa yang kita sampaikan tidak dipahami secara utuh orang yang mendengarkan.

Perasaan itu muncul karena diri masih bodoh dan tidak lebih pandai dari orang lain, hal itu pula yang terkadang menjadi masalah orang yang masih kurang ilmu.
Habib Husein Jafar Al Hadar dalam dakwahnya baru-baru ini menjelaskan bahwa merasa diri masih bodoh itu penting, masih kurang ilmu itu harus.

 

“Orang itu berhenti pintar ketika dirinya merasa pintar, maka perasaaan masih bodoh itu penting, untuk kita terus belajar,” kata Habib.

Lihat Juga :  Sampel Bisa Dijemput ke Rumah, Periksa Kesehatan Ginjal Sejak Dini

Seseoarang itu akan terus tumbuh karena rasa di dalam dirinya itu masih kurang, masih tidak lebih pintar dari orang lain, sehingga dirinya tetap menjaga ilmu yang dimiliki untuk terus lebih baik.

Habib menjelaskan bahwa, kebanyakan masalah bagi orang-orang pintar itu adalah ego, seperti sedang berada di menara gading, mampu untuk turun tapi tidak mau.

“Imam Malik itu pernah bilang bahwa ilmu itu ada tiga, Alquran, Sunnah dan kata tidak tahu,” kata Habib Jafar menjelaskan.

Habib mengatakan bahwa jika tidak tahu tidak apa-apa, jika tidak tahu jangan berlagak sok tahu, dari pada sok tau terkadang diam saja itu lebih baik.

Lihat Juga :  Kisah Abul Hasan dan Wanita Cantik yang Sabar

Dalam menyampaikan dakwah, menurut Habib terkadang orang yang banyak ilmu mengeluarkan semua hal, semua ilmu dikeluarkan.

“Terkadang dalam dakwah itu seperti muntahan saking banyaknya ilmu yang dimiliki, yang tidak tahu pun kadang-kadang dipaksakan agar terlihat tahu,” kata Habib.

Permasalahan dan tantangannya karena terlalu banyak di dalam dikeluarkan semua, dan terkadang lupa untuk mendakwahi diri kita sendiri.

“Berdakwah dulu untuk diri kita sendiri, terkadang terlalu banyak yang dikeluarkan dari dalam diri, lupa untuk menjadi input bagi diri sendiri,” katanya.

Hal ini membuat seseorang terkadang bisa menasehati orang lain, namun terkadang tidak bisa menasehati diri sendiri dan ini masalah terutama bagi orang pintar. (reno)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button