Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Umat Islam Menyembah Ka’bah?

 

AsSAJIDIN.COM — Pertanyaan Ada sebagian umat non muslim mengganggap umat Islam menyembah batu Ka’Bah. Bagaimana menanggapinya?

Jawaban

Allah ta’ala telah memilih Tanah al-Haram dari seluruh tempat yang ada di permukaan bumi sebagai negeri yang paling dicintai-Nya, menempatkan Bait al-Atiq (al-Ka’bah) di sana dan menjadikannya sebagai kiblat shalat bagi kaum muslimin. Hal ini termasuk di antara kesempurnaan nikmat dan hidayah yang diberikan Allah ta’ala kepada umat ini.

Allah ta’ala berfirman,

وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”
[al-Baqarah: 150].

Allah ta’ala juga memerintahkan kaum muslimin berhaji dan bertawaf di Ka’bah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah ta’ala, karena hal itu merupakan simbol-simbol (syi’ar-syi’ar) Allah. Allah ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
[al-Hajj: 32].

✏ Dengan demikian, ketika kaum muslimin berthawaf dan shalat menghadap Ka’bah merupakan wujud pengagungan kepada syi’ar-syi’ar Allah. Mereka melakukannya dalam rangka menaati Allah dan mematuhi perintah-Nya. Mereka sangat mengetahui bahwa Ka’bah dan seluruh makhluk lainnya tidak mampu memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya; tidak mampu menghidupkan dan mematikan; hanya Allah ta’ala semata yang mampu melakukan hal itu.

Karena itulah dalam peribadahan mereka, khususnya ibadah shalat dan thawaf seperti yang dimaksudkan dalam pertanyaan, hati mereka tetap tertuju dan bersandar pada Allah ta’ala; memohon, berharap dan takut kepada Allah ta’ala, bukan pada Ka’bah tersebut. Tentu hal ini berbeda dengan praktik paganisme yang identik dengan penyembahan berhala.

✏ Demikian pula dengan mencium Hajar Aswad, hal itu dilakukan bukan karena beribadah kepada Hajar Aswad, tapi dilakukan karena menuruti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dapat memperoleh pahala Allah ta’ala. Itulah mengapa sahabat Umar al-Khathab radhiallahu ‘anhu, ketika mencium Hajar Aswad, berkata,

والله إني لأقبلك وإني أعلم أنك حجر وأنك لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم قبلك ما قبلتك

Lihat Juga :  Ini Dia Delapan Nama Pejabat yang Baru Dilantik Pimpin Dinas Perhubungan hingga Dinas Kesehatan Kota Palembang

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu”
[HR. Al-Bukhari dan Muslim].

? Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

بيَّن عمر ـ رضي الله عنه ـ أنّ العباداتِ مبناها على متابعة الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إذْ كان دينُ الإسلام مبنيًّا على أصلينِ:
أحدهما: أن لا يعبُد إلا الله، لا يُشرِك به شيئًا.
والثاني: أن يَعبده بما شرع من الدين، لا يعبده بشَرْع مَن شرعَ مِن الدين ما لم يأذَن به الله، كالذين قال فيهم: أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ـ فأخبرَ عمرُ أنا لم نُقبِّلْك نَرجو منفعتَك ونخافُ مَضرَّتَك، كما كان المشركون يفعلون بأوثانهم، بل نعلم أنك حجر لا تَضُرُّ ولا تنفع، ولولا أن الرسول قَبلك ـ وقد أمرنا الله باتباعِه، فصارَ ذلك عبادةً مشروعةً ـ لما قبَّلْتك، لسنا كالنصارى والمشركين وأهل البدع الذين يعبدون غيرَ الله بغيرِ إذن الله، بل لا نعبد إلاّ الله بإذن الله، كما قال لنبيه: إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ـ 45 ـ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا ـ 46 ـ فبيَّن أن رسوله يدعو إليه بما أذن فيه من الشَّرع، لا بما لم يأذن به، كالذين شرعوا من الدين ما لم يأذن به الله

“Umar radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa landasan ibadah adalah mengikuti tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena agama Islam ini terbangun di atas dua pondasi, yaitu:

➡ Pertama
Hanya menyembah Allah semata dan tidak membuat-buat tandingan bagi-Nya dengan sesuatu apa pun.

➡ Kedua
Menyembah Allah dengan ibadah yang telah digariskan dan ditetapkan agama, tidak menyembah-Nya dengan ketentuan/ketetapan yang digariskan oleh seseorang namun nyatanya tidak pernah ditetapkan oleh Allah ta’ala, seperti yang diinformasikan Allah sendiri dalam firman-Nya,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ۚ

Lihat Juga :  Baca Tabloid AsSajidin Edisi 112 Agustus

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”
[asy-Syura: 21].

Dalam ucapannya di atas, Umar radhiallahu ‘anhu menginformasikan bahwa kami (kaum muslimin) mencium Hajar Aswad bukan mengharap manfaat darinya, dan juga bukan mengkhawatirkan mudharat, sebagaimana yang dilakukan kaum musyrikin. Namun, kami mengetahui Hajar Aswad adalah sebuah batu yang tidak bisa memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya. Seandainya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menciummu, niscaya kami pun tidak akan melakukannya. Kami melakukannya karena kami diperintahkan Allah untuk meneladani beliau, sehingga hal itu menjadi ibadah yang disyari’atkan.

Kami tidaklah seperti kaum Nashrani, Yahudi dan ahli bid’ah yang menyembah selain Allah, tapi kami hanya menyembah Allah ta’ala dengan seizin-Nya seperti yang difirmankan kepada Nabi-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”
[al-Ahzab: 45-46].

? Dalam ayat di atas, Allah ta’ala menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama Allah ta’ala dengan ajaran agama yang diizinkan oleh Allah, bukan dengan ajaran yang tidak diizinkan-Nya, tidak seperti tindakan orang-orang yang menetapkan suatu ajaran agama/praktik peribadahan yang asing dan tidak diizinkan oleh Allah ta’ala.”
[Jaami’ al-Masaa-il].

✏ Kesimpulannya, shalat dengan menghadap Ka’bah, berthawaf di sekitar Ka’bah dan mencium Hajar Aswad bukanlah praktik paganisme seperti yang disangka oleh musuh-musuh Islam, karena kaum muslimin melakukan hal tersebut dalam rangka beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Mereka melakukannya karena menaati dan mematuhi perintah Allah ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah ta’ala semata yang mampu memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya, dan bahwa makhluk tidaklah berkemampuan untuk hal itu.

Wallahu a’lam.(*/sumber:Belajar Tauhid)

Back to top button