Uncategorized

Kebiasaan Meminta Oleh-Oleh ? Hati-hati! Baca Hadist ini

 

AsSAJIDIN.COM — Sudah menjadi kebiasaan sebagian dari kita meminta oleh-oleh kepada teman, saudara, atau kerabat ketika pergi ke luar kota atau luar negeri untuk dibelikan sesuatu, entah itu makanan, pakaian, atau cenderamata khas setempat.

Seolah itu adalah hal biasa, jadi tidak ada perasaan bersalah atau merasa membebani seseorang yang berpergian. Ketika orang yang diminta tidak membawakan pesanan saat kembali, si pemesan merasa orang yang dititipkan tega atau jahat tidak membawa pesanannya.

Terlepas membawakan oleh-oleh atau buah tangan sudah menjadi tradisi, khususnya orang Indonesia dan adalah kebiasaan baik, tetapi meminta oleh-oleh adalah perilaku buruk yang harus dihentikan. Sebab, perkara yang satu ini termasuk yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Pada dasarnya, sikap meminta-mintalah yang dilarang oleh Rasulullah SAW. Dan, kebiasaan meminta oleh-oleh termasuk bagian dari perkara meminta-minta. Mengutip dari berbagai sumber, sebaiknya kebiasaan ini dihentikan.

Lihat Juga :  Untuk Sedekah Khitanan Anak, Pengakuan Marbot Curi Uang Kotak Amal Masjid

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).

Larangan lainnya juga disebutkan berdasarkan riwayat dari Hakim bin Hizam radhiallahu anhu dia berkata,

“Saya pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun memberikannya padaku. Kemudian aku meminta lagi, maka diberikannya lagi. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau pun memberikannya lagi. Sesudah itu, beliau bersabda,

Lihat Juga :  Indahnya Bunga Tabebuya atau Sakura Indonesia, Sedang Mekar di Palembang

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى

‘Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, Dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah’.” (HR. Al-Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1717).(*/sumber: okezone.com)

Back to top button