HeadlineMozaik IslamSyariatUtama

Viral Video Imam Tetap Salat saat Gempa, Ternyata Terjadi di Bali

AsSAJIDIN.COM — Gempa di Lombok yang terjadi kemarin malam mengguncang sampai ke Pulau Bali. Guncangan yang cukup besar hingga 7 SR tersebut membuat 82 penduduk kehilangan nyawa, masyarakat berhamburan ke lokasi yang aman, hingga wisatawan yang berkumpul memaksa untuk kembali ke daerah asalnya.

Kekhawatiran seperti itu kerap terjadi saat musibah bencana alam seperti gempa. Namun, pemandangan cukup berbeda nampak pada sebuah musala As Syuhada yang berada di Bali. Saat gempat berlangsung cukup hebat hingga berpotensi tsunami, imam salat yang belum diketahui namanya ini tidak lari, tetap pada posisinya, dan melanjutkan salat bersama beberapa jamaah yang juga tetap bertahan melanjutkan salat.

Kondisi imam yang tetap pada kekhusyukannya beribadah ini membuat banyak umat Muslim takjub sekaligus bertanya-tanya, bagaimana dengan jamaah yang berlarian di belakangnya dan meninggalkan salat yang sedang didirikan?

firman Allah, artinya: ‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu’ (QS. Muhammad, 33). Akan tetapi dalam kondisi darurat seperti ada gempa atau hal yang bisa mengancam jiwa dan harta, maka berhenti salat diperbolehkan dan menggantinya nanti pada saat suasana sudah aman terkendali (Lihat Al-Fiqh al-Islaam wa adzillatih/ II),” jelas Ustaz Fauzan Amin, M.Hum, Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia, ketika dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Senin (6/8/2018).

Lebih lanjut, masih dalam penjelasannya, Ustaz Fauzan menuliskan ada firman Allah yang berisi Allah menginginkan kemudahan bagi manusia dan tidak menginginkan kesulitan, seperti yang ada pada Surah Al Baqarah ayat 185.
Artinya:

“Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan bagimu kesulitan.”

“Nah, ukuran darurat bagi tiap orang kan relatif. Ada yang tenang, ada yang mudah panik. Bisa jadi si ustaz dalam video bawaannya tenang, atau bahkan dalam kondisi khusyuk kepada Allah, hingga gempa sekalipun tidak pengaruhi ibadahnya. Maka, itu adalah baik,” imbuhnya.

Menurut Ustaz Fauzan, nantinya Allah akan menilai tiap isi hati hambanya. Namun, ternyata kejadian serupa tapi tidak sama pernah dialami oleh Ali RA saat kakinya terkena busur panah. Oleh karena tidak kuat menahan rasa sakit dan panah sulit dicabut, Ali minta para sahabat untuk mencabutnya saat sedang salat. Benar saja, saat dicabut Ali tidak mengerang sakit, dan ini adalah contoh kekhusyukkan salat dari Sayyidina Ali RA.

Di sisi lain, belajar dari peristiwa yang dialami oleh imam di Musala As Syuhada tersebut, jika semisal imam, jamaah, atau ada orang yang meninggal dalam salatnya karena guncangan gempa, maka menurut Ustaz Fauzan orang itu akan meninggal syahid.

“Meninggal dalam kondisi kena musibah tergolong syahid. Apalagi sedang sholat. Syahid ada 2, pertama, syahidun fiddunya yang berdasarkan fakta kasat mata, misal meninggal karena melahirkan, tenggelam, dan mati berjuang pertahankan agama, jiwa, harta, dll. Kedua, syahidun fil akhirat. Tapi, kematian orang tergolong dalam syahidun fiddunya atau syahidun fil akhirat, hanya Allah yang tahu. Walaupun di dunia mati perang belum tentu syahid menurut allah. Tergantung hati dan ke ikhlasan jiwa,” sambung Ustaz Fauzan.

Sementara itu, sebagai manusia menurut Ustaz Fauzan kita harus berbaik sangka, ada orang yang terkena musibah dalam kondisi salat atau ibadah lain bisa mati syahid fiddunya fil akhirat. Ustaz Fauzan menjelaskan, untuk tanda-tanda mati syahid di dunia cara urus jenazah harus dilakukan dengan cara berbeda, misal meninggal dalam peperangan tidak perlu dimandikan, karena darahnya jadi saksi di hadapan Allah.

“Walaupun tidak semua orang yang mati di peperangan syahidun fiddunya fil akhirat, karena ada beberapa kejadian yang dinyatakan mati syahid tapi kata rasul tidak mati syahid karena dia berperang hanya untuk gaya saja,” tandasnya.(*/sumber: islampos.com)

Berita Terkait

Close