Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

NASIONAL

Viral Ponpes yang Diduga Menyimpang, Pengamat : Akibat tidak Ada Sistem “Kekebalan Aqidah”

ASSAJIDIN.COM –Satu bulan terakhir, bersliweran berita-berita tentang pondok pesantren yang memberi pengajaran diduga menyimpang dari syariat Islam.

Bahkan presiden Joko Widodo sampai turun tangan untuk “menenangkan” umat Islam seluruh Indonesia dan memerintahkan untuk menyelediki pondok pesantren yang dimaksud.

Ada dua ponpes yang menjadi perhatian publik, akibat ajarannya yang dinilai menyimpang. Lagi-lagi, jasa media sosial lah yang memviralkan, baru kemudian diusut dan diseriusi oleh pemerintah.
Ponpes Al Zaytun.

Yang pertama adalah kontroversial ajaran Ponpes Al Zaytun yang berada di Provinsi Jawa Barat.
Praktik yang membuat nama Al Zaytun mencuat hingga menimbulkan kontroversi adalah ketika pelaksanaan salat Idul Fitri 1444 Hijriah, saf jamaah laki-laki dan perempuan sejajar bahkan ada seorang jemaah perempuan yang berdiiri sendiri di depan para jemaah laki-laki. Selain itu, yang baru-baru ini viral di media sosial adalah nyanyian lagu Yahudi yang dikumandangkan oleh para santri.
Dilansir dari laman resmi Al Zaytun, ponpes ini pertama kali didirikan oleh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang pada 1 Juni 1993 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1413 Hijriah. Pembangunan Al Zaytun dimulai pada 13 Agustus 1996 di atas tanah seluas 1.200 hektare yang berada di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pada 1 Juli 1999, pembukaan awal pembelajaran di ponpes ini mulai dilaksanakan. Sedangkan peresmian secara umum baru dilakukan pada 27 Agustus 1999 oleh Presiden Indonesia ketiga, B.J Habibie.

Ponpes Al Zaytun dibangun di bawah Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) dengan klaim milik umat Islam Indonesia dan bangsa lain di dunia, dan juga Al Zaytun mengklaim diri sebagai lembaga pendidikan yang timbul dari umat, oleh umat, dan diperuntukkan bagi umat, dengan motto “Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah”.

Selain itu, ponpes itu pernah dinobatkan menjadi ponpes terbesar di Asia Tenggara oleh Washington Times pada tahun 2005. Dengan jumlah satri menjadi 10 ribu orang dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Serta sebaran santri tidak hanyanadari Indonesia, tetapi juga berasal dari mancanegara.

Dengan jumlah santri yang sangat banyak dan juga berasal dari berbagai negara, ponpes Al Zaytun yang berdiri di lahan super luas 1.200 hektar ini pastinya menyediakan fasilitas pembelajaran yang sangat mumpuni.

Mulai dari enam gedung pembelajaran yang masing-masingnya diberi nama Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman Ibnu Affan, Ali bin Abi Thalib, Ir Soekarno, dan HM Soeharto.

Lalu juga terdapat masjid monumental yang bernama Masjid Rahmatan lil’Alamin. Masjid ini berlantai enam dengan luas 6,5 hektar dan mampu menmpung jamaah hingga 100 ribu orang. Tak ada warga Indramayu yang tak tahu ponpes ini.

Tersedia pula lima gedung asrama yang masing-masing diberi nama Asrama Al Musthofa, Asrama Al Fajr, Asrama Al Nur, Asrama Al Madani, dan Asrama Persahabatan.

Serta fasilitas pendidikan lain, seperti laboratorium, perpustakaan, ruang kesenian, gedung pertunjukan seni, wisma tamu, gedung serbaguna, hingga pelayanan kesehatan.

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada kepastian lebih lanjut tentang hasil penyelidikan Ponpes Al Zaitun ini.

Ponpes Al Khafiyah

Yang kedua adalah Ponpes Al-Khafiyah yang berada di Langkat Sumatera Utara.

Nama ponpes Al Khafiyah ini mencuat gara-gara video viral yang memperlihatkan seorang wanita menjadi imam sholat dan makmumnya laki-laki.

Dalam video beredar, tampak seorang wanita itu menjadi imam sholat, namun gerakan yang dilakukan berbeda dengan gerakan pada umumnya.

Setelah dilakukan penyelidikan, lokasi pembuatan video berada di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khafiyah, Sumatera Utara.

Kasat Intel Polres Langkat, AKP M Syarif Ginting menjelaskan, pihak kecamatan, kepolisian, MUI Langkat, dan pimpinan Padepokan Sendang Sejagat, telah melakukan mediasi dan klarifikasi terkait video seorang wanita memimpin salat dan makmumnya laki-laki, Jumat (30/6/2023).

Lihat Juga :  Arti Tarwiyah Adalah Perenungan, Ini Sejarahnya Hari Tarwiyah 8 Dzulhijjah

“Sudah diklarifikasi,” ujar Kasat Intel Polres Langkat, AKP M Syarif Ginting, dikutip dari Kompas.com.

Pimpinan Padepokan Sendang Sejagat, Sunaryo alias Mas Karyo, dalam kegiatan mediasi dan klarifikasi, jika permasalahan ini timbul karena terdapat tayangan sepenggal dari video tersebut.

“Dari awal chanel YouTube dibuat hanya untuk hiburan semata-mata, dan tidak bermaksud menyinggung atau menistakan agama serta tidak bermaksud membuat kontroversial dalam masyarakat,” ujar Karyo.

Lanjut Karyo, video viral itu sebenarnya video konten berupa film pendek dengan judul “Pesantren Sesat Dapat Menghapus Dosa”.

Dengan tujuan mengedukasi kepada masyarakat agar tidak terjerumus dan terpengaruh terhadap ajaran Islam yang menyimpang.

“Video tersebut viral karena adanya oknum yang memotong atau mengedit video dengan adegan penyimpangan yang dilakukan Ponpes Al-Khafiyah, tanpa melihat isi penuh dalam video yang sebenarnya,” ujar Karyo.

Sedangkan itu, dalam alur cerita film yang dibuat pihak Padepokan Sendang Sejagat, ingin membuktikan dan menyadarkan kepada pengikutnya bahwa, Ponpes Al-Khafiyah mengajarkan ajaran Islam yang menyimpang dengan cara-cara sihir atau gendam agar pengikutnya mengikuti perintah guru ponpes tersebut.

Guru Ponpes menjanjikan dapat menghapus dosa pengikutnya dengan membayar uang sebesar Rp 50 juta.

Sehingga harapan dengan adanya film tersebut, Pimpinan Padepokan Sendang Sejagat ingin mengedukasi kepada masyarakat agar tidak terpengaruh dan terjerumus kepada Ponpes yang mengatasnamakan Islam untuk meraup keuntungan pribadi.

Tidak Punya Sistem “Kekebalan Aqidah”
Kenyataan ada sesuatu yang salah dalam pengajaran agama di lingkungan pondok pesantren adalah sesuatu yang sebenarnya sangat kita sayangkan sekaligus memprihatinkan.

Mengutip tulisan Ustadz Ahmad Sarwat Lc, pendakwah asal Jakarta, yang berprofesi pula sebagai seorang pengajar di Kampus Syariah Sekolah Fiqih. Dia mengatakan berbagai macam penyimpangan itu semestinya tidak perlu tersiar bila saja umat Islam ini punya sistem ‘kekebalan’ aqidah. Di masa rasulullah SAW, nyaris tidak pernah kita dapati kasus penyimpangan paham yang aneh-aneh seperti sekarang ini, demikian juga di masa para khulafa ar-rasyidun, bahkan juga pada masa-masa salafuna ash-shalih.

Mengapa demikian? Jawabnya karena di masa itu, Islam diajarkan dengan sangat efektif kepada semua lapisan umat. Akses untuk mengenal ajaran Islam sedemikian terbuka, sehingga nyaris tidak ada tempat lagi buat syetan untuk mengisi kekosongan aqidah umat.

Sebaliknya yang terjadi masa sekarang, suburnya berbagai macam bentuk penyelewengan pemikiran di tengah milyaran umat Islam justru dikarenakan lemahnya sistem kekebalan (immunitas) umat dari sisi aqidah. Begitu banyak umat Islam yang jahil terhadap agamanya sendiri.

Dan penyebabnya mudah ditebak, ya karena akses umat Islam untuk bisa belajar agama Islam nyaris tersumbat seluruhnya, kecuali lewat lubang-lubang jarum yang nyaris tidak mungkin bisa dilewati. Kalau Nabi Muhammad SAW telah mewajibkan seluruh umat Islam untuk belajar agamanya, justru umat Islam nyaris tidak pernah mengupayakannya.

Menuntut ilmu hukumnya fardhu bagi tiap-tiap muslim (HR. Ibnu Majah)

Lembaga/ Institusi Pendidikan Agama

Pelajaran pendidikan agama Islam sejak dari SD hingga perguruan tinggi sama sekali tidak pernah berhasil mengajarkan agama secara proporsional. Bahkan sekedar memastikan bahwa umat Islam bisa membaca Al-quran sekalipun tidak pernah ada pertanggung-jawabannya.

Urusan belajar agama seolah menjadi urusan masing-masing, negara dianggap tidak punya kewajiban untuk mengajarkan agama.
Di tingkat orang dewasa, lebih sulit lagi untuk mendapatkan akses belajar ilmu agama kecuali yang memang kuliah jurusan agama.
Kalau pun di masjid ada pengajian, seringkali tidak terprogram dengan baik. Di samping sulit sekali mendapatkan ustadz yang berkualitas, yang menguasai ilmu-ilmu keIslaman dengan baik.
Masih menurut Ustad Ahmad, faktor yang tidak kalah penting yang menyebabkan munculnya pemikiran yang menyeleweng dari aqidah karena semakin langkanya para ulama. Yang tua sudah banyak yang dipanggil Allah, sedangkan yang muda belum kelihatan tanda-tandanya. Kalau pun ada, kapasitasnya bukanlah ulama, melainkan sekedar tukang pidato yang berkostum kiyai, lalu diekspose media sehingga mencuat, namun sayangnya dari segi ilmu dan kapasitasnya amat jauh dari kriteria ulama.

Lihat Juga :  Februari Lowongan CPNS 2018 Dibuka, Ini Lembaga-Lembaga Negara dengan Gaji Paling Fantastis

Bagaimana mau disebut ulama, kalau bahasa Arab pun tidak paham? Bagaimana dia akan menerangkan suatu ayat, kalau merujuk ke kitab tafsir pun tidak mampu? Bagamana mau menerangkan hadits nabawi, kalau diminta mentakhrij sebuah hadits pun tidak punya ilmunya?

Belum lagi kalau kita bicara kuantitas perbandingan jumlah ulama dengan umat. Rasio perbandingannya menjadi sangat tidak imbang. Sehingga seorang ulama harus melayani begitu banyak umat Islam, yang tersebar di seantero nusantara ini.

Dan sayangnya sekali lagi, tidak ada satu pihak yang memikirkan untuk memberi ma’isyah atau sekedar nafkah bagi para ulama. Jangan bandingkan dengan penceramah ibu kota yang sekali ceramah bisa mengantungi jutaan rupiah, tetapi bayangkanlah para ulama yang di desa-desa, daerah terpencil bahkan di pinggiran jakarta sekalipun. Maka sedikit sekali ibu-ibu yang memompakan semangat kepada anaknya agar kelak menjadi ulama.

Bahkan ibu guru di sekolah kalau memberikan pilihan kepada anak didiknya tentang cita-cita mereka, tidak pernah menyebutkan profesi ulama sebagai pilihan. Paling-paling mereka bertanya, “Anak-anak, nanti kalau besar mau jadi dokter, insinyur atau pilot?” Belum pernah mereka menawarkan apakah anak-anak mau jadi ulama?

Munculnya Aliran Sesat

Di tengah lesu darahnya pengajaran agama di tengah umat dalam arti luas, maka lahirnya wilayah blank spot, suatu wilayah di tengah umat yang tidak tersentuh siraman dakwah dan taklim Islam. Bahkan seringkali bukan di pedalaman Kalimantan, melainkan di tengah belantara beton Jakarta, masih banyak terdapat.

Sesungguhnya semua kebohongan dari pemikiran sesat di tengah umat hanya akan tumbuh subur di wilayah blank spot ini. Orang-orang yang awam dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta tidak pernah mendapatkan pendidikan agama yang mendasar sejak kecil, paling rentan terhadap virus ini. Sayangnya, jumlah mereka justru mayoritas dan paling besar.

Dan memang nyatanya, semua aliran sesat dan menyeleweng itu umumnya paling diminati dan paling gigih diperjuangkan oleh mereka yang tidak punya dasar agama yang baik. Mereka baru saja punya semangat beragama setelah bertemu dengan pemikiran sesat itu. Tentu lewat indoktrinasi sesat yang eksiotik dan eksklusif. Jadilah mereka ibarat kerbau yang dicocok hidungnya, ibarat kuda diberi kaca mata, ibarat katak di bawah tempurung. Mereka tidak bisa melihat kebenaran karena sudah dicekoki oleh seniornya dengan beragam racun pemikiran yang berbahaya.

Antisipasi

Maka bila kita tidak ingin gerakan sesat ini setiap hari bermunculan dengan beragam bentuk dan versinya, tidak ada jalan lain kecuali kita meningkatkan kualitas dan kuantitas pengajaran agama Islam secara berkesinambungan. Jangan sampai ada lagi wilayah blank spot di negeri ini.

Ulama harus disegera dilahirkan dengan jumlah dan kualitas yang berlipat. Baik lewat pengkaderan maupun lewat pengiriman calon ulama ke berbagai universitas Islam berkualitas di berbagai negara Islam.
Penceramah yang tidak bisa bahasa arab dan kurang pelajaran syariah, perlu didorng dan diberi semangat untuk sekolah lagi dengan serius, jangan hanya sibuk ceramah kesana kemari mengejar order pesanan. Mereka harus berpikir untuk meningkatkan mutu dan kematangan ilmu.

Sekolah Islam, madrasah, pesantren, majelis taklim perlu direvolusi pendiriannya, ditingkatkan kualitasnya, diperluas cakupannya, diperkaya modalnya, dipercanggih sistemnya, diakselerasikan secara serius, profesional dan bertanggung-jawab. Jangan ada lagi pelarangan dan rasa curiga dari kalangan tertentu bahwa pesantren itu sarang teroris. Kecurigaan seperti ini tidak punya tujuan lain kecuali ingin merobohkan agama.

Semoga Allah SWT menolong kita semua dan selama kita menolong agama-Nya dari kerusakan pemikiran aliran sesat. Amiin. Wallahu a’lam bishshawab. (novi amanah/berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button